Beritabanten.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas. Dampaknya tidak hanya pada sektor keamanan, tetapi juga mengguncang perekonomian global. Dalam situasi ini, Iran dinilai memegang ‘kartu truf’ strategis.
Posisi Iran menguat karena perannya di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia. Gangguan di kawasan tersebut bisa langsung memicu lonjakan harga energi global.
Ekonom dari Columbia University, Jeffrey Sachs, menilai Iran memiliki leverage besar. Pengaruh atas jalur energi membuatnya mampu menantang sistem ekonomi global berbasis dolar.
“Perang dengan Iran akan berdampak besar pada ekonomi global” ujar Sachs, dilihat redaksi dalam China Global Television Network, Senin 6 April 2026.
Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, melihat kondisi ini mempercepat tren de-dolarisasi. Negara-negara besar mulai mencari alternatif selain dolar AS.
“Penggunaan mata uang seperti yuan dalam perdagangan energi mulai diuji. Ini bisa menggerus dominasi petro dolar,” kata Bhima.
Pendapat serupa disampaikan Chatib Basri. Ia menilai perubahan ini terjadi secara bertahap, bukan tiba-tiba.
“Dunia bergerak ke arah sistem multipolar. Dolar tidak runtuh, tapi perlahan berkurang dominasinya,” jelas Chatib.
Langkah Iran membuka opsi transaksi non-dolar memperkuat sinyal tersebut. Dukungan dari negara seperti China dan Rusia juga menambah tekanan terhadap sistem lama.
Di pasar global, dampaknya mulai terasa. Harga minyak naik dan volatilitas meningkat. Investor cenderung berhati-hati menghadapi ketidakpastian.
Negara importir energi pun mulai terdampak. Biaya energi meningkat dan risiko inflasi kembali membayangi.
Pengamat menilai Iran kini bukan sekadar produsen energi. Teheran juga menjadi aktor penting dalam menentukan arah pasar global.
Jika eskalasi terus berlanjut, dunia bisa menghadapi krisis energi baru. Kondisi ini berpotensi mempercepat perubahan sistem ekonomi global.
Pada akhirnya, dominasi petro dolar tidak lagi sepenuhnya aman. Dunia mulai bergerak menuju sistem yang lebih beragam.
Iran pun berada di posisi strategis. Di tengah tekanan, justru muncul sebagai pemain kunci yang dapat mengubah peta ekonomi dunia.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan