Beritabanten.com – Bambang Wuryanto atau yang lebih dikenal sebagai Bambang Pacul tidak hanya dikenal sebagai politisi senior PDI Perjuangan. Ia juga dikenal melalui gagasan yang kerap disampaikannya dalam berbagai forum, yakni konsep “korea”, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semangat perjuangan seseorang yang lahir dari keterbatasan, tetapi mampu mengubah nasib melalui ilmu pengetahuan, organisasi, disiplin, dan kerja keras.
Menurut Bambang Pacul, konsep “korea” tidak merujuk pada negara Korea Selatan maupun Korea Utara, melainkan sebuah filosofi kehidupan. Gagasan tersebut lahir dari pengamatannya terhadap realitas sosial di Indonesia, di mana banyak orang berasal dari keluarga sederhana tanpa modal ekonomi, kekuasaan, atau jaringan politik yang kuat.
Ia berpandangan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk meraih keberhasilan. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dapat menjadi pendorong bagi seseorang untuk terus belajar, membangun kapasitas diri, memperluas jejaring, dan memanfaatkan organisasi sebagai sarana mengembangkan kemampuan.
Karena itu, menurut Bambang Pacul, “korea” bukan identitas politik maupun milik kelompok tertentu. Siapa pun dapat menjadi seorang “korea”, baik petani, guru, buruh, pegawai, mahasiswa, pengusaha, birokrat, maupun politisi. Yang membedakan bukan latar belakangnya, melainkan mentalitas untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri.
Lahir di Yogyakarta pada 17 Juli 1959, Bambang Pacul menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar Insinyur. Latar belakang teknik membentuk pola pikirnya yang sistematis, sementara kebiasaannya membaca, berdiskusi, dan mengamati kehidupan sosial kemudian melahirkan berbagai gagasan yang mudah dipahami masyarakat.
Karier politiknya berkembang bersama PDI Perjuangan. Ia dipercaya memimpin DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah dan beberapa kali terpilih menjadi anggota DPR RI. Di parlemen, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, hak asasi manusia, dan keamanan.
Selain dikenal sebagai politisi, Bambang Pacul juga kerap menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan, organisasi, dan pembangunan karakter. Menurutnya, politik tidak semata-mata menjadi arena perebutan kekuasaan, tetapi juga dapat menjadi sarana mobilitas sosial bagi mereka yang memiliki kemauan belajar dan bekerja keras.
Pandangan tersebut kemudian diperkuat melalui Filsafat Pacul yang sering ia sampaikan. Baginya, pacul bukan sekadar alat pertanian, melainkan simbol kepemimpinan yang menekankan pentingnya akal sehat, integritas, dan kerja nyata dalam menjalankan amanah.
Melalui berbagai diskusi dan forum kebangsaan, Bambang Pacul terus memperkenalkan konsep “korea” sebagai ajakan untuk membangun mentalitas yang tangguh. Ia menilai keberhasilan tidak semata ditentukan oleh keturunan atau kekayaan, tetapi juga oleh karakter, disiplin, kemampuan belajar, dan kesediaan menjalani proses.
Gagasan tersebut menjadikan Bambang Pacul tidak hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga sebagai tokoh yang kerap membagikan pandangan mengenai kepemimpinan dan pengembangan sumber daya manusia. Bagi banyak kalangan, konsep “korea” menjadi salah satu pemikiran yang mengajak masyarakat untuk melihat keterbatasan sebagai titik awal perjuangan, bukan sebagai penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan