Beritabanten.com.- Dalam laju urbanisasi dan tekanan hidup perkotaan, keberadaan ruang terbuka seperti Setu Parigi menjadi semakin penting.
Terletak di kawasan Pondok Aren, setu ini tidak hanya berfungsi sebagai kawasan resapan air, tetapi juga menjadi ruang sosial bagi masyarakat untuk beristirahat, berinteraksi, dan menenangkan diri dari rutinitas harian.
Pada siang hari, suasana di Setu Parigi tampak hidup namun tetap teduh. Beberapa warga duduk di tepian, menikmati semilir angin sambil memandang permukaan air yang tenang. Aktivitas sederhana seperti makan siang, berbincang santai, hingga sekadar melepas lelah menjadi pemandangan yang lumrah ditemui.
Bagi sebagian warga, Setu Parigi bukan hanya tempat singgah, melainkan bagian dari keseharian. Salah satu di antaranya adalah Saidun Halawah, pengemudi ojek online yang rutin menjadikan kawasan ini sebagai tempat beristirahat setelah berjam-jam bekerja di jalan.
Ruang Istirahat Favorit Driver Ojek Online
Setelah menghabiskan waktu sejak pagi untuk mencari penumpang, Saidun kerap menyempatkan diri berhenti di pinggiran setu. Menurutnya, suasana alami dengan hamparan air yang luas mampu mengembalikan energi yang terkuras.
“Kalau sudah dari pagi sampai siang narik, capeknya terasa sekali. Tapi begitu duduk di sini, lihat air, rasanya lebih tenang,” ujarnya saat ditemui Jumat (17/4/2026).
Ia biasanya datang sambil membawa bekal nasi dari rumah. Kebiasaan ini telah lama dilakukan, jauh sebelum harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan seperti sekarang. Bekal tersebut disiapkan oleh istrinya sebagai bagian dari upaya menghemat pengeluaran harian.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, strategi sederhana seperti membawa makanan sendiri menjadi langkah realistis. Saidun mengaku pola hidup hemat sudah menjadi prinsip yang ia pegang sejak lama.
“Kalau ada kenaikan harga atau BBM naik, saya tidak terlalu kaget. Dari dulu memang sudah berusaha efisien,” katanya.
Tekanan Ekonomi dan Ketidakseimbangan Pendapatan
Menurut Saidun, tantangan utama yang dihadapi pekerja sektor informal seperti dirinya adalah ketidakseimbangan antara pendapatan dan biaya hidup. Ia menilai dalam hampir satu dekade terakhir, kenaikan kebutuhan hidup tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan.
“Pendapatan sering tidak paralel dengan kebutuhan. Belum lagi sistem bagi hasil ojek online yang berubah-ubah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat banyak pengemudi harus memutar otak agar tetap bisa bertahan. Setu Parigi pun menjadi salah satu “ruang pelarian” yang murah meriah, tanpa biaya, namun memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental.
Mendukung UMKM di Sekitar Setu
Meski menerapkan pola hidup hemat, Saidun tidak sepenuhnya menghindari pengeluaran. Ia tetap berusaha membeli minuman dari warung sekitar sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha kecil.
“Tadi saya pesan teh tawar saja ke Pak De. Beliau sudah paham kondisi saya,” katanya.
Interaksi sederhana ini mencerminkan hubungan sosial yang terjalin di kawasan setu. Tidak hanya sebagai tempat singgah, Setu Parigi juga menjadi ruang interaksi ekonomi mikro yang membantu perputaran usaha kecil.
Peran Tokoh Lokal dalam Menjaga Lingkungan
Di balik aktivitas warga, terdapat sosok yang cukup dikenal di kawasan tersebut, yakni seorang pria paruh baya yang akrab disapa Pak De. Ia berperan dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan setu, sekaligus menjadi penghubung antarwarga..
Menurut Saidun, Pak De merupakan figur yang memahami sejarah dan dinamika kawasan Setu Parigi. Ia mengenal banyak orang yang datang dan pergi, serta mengikuti perkembangan perubahan lingkungan sekitar.
“Pak De itu sudah lama di sini. Dia tahu siapa saja yang sering istirahat, bahkan sering cerita soal perubahan setu,” ujarnya.
Diskusi antara warga dan tokoh lokal seperti Pak De kerap menyinggung isu penting, termasuk dugaan alih fungsi lahan di sekitar kawasan setu yang mulai terjadi secara bertahap.
Ancaman Alih Fungsi Lahan Setu
Kekhawatiran terhadap berkurangnya luas kawasan setu menjadi perhatian serius bagi warga. Saidun berharap pemerintah di Tangerang Selatan dapat mengambil langkah konkret untuk melindungi keberadaan setu sebagai aset lingkungan.
Ia mencontohkan pengalaman masa lalu di kawasan sekitar UIN Jakarta, di mana sebuah setu kecil bernama Setu Kuru kini telah berubah fungsi menjadi kawasan bangunan.
“Dulu orang masih bisa menikmati Setu Kuru, ada mata airnya. Sekarang sudah jadi bangunan tidak beraturan. Kalau mau ditertibkan pasti sulit,” katanya.
Menurutnya, kejadian tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting agar Setu Parigi tidak mengalami nasib serupa.
Ruang Publik dan Ekologis
Setu memiliki fungsi vital, tidak hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai kawasan resapan air yang berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di tengah pesatnya pembangunan kota, keberadaan setu menjadi benteng alami terhadap risiko banjir dan kerusakan ekosistem.
Selain itu, ruang seperti Setu Parigi juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia menjadi tempat berkumpul lintas kalangan—mulai dari pekerja informal, warga sekitar, hingga pengunjung yang mencari ketenangan.
Selamatkan Setu di Tangsel
Bagi Saidun dan banyak warga lainnya, Setu Parigi bukan sekadar hamparan air. Ia adalah ruang hidup yang memberikan jeda, harapan, dan rasa kebersamaan di tengah tekanan kota.
Di tempat ini, mereka menemukan cara sederhana untuk bertahan—dengan duduk santai, berbagi cerita, dan menikmati momen yang mungkin terlihat sepele, tetapi memiliki makna besar.
Harapan mereka sederhana: agar Setu Parigi tetap ada, terjaga, dan tidak hilang ditelan pembangunan. Karena bagi warga, kehilangan setu di Tangsel bukan hanya kehilangan ruang fisik, tetapi juga kehilangan bagian dari kehidupan itu sendiri. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan