Beritabanten.com – Penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berdampak langsung pada kepentingan Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di kawasan tersebut karena situasi keamanan yang belum memungkinkan untuk melintas. Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa jalur diplomasi tengah ditempuh agar kapal dan awaknya dapat keluar dengan aman.

Namun peristiwa ini sekaligus membuka ruang refleksi mengenai posisi politik luar negeri Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Seandainya Indonesia sepenuhnya menjaga jarak dari blok kekuatan besar dan konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, ruang diplomasi kemungkinan akan lebih luas.

Dengan posisi yang benar-benar netral, Indonesia berpotensi memiliki jalur komunikasi yang lebih fleksibel dengan berbagai pihak, termasuk Teheran. Bahkan bukan tidak mungkin pendekatan diplomatik berbasis solidaritas di antara negara-negara Muslim dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk melakukan lobi kepada Iran agar kapal nasional diberikan jalur aman untuk melintas.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa prinsip bebas aktif bukan sekadar doktrin diplomasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen strategis dalam melindungi kepentingan nasional di tengah konflik geopolitik dunia.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com