Beritabanten.com – Sebagai saksi utama dalam audit ADOR yang diselenggarakan oleh Komite Pekerja, Hanni mengungkapkan pengalaman bullying yang dialami anggota NewJeans di HYBE.
Ia menyoroti pentingnya saling menghormati antar sesama di lingkungan kerja dengan mengatakan, “Jika kita saling menghormati sebagai manusia, seharusnya tidak ada bullying dan pengucilan.”
Hanni memutuskan untuk menjadi saksi dalam audit ini guna mencegah kejadian serupa menimpa artis lain di industri hiburan.
“Saya hadir di sini karena jika tidak, masalah ini mungkin akan berlalu begitu saja. Bullying di tempat kerja bisa terjadi kepada siapa pun di masa depan, dan saya berharap tak ada lagi sunbae atau hoobae yang mengalami hal serupa,” ujarnya.
Dalam audit tersebut, Hanni juga memaparkan bullying dan pengucilan yang dialami NewJeans sejak debut. Salah satunya adalah insiden di mana seorang manajer dari agensi lain menyarankan artisnya untuk tidak menyapa NewJeans. Selain itu, Hanni mengungkapkan bahwa beberapa pegawai HYBE mengejek NewJeans di aplikasi Blind, forum anonim karyawan di Korea.
“Sejak debut, setiap kali kami bertemu petinggi HYBE, mereka tidak pernah membalas sapaan kami. Saya tahu budaya di Korea menekankan bahwa yang lebih muda harus menyapa yang lebih tua, tapi tidak membalas sapaan itu sangat tidak sopan. Awalnya, saya pikir ini hanya keresahan pribadi, tetapi ketika melihat cemoohan di Blind, saya yakin perusahaan ini membenci NewJeans,” kata Hanni.
Ia juga menyebut bahwa debut Jepang mereka mendapat tanggapan meremehkan dari direktur tim PR perusahaan.
Mengenai insiden di mana seorang manajer agensi lain menyuruh artisnya untuk mengabaikan NewJeans, Hanni mengatakan bahwa rekaman CCTV setelah kejadian itu tiba-tiba hilang.
“Saya melihat rekamannya yang hanya tersisa 8 detik, tapi bagian setelah itu, di mana manajer tersebut meminta artisnya tidak menyapa NewJeans, tidak ada. Setiap kali saya bertanya soal rekaman ini, alasan perusahaan terus berubah, bahkan mereka sempat salah bicara bahwa rekamannya sudah dihapus. Karena saya berasal dari Vietnam-Australia, saya khawatir ada hal yang tidak saya pahami, jadi saya merekam semuanya agar tidak terlewat,” ujarnya.
Hanni berharap masalah ini bisa diselesaikan bersama CEO ADOR, Kim Jooyoung, namun merasa kecewa karena tidak dianggap serius akibat kurangnya bukti. CEO Kim Jooyoung menanggapi dengan mengatakan, “Saya sudah memeriksa rekaman CCTV, tapi hanya bisa melihat bagian yang tersedia. Rekaman lainnya tidak dihapus, hanya saja periode penyimpanannya sudah habis dan tidak bisa dipulihkan.”
Kim juga menambahkan bahwa mereka akan bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Buruh dalam investigasi ini. “Yang paling penting adalah menemukan fakta, dan kami berkomitmen untuk bekerja sama penuh dalam investigasi agar kebenaran terungkap,” jelas Kim.
Menutup pertemuan, Hanni menyampaikan terima kasih kepada anggota Majelis Nasional yang menyelenggarakan audit tersebut dan berharap masalah ini dapat segera ditangani dengan serius.
“Hari ini, kita membahas tentang bullying dan pengucilan di tempat kerja. Saya yakin bahwa jika semua orang saling menghormati sebagai manusia, seharusnya tidak ada bullying atau pengucilan.
Meskipun hukum mungkin tidak bisa menyelesaikan semuanya, tetap penting untuk menangani masalah ini dengan serius,” tutup Hanni. CEO ADOR, Kim Jooyoung, menambahkan bahwa artis tidak dilindungi oleh Undang-Undang Tenaga Kerja karena tidak dianggap sebagai tenaga kerja sesuai dengan undang-undang tersebut. (sra)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan