Beritabanten.com – Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi, H. Syarifuddin, menyebut penguatan zakat produktif menjadi strategi krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi masyarakat di tengah situasi krisis global saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Syarifuddin seusai menghadiri seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario & Strategic Options from Iran-US-Israel Regional Crisis yang digelar oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Jakarta, Rabu (17/6/2026).
“Potensi zakat sebagai alternatif untuk mendorong selain social safety net, ini harus didorong ke arah penguatan pemberdayaan. Zakat yang sifatnya pemberdayaan harus lebih diaktifkan agar dalam jangka panjang, apa pun kondisinya, mustahik itu tetap kuat,” jelas Syarifuddin usai menghadiri acara tersebut.
Ia menjelaskan, optimalisasi zakat produktif sangat mendesak dilakukan mengingat lesunya daya beli masyarakat serta melonjaknya harga barang telah memukul sektor riil secara signifikan.
“Sektor riil hampir kalau kita nanya, itu hampir semuanya mengeluh karena daya beli masyarakat kan semakin berkurang, kemampuan daya belinya berkurang, terus harga-harga semua mahal,” kata Syarifuddin menambahkan.
Oleh karena itu, kata Syarifuddin, BAZNAS RI kini memprioritaskan digitalisasi sistem guna mengonsolidasikan kekuatan zakat nasional agar program pemberdayaan ekonomi tersebut berjalan lebih berdampak dan terukur.
Sementara itu, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Febrian Alphyanto Ruddyard, S.I.P., M.A., mengatakan pemerintah Indonesia menekankan pentingnya membangun ketahanan ekonomi nasional melalui transformasi struktural demi menghadapi era ketidakpastian global yang kian kompleks dan berdampak langsung pada stabilitas domestik.
Penguatan ekonomi Islam dan hilirisasi industri halal kini diposisikan sebagai pilar utama untuk mendorong kemandirian serta meningkatkan posisi tawar Indonesia di kancah internasional agar tidak sekadar menjadi penonton pasif.
“Ekonomi Islam bukan melulu soal identitas atau preferensi keagamaan. Ekonomi Islam menawarkan sebuah kerangka kerja yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan,” ujarnya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan