Beritabanten.com – Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dipastikan tetap berlanjut. Pemerintah Kota Tangsel bersama Danantara terus melakukan pembahasan untuk memastikan kesiapan pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern tersebut.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, salah satu poin utama dalam pembahasan bersama Danantara adalah kesiapan lahan, pasokan sampah, hingga skema pelaksanaan proyek PSEL yang direncanakan dibangun di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong.
Pertemuan tersebut berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Tangsel pada Selasa (14/7/2026). Dalam pertemuan itu, Danantara memastikan proyek dapat berjalan apabila seluruh kebutuhan pendukung, terutama ketersediaan lahan, telah dipenuhi.
Benyamin menjelaskan, Pemkot Tangsel telah menyiapkan anggaran untuk pembebasan lahan tambahan yang masih dibutuhkan. Pemerintah menargetkan sekitar 2,4 hektare lahan tambahan dapat diselesaikan pada tahun ini.
Saat ini, Pemkot Tangsel telah memiliki sekitar 2,5 hektare lahan dari kebutuhan total sekitar 5 hektare untuk pembangunan fasilitas PSEL. Sebagian lahan juga akan digunakan untuk pengelolaan residu hasil pengolahan sampah berupa fly ash dan bottom ash (FABA).
“PSEL Tangerang Selatan siap. Yang pertama mereka memastikan tanah siap. Anggaran sudah kita miliki, tinggal proses penetapan lokasi, sosialisasi, dan pengadaan lahan,” ujar Benyamin saat ditemui di Kecamatan Pondok Aren, Rabu (15/7/2026).
Ketersediaan Lahan
Selain kesiapan lahan, pemerintah juga memastikan ketersediaan bahan baku berupa sampah. Menurut Benyamin, jumlah produksi sampah di Tangsel dinilai mencukupi untuk mendukung operasional PSEL.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa dan rata-rata produksi sampah sekitar 0,6 kilogram per orang per hari, volume sampah Tangsel mencapai lebih dari seribu ton setiap harinya. Meski sebagian telah dikelola oleh masyarakat, kawasan usaha, maupun permukiman, jumlah sampah yang masuk dalam pengelolaan pemerintah masih dianggap memadai.
Benyamin berharap pembangunan PSEL dapat segera memasuki tahap konstruksi. Pemerintah menargetkan proses peletakan batu pertama atau groundbreaking dapat dilakukan pada tahun ini, sehingga fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada 2028.
Rencana pembangunan PSEL Tangsel bukan merupakan proyek yang muncul secara tiba-tiba.
Gagasan pengolahan sampah menjadi energi listrik telah dibahas sejak beberapa tahun terakhir sebagai salah satu solusi mengatasi persoalan kapasitas TPA Cipeucang yang terus menerima peningkatan volume sampah dari masyarakat.
Selama proses persiapannya, proyek PSEL menghadapi berbagai tahapan, mulai dari kajian teknis, penyesuaian regulasi, kesiapan lahan, hingga pembahasan skema kerja sama. Pemerintah Kota Tangsel terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak terkait agar proyek tersebut dapat berjalan sesuai target.
Pengelolaan Sampah Modern
Kebutuhan akan fasilitas pengolahan sampah modern semakin mendesak seiring pertumbuhan penduduk Kota Tangerang Selatan.
Produksi sampah yang terus meningkat membuat pemerintah perlu mencari solusi jangka panjang agar pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada sistem pembuangan akhir.
Kehadiran PSEL nantinya diharapkan mampu mengurangi beban TPA Cipeucang sekaligus mengubah sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan menjadi sumber energi alternatif.
Melalui teknologi pengolahan sampah, limbah yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik yang memberikan nilai tambah bagi daerah.
Selain manfaat lingkungan, operasional PSEL juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi. Pengelolaan sampah berbasis teknologi dapat membuka peluang kerja baru, meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan, serta memperkuat upaya Kota Tangsel menuju konsep kota berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, PSEL diharapkan menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah terpadu di Tangerang Selatan. Pemerintah berharap fasilitas tersebut tidak hanya menjadi solusi atas persoalan sampah saat ini, tetapi juga menjadi investasi lingkungan bagi generasi mendatang.
Meski mengandalkan PSEL sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Tangsel tetap menjalankan program pengurangan sampah dari sumbernya. Salah satunya melalui gerakan pembuatan lubang biopori di lingkungan masyarakat.
Menurut Benyamin, pengurangan sampah tetap diperlukan karena volume sampah akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
“Pertama tetap lubang biopori. PSEL ini kan solusi jangka panjang, sementara produksi sampah pasti akan terus meningkat. Karena itu pengurangan sampah dari sumbernya tetap kita lakukan,” pungkasnya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan