Penulis : Yayan Sopyan, Alumni HMI Ciputat dan Guru Besara UIN Jakarta
Beritabanten.com – Setiap kali HMI memperingati hari ulang tahunnya, saya selalu kembali pada satu ingatan: tahun 1991, ketika saya pertama kali mengenal dan kemudian menjadi bagian dari HMI Cabang Ciputat.
Bagi saya, HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah kampus kedua. Di sana saya belajar sesuatu yang tidak selalu saya dapatkan di ruang kuliah: bagaimana berorganisasi, bagaimana berdebat dengan argumentasi, bagaimana menghargai perbedaan pandangan, bagaimana membaca persoalan masyarakat, dan yang paling penting, bagaimana menghubungkan pengetahuan dengan perjuangan.
Di HMI, saya mengenal forum-forum kajian ilmiah. Saya bertemu dengan banyak mahasiswa yang memiliki kegelisahan intelektual dan semangat membaca yang tinggi. Saya juga berkesempatan mengenal dan mengagumi para senior yang ketika itu menjadi rujukan intelektual dan pemikiran, seperti Fachry Ali, Komaruddin Hidayat, Azyumardi Azra, Bahtiar Effendy, dan M. Amin Suma.
Bagi seorang mahasiswa pada masa itu, bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang seperti mereka merupakan pengalaman yang sangat berharga. Dari merekalah saya melihat bahwa menjadi kader HMI bukan hanya soal aktif dalam organisasi, tetapi juga tentang menjadi manusia pembelajar.
HMI dan Nilai yang Harus Diperjuangkan
Salah satu warisan penting yang saya peroleh dari HMI adalah pengenalan terhadap Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP bagi saya bukan sekadar materi perkaderan yang harus dihafalkan untuk melewati sebuah jenjang training. Ia merupakan pertanyaan mendasar tentang untuk apa manusia hidup, bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, bagaimana manusia membangun masyarakat, dan nilai apa yang seharusnya diperjuangkan dalam kehidupan.
Di situlah saya kemudian memahami bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, berdiskusi, atau sesekali berebut mikrofon. Organisasi adalah ruang untuk membentuk cara berpikir, menempa karakter, melatih keberanian, sekaligus belajar memiliki tanggung jawab sosial.
Saya sendiri tidak pernah menjadi bagian dari “elite” struktur HMI, sebagaimana sebagian kawan yang kemudian menduduki posisi-posisi penting di organisasi. Karier struktural saya paling tinggi, kalau boleh disebut demikian, ya sebatas menjadi pengurus komisariat Fakultas Syariah. Tidak lebih. Mungkin karena sejak awal saya sudah belajar satu hal: perut juga punya agenda organisasi sendiri.
Tetapi pengalaman yang sederhana itu justru memberi saya pelajaran besar. Ternyata, sebuah organisasi tidak harus memberikan jabatan tinggi agar seseorang memperoleh manfaat besar darinya. Kadang-kadang, sebuah komisariat yang kecil justru dapat meninggalkan goresan besar dalam perjalanan intelektual dan sosial seseorang.
Karena itu, sampai hari ini saya meyakini satu hal: berorganisasi bukan terutama tentang mengejar kedudukan, melainkan tentang mengembangkan potensi diri, membangun jejaring sosial, memperluas wawasan, dan belajar memberikan manfaat kepada orang lain.
Jabatan boleh berakhir. Struktur organisasi boleh berganti. Tetapi pengalaman belajar, persahabatan, keberanian berpikir, dan nilai perjuangan semestinya tetap tinggal dalam diri seorang kader.
Tetapi HMI Hari Ini Berbeda
Namun, setiap ulang tahun seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang masa lalu. Ulang tahun mestinya juga menjadi kesempatan untuk bertanya secara jujur: di mana HMI hari ini dan ke mana ia akan pergi?
Saya sadar sepenuhnya bahwa zaman berubah, generasi berubah, dan cara berpikir anak muda juga berubah.
Tidak adil jika generasi hari ini selalu dibandingkan dengan generasi masa lalu. Anak muda sekarang hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, budaya visual, informasi yang serba cepat, dan jejaring sosial yang tidak lagi mengenal batas geografis.
Karena itu, mungkin persoalannya bukan apakah kader HMI sekarang sama dengan kader HMI pada masa lalu. Persoalannya adalah: apakah HMI mampu menemukan bentuk perkaderan yang sesuai dengan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya? Inilah pertanyaan yang menurut saya penting untuk direnungkan.
Dulu, proses perkaderan membutuhkan waktu yang panjang. Ada tahapan yang harus dilalui, dari LK I, LK II, hingga jenjang berikutnya. Proses itu tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi ada satu hal yang mungkin sering tidak kita sadari: proses yang panjang memberikan ruang bagi pembentukan karakter.
Hari ini, generasi muda terbiasa dengan sesuatu yang cepat. Pengetahuan dapat diperoleh dalam hitungan detik. Diskusi dapat dilakukan melalui layar. Buku dapat diringkas oleh teknologi. Bahkan banyak hal yang dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan kini dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Maka, ketika pola perkaderan tidak beradaptasi, sangat mungkin muncul jarak antara organisasi dan kebutuhan generasi muda. Gejalanya mungkin dapat kita lihat dari semakin sepinya sebagian ruang-ruang perkaderan.
Tetapi sekali lagi, jangan buru-buru menyalahkan generasi muda. Barangkali justru kita yang perlu bertanya: apakah cara kita mengader masih relevan dengan kebutuhan mereka?
Bukan Mengurangi Nilai, tetapi Mengubah Cara
Menurut saya, tantangan HMI bukan memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti zaman. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan nilai sambil memperbarui cara. NDP tidak harus ditinggalkan. Perkaderan tidak harus dihilangkan. Tradisi intelektual tidak harus dibuang. Yang mungkin perlu dilakukan adalah menemukan cara baru agar semua itu kembali hidup dan bermakna bagi generasi sekarang.
Kader muda hari ini mungkin membutuhkan ruang untuk mendiskusikan persoalan yang dekat dengan kehidupannya: ketidakpastian masa depan, lapangan pekerjaan, ekonomi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketimpangan sosial, demokrasi, hukum, keadilan, kesehatan mental, kewirausahaan, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya. Mereka tidak cukup hanya diberi doktrin. Mereka perlu diajak berpikir.
Mereka tidak cukup hanya diminta menghafal nilai. Mereka perlu mengalami nilai itu dalam kehidupan nyata. Mereka tidak cukup hanya diberi materi. Mereka perlu diberikan ruang untuk bertanya, berbeda pendapat, melakukan kesalahan, bereksperimen, dan menghasilkan sesuatu.
Dengan demikian, perkaderan HMI harus kembali menjadi ruang pembentukan manusia yang intelektual, kritis, berintegritas, religius, dan memiliki keberpihakan sosial.
Mungkin formatnya boleh berubah. Medianya boleh berubah. Metodenya boleh berubah. Bahkan durasinya mungkin dapat disesuaikan dengan karakter generasi sekarang. Tetapi substansinya jangan hilang.
Sebab organisasi yang kehilangan nilai hanya akan menjadi struktur. Dan perkaderan yang kehilangan proses hanya akan menghasilkan keanggotaan, bukan kader.
HMI Perlu Berani Melakukan Refleksi
Setiap generasi HMI memiliki tantangannya sendiri. Generasi saya menghadapi persoalan yang berbeda dengan generasi hari ini. Karena itu, nostalgia tidak cukup untuk mempertahankan masa depan organisasi. HMI tidak boleh hanya hidup dari kejayaan masa lalu.
Nama-nama besar senior HMI tentu merupakan bagian penting dari sejarah. Tetapi sejarah seharusnya bukan museum. Sejarah harus menjadi energi untuk melahirkan generasi berikutnya.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya: berapa banyak kader yang berhasil direkrut?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa banyak kader yang benar-benar tumbuh menjadi manusia pembelajar? Berapa banyak yang mampu berpikir kritis? Berapa banyak yang memiliki keberanian moral ketika berhadapan dengan ketidakadilan? Berapa banyak yang mampu mengubah ilmu pengetahuan menjadi tindakan nyata bagi masyarakat? Dan yang paling penting: apakah setelah keluar dari HMI, seorang kader masih membawa nilai-nilai perjuangan HMI dalam kehidupannya? Di situlah ukuran perkaderan sesungguhnya.
HMI tidak harus selalu ramai untuk disebut hidup. Tetapi HMI harus mampu melahirkan manusia yang hidup dengan nilai, berpikir dengan ilmu, dan bergerak dengan tanggung jawab sosial. Karena itu, pada setiap ulang tahun HMI, barangkali kita tidak cukup hanya mengucapkan selamat ulang tahun.
Kita perlu berhenti sejenak dan melakukan refleksi. Apa yang sudah kita wariskan? Apa yang mulai hilang? Apa yang harus dipertahankan? Apa yang harus diperbarui? Dan yang paling penting: HMI seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Saya adalah bagian dari generasi yang pernah menemukan HMI sebagai kampus kedua. Di sanalah saya belajar bahwa ilmu harus memiliki arah, organisasi harus memiliki nilai, dan perjuangan harus memiliki tujuan.
Kini, tugas generasi berikutnya bukan sekadar mengulang cerita yang sama. Mereka harus menulis cerita baru sesuai tantangan zamannya. HMI boleh berubah wajah. HMI boleh mengubah metode. HMI boleh menemukan cara baru dalam melakukan perkaderan.
Tetapi jangan sampai dalam perubahan itu HMI kehilangan alasan mengapa ia harus tetap ada.
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah organisasi bertahan bukanlah gedungnya, bukan pula struktur kepengurusannya, dan bukan banyaknya atribut yang dikenakan kadernya.
Yang membuatnya bertahan adalah nilai yang hidup dalam diri orang-orang yang pernah ditempa di dalamnya.
Yakin Usaha Sampai.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan