Beritabanten.com – Di sebuah gang tenang di Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, pagi datang bersama aroma mentega yang meleleh di atas adonan. Dari dapur sederhana di rumahnya, Neneng memulai hari lebih awal dari kebanyakan orang. Tangannya cekatan, menguleni, melipat, dan memanggang. Di ruang sempit itulah, “Dapoer Keitha Aneka Pastry” bertumbuh—pelan, namun pasti.

Bagi Neneng, membuat pastry bukan sekadar soal rasa. Ia sedang meracik harapan. Usaha rumahan itu bermula dari kebutuhan sederhana: membantu perekonomian keluarga. Namun seperti banyak pelaku usaha mikro lainnya, jalannya tidak selalu mulus. Modal terbatas dan pengetahuan usaha yang seadanya sempat menjadi penghambat.

Perubahan mulai terasa ketika Neneng bertemu dengan program BAZNAS Microfinance Desa (BMD) dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI. Dari sana, ia tidak hanya mendapatkan tambahan modal, tetapi juga pendampingan yang mengubah cara pandangnya dalam berusaha.

“Awalnya saya hanya fokus membuat kue. Tapi setelah didampingi, saya jadi tahu bagaimana mengatur keuangan, menjaga kualitas, dan melayani pelanggan dengan lebih baik,” ujar Neneng.

Dari dapurnya, kini lahir beragam pastry yang diminati warga sekitar: croissant berlapis renyah, smoked beef yang gurih, hingga cromboloni dan double cheese yang lumer di mulut. Semua diproduksi secara higienis, dengan rasa yang dijaga konsisten. Pelanggannya pun terus bertambah, dari tetangga hingga pesanan dalam jumlah besar.

Hasilnya mulai terlihat nyata. Usaha yang dulu sekadar bertahan, kini mampu mencatatkan omzet hingga sekitar Rp16 juta per bulan—angka yang bagi Neneng dulu terasa jauh dari jangkauan.

Sekretaris Utama BAZNAS RI, H. Subhan Cholid, melihat kisah Neneng sebagai gambaran bagaimana zakat produktif bekerja. Bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan dorongan agar pelaku usaha kecil bisa mandiri dan berkembang.

“Program ini dirancang untuk menjangkau usaha mikro di tingkat desa dan kelurahan, agar mereka punya akses permodalan dan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan seperti yang dialami Neneng menunjukkan bahwa zakat, jika dikelola dengan tepat, mampu menghadirkan dampak nyata. Bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membuka peluang baru bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Di dapurnya yang tak pernah benar-benar sepi, Neneng kini bekerja dengan keyakinan berbeda. Ia tidak lagi sekadar bertahan, tetapi sedang melangkah maju. Setiap lapisan croissant yang ia lipat, setiap adonan yang ia panggang, membawa cerita tentang kesempatan yang datang pada waktu yang tepat—dan kegigihan yang tak pernah padam.

Dari gang kecil di Utan Kayu, aroma pastry itu kini menyebar lebih jauh. Membawa kabar bahwa usaha rumahan pun bisa tumbuh besar, selama ada kesempatan, pendampingan, dan kemauan untuk terus mencoba.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com