Beritabanten.com – Jalan Jendral Sutopo BSD Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan jafi tempat peruntungan para penjual kopi keliling.

Mereka terpantau berlokasi dari pertigaan dekat dengan Polsek Serpong sampai ke bibir pintu Tol SBD Jakarta.

Bahkan di malam hari sepanjang jalan tersebut ada pedagang gorengan dan lainnya seolah jalur sutra bagi pejuang ekonomi kecil. Memberi banyak peluang bagi usaha wong cilik di tengah kesulitan mencari pekerjaan.

Pedagang kopi keliling bernama Yanto adalah satu dari sekian banyak yang menggantungkan nasibnya pada pengendara yang melintas di sana. Yanto baru menjalani usaha tersebut selama lima bulan.

“Saya awalnya tukang bangunan di Jakarta mas,” katanya pada media, Senin (17/2/2025)

Dia menambahkan, usaha tersebut jadi tumpuannya dengan satu istri dan dua anak, yang satu sudah bekerja sementada satunya masih kuliah di Universitas Pamulang.

“Alhamdulillah setiap hari bisa mengantongi seratus ribu. Tapi harus sabar karena itu juga dipukul rata,” ucapnya.

Dengan mengandalkan pada pelanggan yang melintas di jalan tersebut bisa menjadi andalan ekonomi keluarga dengan menderita ambeien.

Semangat mencari rezeki di jalanan menjadikan Yanto terus menyisir setiap tempat persinggahan di wilayah tersebut. Dia berbeda dengan pedagang yang mangkal karena biayanya bisa lebih besar.

“Saya hanya mengandalkan sebuah motor tanpa persediaan payung kursi dan lainnya. Biasanya penghasil mereka bisa lebih besar karena tempat jualan nyaman dan menarik pelanggan,” ucapnya.

Perbedaan antara dirinya dengan yang mangkal adalah ketika hujan melanda, mereka yang persiapan dengan alat tambahan akan bisa lebih aman.

“Engga enak banget kalau kalau turun hujan, saya engga susah nyari tempat berteduh. Mereka mah diam aja di tempat engga pusing-pusing,” keluhnya.

Penghasilannya juga dikatakan bisa lebih besar, dia mengaku paling besar mendapat Rp100 bersih setiap hari berbeda dengan yang mempersiapkan alat pelindung hujan dan kursi.

“Itu lho mas yang jualan setelah pertigaan pakai payung bisa dapat untuk bersih Rp160 ribuan. Kan gede banget itu, belum lagi kalau menghitung bonus dari orang yang beli rokok dari mobil. Kan pelanggan dia banyak karena menetap,” katanya.

Meski demikian dirinya meyakini setiap orang dengan pekerjaannya punya risiko coba dan salah yang berbeda. Asal tekun pasti dapat yang layak untuk dijadikan bekal hidup.

“Setiap usaha ternyata berbeda-beda ya. Penjual pakai juga tetapa mengeluh, terutama kalau sudah kebanyakan pelanggan kenal baik yang suka ngutang. Sama saja ternyata,” jelasnya.

Dia meyakini bahwa yang paling penting tetap saling menghargai dan tahu diri agar tidak menjadikan usaha gagal. Saling meningkatkann saja antara para penjual bahkan dengan pelanggan.

“Asal kita saling paham saja. Kalau memang kepepet banget sih tetap saya kasih hutang. Yang penting pada mau bayar dan kalau ada tanda tidak baik mending kita tolak secara halus,” ucapnya.

Motor penjual kopi keliling BSD bernama Yanto, yang disempurnakan dengan alat dan barang jualan kopi – Istimewa.

Berjualan Menderita Ambeien

Yanto adalah tulang punggung keluarga pasca dirinya berhenti dari pekerjaan kuli borongan di Jakarta sejak merantau tahun 1980-an. Dia harus terus menjalani kewajibannya dalam keadaan apa pun.

Dalam berjualan kopi di pinggir jalan, Yanto menderita sakit ambeien yang kadang kambuh pas lagi berjualan di pinggir jalan.

“Saya ini sakit ambeien tapi harus tetap berjualan. Tahan saja kalau lagi kambuh karena harus tetap berjualan,” imbuhnya.

Ketika ditanya kemungkinan membiayai operasi ambeien dari usaha jualan kopi, dia menjawab belum memungkinkan dari segi jumlah dan peruntukan hidup keluarganya.

Kalaupun cukup dari menabung selama setahun, tapi belum tentu bisa menjamin hidup ketika dioperasi dan dalam masa penyembuhan.

“Proses operasi dan penyembuhan kan butuh waktu mas. Kan uang hanya dari jualan sementara akan berhenti jika jalani operasi,” katanya.

Dia hanya berpikir kekurangan uang nanti jika memaksakan untuk menjalani operasi pemotongan ambeien.

“Saya berharap ada yang bantu tapi bingung mau nyari ke mana dan awam atas jalur pemerintahan untuk sekedar dapat bantuan. Apalagi kan ada penghematan di setiap level pemerintahan.” tuturnya.

“Jalani saja berjualan dulu untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan tetap berusaha mencari solusi biaya,” demikian dia menutup. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com