Penulis: Munim Sirry, Dosen Universitas Notre-Dame Indiana Amerika Serikat.
Beritabanten.com – Abu Hanifah merupakan figur yang tak perlu diperkenalkan. Diketahui banyak orang sebagai pendiri mazhab, namanya mawarnai halaman kitab-kitab fikih. Secara kronologis, mazhab Hanafi muncul pertama sebelum mazhab-mazhab fikih lainnya.
Dulu waktu kuliah di Pakistan, saya cukup berkecimpung dengan mazhab Hanafi dan pendirinya. Bukan hanya karena masyarakat Muslim di Pakistan menganut mazhab Hanafi. Juga karena jurusan yang saya ambil adalah syari’ah dan hukum.
Namun lebih dari itu, saya punya kesempatan mempelajari tarikh tasyri’ (sejarah fikih dan perkembangannya) secara khusus hingga melahirkan buku “Sejarah Fiqih Islam: Sebuah Pengantar”. Saya pernah membuat status Fb menceritakan bagaimana buku tersebut lahir.
Buku itu mengulas sejarah kelahiran mazhab-mazhab fikih disertai biografi tokoh-tokoh pentingnya. Terutama para pendiri mazhab, seperti Abu Hanifah. Sebagian besar isi buku sudah saya lupa.
Di antara sedikit yang saya ingat ialah kisah tentang Abu Hanifah bersama seseorang yang semula dia kagumi. Kisah ini bisa dimaknai bermacam-macam. Tergantung perpektif yang kita gunakan.
Di zamannya belum ada sekat-sekat disiplin keilmuan yang kita kenal sekarang, seperti fikih, kalam, dll. Namun, para penulis biografi sepakat, Abu Hanifah tergolong ulama rasionalis.
Salah satu kegemaran Abu Hanifah adalah berdiskusi. Dan ciri diskursif ini sangat kental dalam mazhab Hanafi. Misalnya, terlihat dalam keragaman pandangan. Abu Hanifah dan tiga muridnya, Abu Yusuf, Syaibani dan Zufar, kerap berbeda pendapat.
Dalam mazhab Hanafi, pandangan Abu Hanifah tidak selamanya dianggap sebagai pegangan. Ada kalanya pandangan Syaibani lebih menonjol. Atau, Zufar.
Dalam kitab manual mazhab Hanafi, bukan sesuatu yang aneh jika kita temukan percekcokan intelektual yang tajam, melebihi perbedaan antar mazhab.
Saya kira itu perwujudan dari tradisi diskursif yang diwariskan Abu Hanifah.
Kendati suka berdiskusi, ada momen-momen tertentu di mana Abu Hanifah merasa canggung. Bukan karena dia kehabisan materi. Bukan juga karena dia tak sanggup berargumentasi.
Abu Hanifah merasakan suasana berbeda ketika dihadiri oleh satu orang yang duduk di halaqahnya dengan mantap. Orang ini selalu bersila di barisan depan. Posturnya tampak serius. Impresi perenungan mendalam.
“Orang ini pastilah sangat alim,” pikir Abu Hanifah.
Abu Hanifah tak bisa mengukur kedalaman dan keluasan ilmu orang tersebut. Dia tak pernah berbicara sepatah kata pun. Datang. Duduk serius. Tampak merenung. Dan pergi.
Siapakah gerangan orang itu? Kehadirannya membuat Abu Hanifah serba canggung. Nervous. Gugup.
Yang lebih dramatis ialah para peserta halaqah juga tak mengenalnya. Ketika ditanya perihal orang itu, semuanya menggelengkan kepala.
Ketika tidak hadir orang itu menjadi buah bibir peserta lain. Diamnya membuat semua orang segan. Semua orang hanya bisa menebak kealimannya. Kedalaman ilmunya.
Hingga suatu saat orang tersebut mengajukan pertanyaan kepada Abu Hanifah. Pendiri mazhab Hanafi ini tidak menyebutkan pertanyaan apa yang disampaikan si pendiam tersebut.
“Oh ternyata hanya segitu, toh.” Begitu kira-kira kretek hati Abu Hanifah. Dari pertanyaannya Abu Hanifah tahu bahwa orang tersebut tidaklah sebagaimana yang dia bayangkan.
Cerita Abu Hanifah bisa multi tafsir. Ketika pertama kali membaca kisah tersebut, saya langsung teringat mahfudhat yang saya hafalkan di Pondok: “al-shumtu hikmatun wa-qalilun fa’iluhu” (diam itu hikmah dan hanya sedikit orang yang mempraktikkannya).
Tentu saja, mahfudhat tersebut dapat dielaborasi panjang lebar. Bicaralah tentang kebenaran dengan cara yang benar. Jika tidak, ya diam saja. Dalam dunia tasawuf, “diam” juga punya posisi penting.
Belakangan saya menyadari bahwa memformulasikan pertanyaan “yang benar” itu sulit. Pertanyaan yang memang perlu ditanyakan. Dalam proses menulis, saya biasanya merenung agak lama untuk menyusun pertanyaan. Pertanyaan yang memungkinkan riset tidak berjalan di tempat.
Saya tak pernah berhenti belajar “asking the right questions”.
Sebagai dosen, saya juga belajar bagaimana agar pertanyaan (dan cara bertanya) dapat memantik diskusi yang hidup di kelas. Tentu tidak ada cara tunggal.
Apa yang diceritakan Abu Hanifah memang ada benarnya. Dari apa yang ditanyakan/dikatakan/ditulis, kita dapat mengukur cakrawala seseorang. Namun, pengalaman mengajarkan ada bagian-bagian yang saya tidak setuju dengan Abu Hanifah.
Semua pertanyaan itu bagus dan penting. Tidak ada “stupid question”. Bertanya itu mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Maka, bertanya merupakan proses mencari kebenaran. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan