Beritabanten.com – Pergantian bulan dalam kalender Hijriah bukan sekadar perubahan angka dalam penanggalan. Setiap pergantian waktu menyimpan pelajaran sekaligus menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk melakukan introspeksi, memperbaiki amal, dan meluruskan kembali keyakinannya kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah KH Muhammad Sobron Zayyan dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlash Kelurahan Gaga, Kecamatan Larangan Kota Tangerang pada Jumat (7/8/2026).
Ia mengajak jemaah menjadikan pergantian bulan Safar sebagai momentum untuk memperkuat tauhid, memperbaiki amal, serta tidak menggantungkan harapan kepada waktu, hari, maupun bulan tertentu.
Menurut KH Muhammad Sobron, perjalanan bulan dalam kalender Hijriah semestinya tidak diwarnai oleh berbagai kepercayaan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Seorang muslim justru harus memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam kehendak dan izin Allah SWT.
Ia menjelaskan, Imam Ibnu Katsir menyebut nama Safar berkaitan dengan kondisi rumah-rumah masyarakat Arab pada masa dahulu yang menjadi kosong ketika penghuninya pergi untuk bepergian maupun berperang.
Dalam perjalanan sejarah, bulan Safar kemudian dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat. Padahal, Nabi Muhammad SAW telah memberikan penjelasan agar umat tidak menggantungkan suatu kejadian kepada waktu atau pertanda tertentu.
KH Muhammad Sobron mengutip sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada al-adwa, tidak pula thiyarah, tidak pula hamah, dan tidak pula Safar.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Hadis itu, menurut penjelasan Syekh Abu Bakar Syata ad-Dimyathi, ditujukan untuk menolak keyakinan masyarakat jahiliah yang menganggap sesuatu dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya, baik mendatangkan kebaikan maupun keburukan.
Tradisi Buruk Zaman Jahiliah
Dalam tradisi jahiliah, thiyarah misalnya dikaitkan dengan pertanda keberuntungan atau keburukan berdasarkan arah terbang burung.
Jika burung terbang ke arah tertentu, seseorang dianggap akan memperoleh keberuntungan, sementara arah lainnya dianggap sebagai pertanda buruk.
Begitu pula dengan hamah, yakni anggapan bahwa burung hantu yang hinggap di atas rumah merupakan pertanda buruk bagi pemilik rumah. Keyakinan semacam itu, kata Sobron, bertentangan dengan prinsip tauhid karena seorang muslim meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS At-Taghabun ayat 11, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak semestinya menggantungkan sebab dan akibat kepada waktu tertentu. Hari dan bulan hanyalah bagian dari perjalanan kehidupan, sedangkan seluruh kejadian berada dalam ketetapan Allah SWT.
KH Muhammad Sobron kemudian mengajak jemaah berpikir sederhana. Jika sebuah bulan diyakini membawa pengaruh tertentu, bagaimana dengan berbagai peristiwa yang terjadi pada bulan-bulan lainnya?
Musibah dapat terjadi kapan saja, begitu pula kebahagiaan dan keberkahan dapat hadir pada waktu yang tidak pernah diduga.
Karena itu, persoalannya bukan terletak pada bulan apa yang sedang dijalani, melainkan bagaimana seorang manusia mengisi waktu tersebut.
Imam Ibnu Rajab mengingatkan bahwa setiap waktu yang digunakan seorang mukmin untuk menaati Allah merupakan waktu yang diberkahi. Sebaliknya, waktu yang digunakan untuk bermaksiat justru menjadi waktu yang tidak memberikan keberkahan.
Pesan itu menjadi titik penting khutbah: keberkahan tidak ditentukan oleh nama bulan, tetapi oleh bagaimana manusia menggunakan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, KH Muhammad Sobron mengajak jemaah menjadikan akhir Safar sebagai momentum memperbaiki amal dan membersihkan keyakinan dari berbagai anggapan yang dapat melemahkan tauhid.
Sikap Positif Seorang Muslim
Ada beberapa sikap yang dapat dilakukan seorang muslim.
Pertama, menjaga tauhid dan menjauhi kesyirikan. Seorang muslim tidak seharusnya menggantungkan rasa takut kepada hari, tanggal, atau bulan tertentu. Rasa takut, harapan, dan ketergantungan hanya ditujukan kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menggantungkan dirinya kepada sesuatu, maka dia akan diserahkan kepada sesuatu itu.” Hadis tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Kedua, memperkuat tawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, tetapi menyerahkan hasil seluruh usaha kepada Allah setelah menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya.
Sobron mengingatkan firman Allah SWT dalam QS Al-Furqan ayat 58 agar manusia bertawakal kepada Allah Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Ketiga, memperbanyak istighfar dan doa. Pergantian waktu hendaknya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi, memohon ampun, sekaligus meminta perlindungan Allah dari berbagai keburukan.
Salah satu doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian adalah, “Bismillah, tawakkaltu ‘alallah, wa la haula wa la quwwata illa billah.”
Doa tersebut mengandung penegasan bahwa seorang hamba menyerahkan urusannya kepada Allah dan menyadari bahwa tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Keempat, mempererat silaturahim dan memperbanyak kebaikan. Menurut Sobron, setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia. Karena itu, pergantian bulan dapat diisi dengan memperbaiki hubungan antarsesama, membantu orang lain, menjaga persaudaraan, dan memperbanyak amal yang membawa kemaslahatan.
Pada bagian akhir khutbah, KH Muhammad Sobron mengajak jemaah meninggalkan Safar dengan hati yang lebih kuat dalam tauhid. Bukan dengan menggantungkan harapan kepada waktu, tetapi dengan menyerahkan seluruh kehidupan kepada Allah SWT.
“Jangan gantungkan harapan pada waktu. Gantungkan harapan hanya kepada Allah,” menjadi pesan yang menguatkan inti khutbah tersebut.
Pesan itu terasa semakin relevan di tengah derasnya informasi yang membuat berbagai kepercayaan dan mitos mudah beredar di masyarakat. Seorang muslim dituntut tidak hanya mengetahui ajaran agamanya, tetapi juga mampu memilah keyakinan yang sesuai dengan tauhid dan meninggalkan anggapan yang tidak memiliki dasar.
Pada akhirnya, pergantian bulan bukan sekadar perjalanan kalender. Ia adalah perjalanan manusia menuju waktu yang terus berkurang.
Karena itu, setiap hari yang dilewati seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat ketakwaan, memperbanyak doa, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebab waktu tidak menentukan nasib manusia. Allah-lah yang menggenggam seluruh kehidupan, sementara manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar, bertawakal, dan mengisi setiap detik dengan amal yang membawa keberkahan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan