Beritabanten.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi sorotan publik setelah membandingkan pelemahan rupiah dalam dua dekade terakhir. Ia menegaskan, kondisi rupiah saat ini jauh lebih stabil dibanding periode krisis sebelumnya.

Airlangga menyebut, pada periode 2004–2014, rupiah tercatat terdepresiasi hingga 40 persen dengan tekanan inflasi yang sempat melonjak tinggi akibat gejolak harga minyak dunia yang menembus USD140 per barel. Bahkan, inflasi pada masa itu disebut pernah mencapai sekitar 17 persen.

Sementara pada periode 2014–2024, depresiasi rupiah diklaim lebih rendah, yakni sekitar 30,6 persen dengan inflasi rata-rata sekitar 3 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan kualitas stabilitas ekonomi yang lebih terjaga dibanding masa sebelumnya.

“Kalau dibandingkan, beda kualitas. Sekarang inflasi kita sekitar 2,4 persen dan depresiasi rupiah sekitar 5 persen,” ujar Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED), Senin (25/5/2026).

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan optimisme pemerintah bahwa pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas terkendali dan tidak mencerminkan kondisi krisis seperti era sebelumnya.

Namun demikian, Airlangga tak menampik bahwa tekanan global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Ia menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat, tercermin dari sektor perbankan dan korporasi yang disebut tetap solid.

“Perbankan kita solid, korporasi juga solid. Ekonomi kita masih kuat,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah kembali memasang target ambisius: pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Target ini, kata Airlangga, hanya bisa dicapai jika daerah ikut menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Ia mencontohkan sejumlah daerah yang mencatat pertumbuhan tinggi berkat program hilirisasi, seperti Maluku Utara yang disebut mendekati 19 persen, serta Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan NTB.

Meski begitu, di tengah optimisme tersebut, pasar masih mencatat dinamika nilai tukar. Rupiah pada awal perdagangan Senin (25/5/2026) dibuka di level Rp17.696 per dolar AS, menguat tipis 0,12 persen.

Pernyataan Airlangga ini pun kembali memunculkan diskusi publik: antara klaim stabilitas ekonomi dan realitas tekanan nilai tukar yang masih terus bergerak di pasar global. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com