Beritabanten.com – Ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, membagikan pengalamannya memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ChatGPT untuk melihat persepsi mengenai kampus-kampus di Jakarta yang dinilai aktif menyumbangkan pemikiran kepada publik.
Melalui akun Facebook pribadinya pada Jumat (17/7), Didik mengaku mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT mengenai sepuluh universitas di Jakarta yang dinilai paling sering menghadirkan gagasan di ruang publik dan masyarakat. Respons AI tersebut kemudian ia unggah sebagai bahan refleksi tentang peran perguruan tinggi dalam membangun diskursus nasional.
Berdasarkan respons ChatGPT yang dibagikan Didik, Universitas Indonesia (UI) disebut berada di urutan teratas, sementara Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berada pada posisi berikutnya. Dalam respons tersebut, UIN Jakarta dinilai memiliki kontribusi yang menonjol dalam isu-isu pemikiran Islam moderat, demokrasi, politik, hukum, dan kebijakan publik.
ChatGPT juga menyebut akademisi UIN Jakarta aktif menulis di media massa, menjadi narasumber dalam berbagai isu strategis, serta terlibat dalam forum-forum diskusi mengenai persoalan kebangsaan. Ketika pembahasan diarahkan pada kontribusi terhadap kebijakan publik nasional, respons AI tersebut kembali menempatkan UIN Jakarta sebagai salah satu kampus yang memiliki pengaruh besar di ruang publik.
Selain itu, dalam aspek kehadiran akademisi di media massa dan forum publik, respons ChatGPT menempatkan UIN Jakarta bersama sejumlah perguruan tinggi lain seperti Universitas Indonesia, Universitas Paramadina, Universitas Trisakti, dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sebagai kampus yang dinilai aktif menyampaikan gagasan kepada masyarakat.
Unggahan Didik menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan untuk membaca persepsi publik terhadap reputasi sebuah institusi. Meski demikian, hasil yang ditampilkan ChatGPT bukan merupakan pemeringkatan resmi, melainkan respons yang disusun berdasarkan informasi dari berbagai sumber yang tersedia.
Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penilaian tersebut sejalan dengan perjalanan akademiknya sejak bertransformasi dari IAIN menjadi UIN pada 2002. Kampus ini mengembangkan paradigma integrasi ilmu keislaman dan ilmu modern yang melahirkan banyak akademisi aktif dalam kajian demokrasi, hubungan agama dan negara, moderasi beragama, hukum, pendidikan, ekonomi syariah, hingga kebijakan publik.
Dalam dua dekade terakhir, akademisi UIN Jakarta juga kerap hadir dalam berbagai ruang diskusi, baik melalui media massa, jurnal ilmiah, forum kebangsaan, maupun keterlibatan di sejumlah lembaga negara. Kehadiran tersebut turut memperkuat posisi kampus sebagai salah satu pusat pengembangan gagasan di Indonesia.
Unggahan Didik J. Rachbini sekaligus menjadi pengingat bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, publikasi ilmiah, atau peringkat internasional. Kontribusi pemikiran di ruang publik, keterlibatan dalam perumusan kebijakan, serta kemampuan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa juga menjadi bagian penting dari fungsi universitas di tengah perkembangan zaman. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan