Beritabanten.com — Hujan deras yang mengguyur Tangerang Selatan, Sabtu (4/4), kembali bikin warga mengelus dada. Banjir lagi, banjir lagi. Masalah klasik yang seolah tak pernah benar-benar dibereskan.
Data sementara, sedikitnya 25 titik kebanjiran. Belum lagi 13 lokasi longsor. Dampaknya? Ratusan kepala keluarga kena imbas, aktivitas warga lumpuh, jalanan ikut tergenang.
Ironisnya, di tengah kondisi itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau Pemkot Tangsel justru baru akan mulai evaluasi.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, mengaku pihaknya masih tahap pendataan. Belum ada langkah konkret.
“Hari ini masih kita data dulu. Nanti dilihat penyebabnya, apakah drainase mampet atau perlu normalisasi,” kata Pilar, dilihat redaksi dalam keterangan tersiar luas, Selasa 7 April 2026.
Pernyataan ini langsung memantik tanda tanya. Soalnya, banjir di Tangsel bukan kejadian baru. Hampir tiap musim hujan, polanya sama.
Pilar tak menampik, sejumlah saluran air memang bermasalah. Ia membuka opsi normalisasi sungai, bahkan sampai pergeseran anggaran.
“Kalau memang perlu, anggaran kita geser untuk perbaikan,” ujarnya.
Masalahnya, urusan banjir tak sesederhana itu. Pilar menyebut, sebagian saluran air bukan kewenangan kota, melainkan provinsi hingga pusat.
“Air itu nggak kenal batas wilayah. Yang penting buat warga, banjirnya beres,” tegasnya.
Artinya, Pemkot juga mendorong pemerintah di atasnya ikut turun tangan.
Selain langkah jangka pendek, rencana jangka panjang juga disiapkan. Salah satunya penguatan tebing sungai pakai bronjong, untuk mencegah longsor yang kerap bikin aliran air tersumbat.
Tapi bukan cuma soal teknis. Pilar juga menyoroti pelanggaran tata ruang yang bikin kondisi makin parah.
Ia tegas: bangunan yang melanggar aturan harus ditindak.
“Kalau melanggar RDTR, ya harus dibongkar. Ini soal daerah resapan air,” katanya.
Masyarakat pun diminta ikut aktif melapor, terutama jika ada bangunan yang melanggar aturan.
Sementara itu, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie sebelumnya sudah mengakui banjir masih jadi pekerjaan rumah utama. Selain sampah dan macet.
Klaim perbaikan memang ada. Tapi fakta di lapangan berkata lain: banjir masih datang dengan cerita yang sama, berulang dari tahun ke tahun. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan