Beritabanten.com – Kawanan bajing loncat kembali membuat warga dan sopir truk geger. Seorang supir pengantar beras dibuat merana dengan kehilangan beras yang ada di bak mobilnya.

Kasus terbaru menimpa sebuah pikap bermuatan beras yang melaju pelan menuju pusat kota. Dalam sekejap, empat karung beras lenyap tanpa jejak. Sopirnya terkejut.

“Saya nggak nyadar sama sekali. Tiba-tiba sudah raib,” ujarnya, mengutip video yang beredar luas di media sosial, Kamis, 2 April 2026, dengan mata yang masih menatap jalan penuh kewaspadaan.

Tak ada teriak, tak ada benturan, hanya hilangnya muatan dan jejak kawanan pelaku yang lincah, gesit, dan licik.

Modus mereka sederhana tapi efektif. Saat kendaraan berjalan atau berhenti sebentar, para pelaku dengan motor mendekat, menyayat terpal penutup muatan, dan melompat pergi dengan cepat.

Semua terjadi begitu singkat, nyaris tak tertangkap kamera, kecuali oleh warga yang kebetulan merekam dari pinggir jalan.

Setiap kali video aksi bajing loncat itu viral, kepanikan warga meningkat. Mereka yang biasanya santai melintas kini mengatur strategi: menghindari jam rawan, memperketat pengawasan, dan berjaga-jaga, seolah jalan bukan lagi sekadar rute perjalanan, tapi medan perang kecil.

Petugas kepolisian pun tak tinggal diam. Patroli ditingkatkan di sepanjang jalur rawan, siang dan malam. Polisi mengimbau sopir truk untuk lebih waspada, selalu memeriksa muatan, dan segera melaporkan tindakan mencurigakan.

Namun bagi sopir dan warga, kewaspadaan itu bukan sekadar nasihat, tapi ini soal keselamatan dan kepercayaan terhadap profesi mereka.

Di media sosial, video aksi bajing loncat menjadi viral. Netizen menyoroti kelincahan pelaku sambil menyerukan tindakan tegas. Ratusan komentar memenuhi unggahan, dari kemarahan, peringatan, hingga cerita pengalaman pribadi.

Suasana resah itu membentuk kesadaran kolektif: jalur yang semula hanya rute perdagangan kini dianggap rawan, dan kewaspadaan harus menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari.

Bagi warga Cilegon, fenomena ini lebih dari sekadar pencurian. Ia menjadi simbol keresahan, cerminan bahwa keamanan jalan masih menjadi taruhan.

Setiap kali sopir melintas dengan hati-hati atau warga menepikan diri, ada satu pesan yang tersirat: masyarakat harus saling menjaga, aparat harus sigap, dan kewaspadaan harus menjadi bagian dari rutinitas.

Bajing loncat mungkin gesit, tapi kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan di jalanan ini menjadi senjata paling ampuh untuk melawan ancaman yang berulang.

Di sepanjang Jalan Lingkar Selatan, kehidupan tetap berjalan. Truk melaju perlahan, sepeda motor menyalip dengan hati-hati, dan warga terus beraktivitas.

Bayangan bajing loncat tetap menghantui setiap detik perjalanan sebagai  peringatan bahwa kewaspadaan dan solidaritas warga adalah kunci agar Cilegon tetap aman. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com