Beritabanten.com – Tanggung jawab sebagai dokter bukan hanya mengobati seseorang ketika sedang tertimpa musibah, tapi juga upaya pencegahan. Dari semua kejadian pada korban lebih banyak disebabkan oleh upaya pencegahan semua pihak yang tidak maksimal.
Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merasa peduli pada korban pemerkosaan yang menimpa anak di bawah umur. Mereka membagikan tujuh kiat bagi orang tua agar kekerasan seksual tidak terjadi pada si buah hati.
“Peran orang tua sangat besar, jadilah pendengar yang baik, usahakan jadi sahabat anak. Cari waktu berkualitas, sekarang banyak orang tua yang sibuk, padahal penting untuk mencari waktu berkualitas. Kadang, walaupun waktu banyak namun kurang berkualitas jadi kurang bisa mendukung edukasi yang diberikan pada anak,” kata Anggota Satgas Perlindungan Anak PP IDAI Meita Dhamayanti, menukil Antara, Senin (24/6/2024).
Meita mengaku punya data memprihatinkan bahwa pada periode 1 Januari hingga 27 September 2023, terdapat kasus kekerasan seksual dominan pada rentang usia 13-17 tahun. Sisanya kelompok usia 25-44 tahun dan 6-12 tahun.
Korban mengalami banyak macam kekerasan. Mereka tertimpa tiga bentuk di antaranya dilakukannya kekerasan fisik, secara ucapan (verbal) dan non-verbal.
Kejadian itu, kata dia, biasanya ada di rumah, di transportasi umum dan fasilitas publik yang dilakukan oleh orang tua, tokoh adat, teman sebaya sampai orang yang tidak dikenal oleh anak.
Oleh karena itu, dia meminta semua pihak ikut andil karena aksi pelaku akan menyebabkan anak mengalami luka dan trauma yang mendalam, sehingga sulit untuk disembuhkan.
Bagi orang tua, diharuskan memutus rantai aksi biadab tersebut dengan tujuh langkah berikut ini. Orang tua harus menciptakan lingkungan yang mendukung dan penuh kasih, itu yang pertama.
Cara tersebut bisa dilakukan dengan menyediakan lingkungan yang aman dan penuh kasih bagi anak-anak. Mereka akan merasa dicintai, dihargai, merasa dilindungi serta membangun harga diri dan kepercayaan diri anak untuk menolak pelecehan.
Kedua, orang tua harus menjalin komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak-anak. Hal ini dapat mendorong anak untuk membicarakan segala kekhawatiran atau masalah yang mereka miliki, termasuk pelecehan seksual.
Ketiga, orang tua dapat memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan usia anak sebagai bentuk berbagi pengetahuan dan membangun keterampilan untuk melindungi diri anak sesuai dengan keperluannya.
“Ajarkan cara mengidentifikasi situasi yang berbahaya, menolak pendekatan pelaku dan mencari bantuan ketika diperlukan,” katanya.
Keempat, orang tua perlu menetapkan batasan seksual yang sehat dan penting untuk mendapatkan persetujuan dari anak terlebih dahulu.
Kelima, rang tua juga harus menekankan bahwa tidak ada yang berhak menyentuh atau membuat mereka merasa tidak nyaman tanpa izin mereka.
Keenam, orang tua dapat melakukan pemantauan dan mengawasi anak-anak mereka dengan cermat. Terutama di hadapan orang dewasa yang tidak dikenal atau di tempat umum. Dengan demikian, dapat mencegah situasi dimana pelaku pelecehan dapat memanfaatkan anak-anak.
“Hal penting selanjutnya yang harus kita lakukan sebagai orang tua yaitu mendukung program pelecehan seksual di sekolah dan organisasi berbasis masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah pelecehan seksual,” ucap Meita.
Ketujuh yaitu mendorong anak-anak untuk selalu sadar akan situasi di area sekitarnya. Anak harus bisa mempercayai instingnya dan mencari bantuan ketika diperlukan. Dalam hal ini, akan melibatkan dan mengajarkan anak cara mengidentifikasi atau menghindari situasi yang tidak aman dari pelaku pemerkosaan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan