Penulis: Siti Napsiayh, Dosen UIN Jakarta
Beritabanten.com – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) memasuki usia ke-59 tahun pada 17 Juli 2026. Perjalanan panjang organisasi ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kiprah DNIKS dalam membangun gerakan kesejahteraan sosial Indonesia sekaligus memperkuat kontribusinya dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.
Hampir enam dekade perjalanan DNIKS menunjukkan bahwa keberadaan organisasi sosial tidak hanya diukur dari lamanya berdiri, tetapi dari kemampuan menjaga relevansi, membangun kepercayaan publik, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam perjalanan tersebut, DNIKS menjadi salah satu wadah yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam upaya memperkuat pelayanan sosial di Indonesia.
Sejarah DNIKS berawal dari kesadaran para tokoh bangsa bahwa pembangunan kesejahteraan sosial tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Setelah mengikuti forum International Council on Social Welfare (ICSW) pada 1966, gagasan pembentukan wadah nasional kesejahteraan sosial mulai berkembang dan kemudian diwujudkan melalui Piagam Komite Nasional Kesejahteraan Sosial pada 17 Juli 1967 yang menjadi tonggak lahirnya DNIKS.
Sejak awal berdiri, DNIKS mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat sipil dalam memperkuat gerakan sosial. Organisasi ini menjadi ruang bersama bagi lembaga kesejahteraan sosial, pekerja sosial, relawan, organisasi kemasyarakatan, akademisi, filantropi, dan berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.
Selama puluhan tahun, kiprah DNIKS hadir melalui berbagai pelayanan dan pendampingan bagi kelompok rentan, mulai dari anak-anak yang membutuhkan perlindungan, penyandang disabilitas, lanjut usia, keluarga miskin, korban bencana, hingga masyarakat yang menghadapi persoalan sosial lainnya. Banyak kerja kemanusiaan tersebut berlangsung tanpa banyak sorotan, tetapi memiliki dampak besar dalam menjaga solidaritas sosial masyarakat.
Peringatan usia ke-59 DNIKS juga menjadi penghargaan bagi para pekerja sosial, relawan, dan pegiat kemanusiaan yang selama ini menjalankan pengabdian di berbagai daerah. Dedikasi mereka menjadi bagian penting dalam memastikan kelompok masyarakat yang rentan tetap mendapatkan perhatian dan dukungan.
Di bawah kepemimpinan Dr. H. A. Effendy Choirie atau Gus Choi, DNIKS terus melakukan penguatan organisasi melalui berbagai langkah pembenahan kelembagaan, peningkatan tata kelola, digitalisasi sistem informasi, pengembangan jejaring, serta upaya memperkuat basis data kesejahteraan sosial. Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya agar DNIKS mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Tantangan kesejahteraan sosial saat ini semakin kompleks. Persoalan sosial tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan, tetapi juga mencakup kesenjangan digital, kesehatan mental, perubahan iklim, penuaan penduduk, ketahanan keluarga, migrasi, hingga dampak perkembangan teknologi terhadap kehidupan masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesejahteraan sosial membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. DNIKS memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas sebagai pusat pengembangan gagasan, inovasi, penelitian, dan kolaborasi dalam bidang kesejahteraan sosial.
Dengan pengalaman panjang dan jejaring kelembagaan yang luas, DNIKS dapat diarahkan menjadi pusat unggulan kesejahteraan sosial Indonesia. Peran tersebut tidak hanya sebatas koordinasi lembaga sosial, tetapi juga menjadi tempat bertemunya praktik lapangan, penelitian akademik, inovasi teknologi, serta pengembangan kebijakan sosial berbasis kebutuhan masyarakat.
Selain itu, penguatan profesi pekerja sosial menjadi agenda penting bagi masa depan DNIKS. Peningkatan kompetensi, sertifikasi, pendidikan, dan profesionalisme pekerja sosial akan berpengaruh besar terhadap kualitas pelayanan sosial nasional.
Regenerasi juga menjadi tantangan penting agar DNIKS mampu mempertahankan keberlanjutan organisasi. Perpaduan pengalaman generasi senior dengan kreativitas generasi muda akan menjadi kekuatan dalam menghadapi perubahan zaman dan memperluas dampak gerakan kesejahteraan sosial.
Lebih jauh, DNIKS memiliki peluang untuk membawa pengalaman Indonesia dalam bidang gotong royong, pemberdayaan masyarakat, dan solidaritas sosial ke tingkat regional maupun internasional. Nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh dari masyarakat Indonesia dapat menjadi kontribusi penting dalam percakapan global mengenai pembangunan sosial.
Perjalanan DNIKS selama 59 tahun menunjukkan bahwa organisasi ini bukan hanya bagian dari sejarah kesejahteraan sosial Indonesia, tetapi juga memiliki peluang besar untuk membangun masa depan yang lebih luas. Dengan memperkuat inovasi, kolaborasi, dan kepemimpinan sosial, DNIKS dapat terus menjadi rumah besar gerakan kesejahteraan sosial Indonesia.
Selamat ulang tahun ke-59 Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial. Semoga perjalanan panjang ini menjadi fondasi untuk pengabdian yang semakin besar bagi bangsa Indonesia dan kemanusiaan dunia. (Red).
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan