Beritabanten.com – Dalam melaksanakan ibadah puasa, ada ketentuan sahur. Yaitu makan-minum sebelum berpuasa sehari penuh agar nutrisi tetap terjaga. Meski hukum sunah, lebih baik dilakukan, karena sahur adalah pertanda syukur kita akan karunia makan-minum.

Sementara itu, menahan sehari penuh lapar dahaga adalah pertanda ujian akan syukur. Atas rezeki yang bisa digunakan untuk buka puasa nanti, atau bekal hidup selama setahun penuh.

Hanya saja, puasa tidak mungkin diwajibkan oleh Tuhan tanpa pesan kepedulian. Terasa lapar-dahaga sebenarnya akan membuat kita peduli pada sesama. Bahwa sekeliling kita masih banyak yang merintah kesakitan. Ada yang merasakah lapar-dahaga tidak bisa berbuka. Tapi ada yang bisa berbuka hari ini, entah untuk esok atau lusa apakah ada bekal untuk hidup selayaknya.

Peduli pada sesama, itulah pesan puasa. Masih ada yang berada dalam lingkaran kejam kemiskinan yang belum bisa menemukan perhatian konkrit sampa detik ini. Indeks kemiskinan negara kita terus saja bertahan, bahkan makin memprihatinkan. Itu sebagai bukti bahwa kemiskinan makin kejam menyiksa masyarakat kita.

Ada cerita sufi yang mewartakan, bahwa cara seorang menikmati sahur akan berpengaruh pada keberhasilan dirinya memaknakan kepedulian pada sesama.

Bagi yang berkecukupan, kenikmatan sahur merupakan pintu awal bagi untuk merasakan kenikmatan menyantap makanan. Dan membayangkan nikmatnya berbuka puasa kelak di waktu maghrib.

Coba perhatikan sekaligus rasakan nikmatnya makan sahur di pagi buta. Menyiapkan diri dengan segala yang ada sebagai bekal. Ada pesan, “masih bisa menyiapkan bekal” untuk kewajiban puasa. Berbeda rasanya kalau ternyata untuk sahur saja tidak ada. Bagaimana mungkin melaksanakan puasa dengan baik dan benar, tanpa ada bekal memadai.

Seringkali sahur bermakna hanya sebatas bekal material untuk persiapan seharian puasa. Masih banyak yang tidak peduli pada pesan reflektif, bahwa rasa syukur bisa sahur itu banyak menyimpan pesan kepedulian sesama.

Orang di sekeliling mungkin ada yang tetap berpuasa meski tidak bisa sahur. Dan mereka boleh jadi lebih serius melaksanakan puasanya, semisal menghindar dari perkataan dan perbuatan yang menyakiti orang lain.

Alqur’an sedari awal menyatakan maksud berpuasa adalah meraih kualitas taqwa (QS Albaqarah 185). Di mana taqwa sendiri adalah usaha dan sikap konkrit yang kuat untuk melaksanakan semua perintah agama dan tidak sedikit pun melakukan perbuatan keji dan munkar pada sesama.

Artinya, orang yang sudah diberikan karunia bisa sahur dan berpuasa dengan sempurna, sedianya bisa meraih kualitas taqwa. Kenikmatan sahur menjadi pintu awal untuk melihat dirinya yang masih diberikan rezeki oleh Sang Pencipta. Dan berusaha sekuat tenaga untuk menebar kenikmatan rezeki sahur itu pada kehidupan yang lebih nyata.

Adalah M. Quraish Shihab yang menafsirkan puasa sebagai syarat penting bagi seseorang untuk meniti jalan ketaqwaan seseorang. Bagi Direktur Pusat Studi Alqur’an ini, pesan QS Albaqarah 185 untuk orang yang berpuasa sangat jelas, menjadikan dirinya semakin mendekatkan diri pada kosakata kesalehan. Baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial.

Tidak peduli pada sesama, tegas Quraish Shihab, adalah ciri dari orang yang mendustakan agama (QS Alma’un 1-7). Yaitu mereka yang melakukan ibadah tapi disertai dengan rasa ingin terlihat oleh orang lain sekaligus tidak memperhatikan penderitaan sosial yang ada di sekelilingnya.

Doktor tafsir terkemuka Indonesia ini, selalu menafsirkan ayat dari berbagai macam sudut pandang. Terutama yang paling ditekankan adalah keterkaitan ayat dalam Alqur’an. Sebuah cara menangkap pesan dari satu ayat dengan menguatkannya atas dasar penafsiran ayat lainnya.

Pesan taqwa dalam perintah puasa erat kaitannya dengan prilaku shalat seseorang yang menyimpan benih pendustaan agama (QS Alma’un 1-7). Hanya dengan mengkorelasikan ayat puasa dengan fenomena pendustaan agama itulah, pesan taqwa dalam puasa akan mudah dipahami.

Kenikmatan sahur setali tiga uang dengan cara pandang kita atas karunia rezeki yang telah diberikan Tuhan. Jangan sampai kita bersuka cita bisa sahur, sementara tidak peduli sama penderitaan sesama. Masih banyak yang tidak melaksanakan puasa karena mereka tidak bisa makan sahur. Mereka boleh jadi berpuasa dengan risiko kekurangan nutrisi di kemudian hari. Sebuah beban melaksanakan puasa yang harus diselesaikan dengan uluran tangan yang mampu untuk berbagi makan sahur.

Penulis: Khairani Putri Marfi, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas IPB Bogor  Jawa Barat

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com