Beritabanten.com – Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) resmi mencabut pembekuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP setelah polemik terkait karangan bunga satire untuk Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keputusan ini diumumkan melalui akun Instagram resmi BEM FISIP Unair.
Pembekuan BEM FISIP Unair sebelumnya dilakukan oleh Dekanat setelah viralnya karangan bunga satire yang berisi ucapan selamat atas pelantikan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran pada 20 Oktober 2024.
Karangan bunga tersebut berisi kritik tajam, dengan kalimat: “Selamat atas dilantiknya jenderal bengis pelanggar HAM dan profesor IPK 2,5 sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang lahir dari rahim haram konstitusi.”
Setelah pertemuan antara Presiden BEM FISIP Unair, Tuffahati Ullayyah, dan pihak Dekanat pada pukul 09.00 WIB, surat pembekuan BEM resmi dicabut. Tuffahati mengungkapkan bahwa karya seni satire tersebut direncanakan jauh-jauh hari sebagai bentuk kritik kreatif.
“Kami sudah merencanakan karya seni satire ini dua minggu sebelum pelantikan presiden,” ujarnya, berharap mahasiswa dapat belajar menyampaikan kritik secara kreatif.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Deni Wicaksono, turut menanggapi pembekuan tersebut. Ia menyatakan bahwa organisasi mahasiswa seharusnya tidak dibekukan hanya karena kritik yang mereka sampaikan.
“Aspirasi mahasiswa harus dihormati dan ditanggapi dengan dialog,” tegas Deni.
Kasus ini telah menjadi sorotan publik, termasuk sosok Dekan FISIP Unair, Bagong Suyanto.
Meskipun kontroversi ini berakhir dengan pencabutan pembekuan, insiden ini menegaskan pentingnya ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi dan menyampaikan aspirasi secara terbuka. (Nbl)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan