Beritabanten.com – Kemarau panjang yang melanda Kota Cilegon membuat warga Kampung Gunung Batur, Kelurahan Mekarsari, harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Di tengah keterbatasan pasokan, keberadaan mata air alami di kawasan Sumur Bendung menjadi tumpuan utama masyarakat untuk bertahan menghadapi kondisi sulit tersebut.
Setiap hari, warga rela menempuh perjalanan sekitar satu kilometer melewati jalan setapak menuju kawasan hutan tempat sumber mata air berada. Dengan membawa galon dan wadah penampungan, mereka datang secara bergantian demi mendapatkan air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti memasak, minum, mandi, hingga mencuci.
Bagi warga Gunung Batur, mata air tersebut bukan sekadar sumber air, melainkan menjadi penopang kehidupan saat musim kemarau. Debit air yang semakin mengecil akibat minimnya hujan membuat masyarakat harus mengatur penggunaan dan pengambilan air secara tertib agar seluruh warga tetap mendapatkan bagian.
Sistem antrean pun diterapkan secara mandiri oleh warga. Pengambilan air dilakukan selama 24 jam dengan pembagian giliran bagi beberapa orang setiap harinya. Dalam kondisi tertentu, warga hanya mampu membawa pulang belasan galon air, tergantung waktu pengambilan dan kondisi aliran mata air.
Salah seorang warga, Herlina (30), mengatakan mata air Sumur Bendung menjadi satu-satunya sumber air yang masih dapat diandalkan ketika sumber air lain mulai berkurang. Ia mengaku harus berjalan kaki setiap hari untuk mengambil air demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Kalau tidak ada mata air ini, kami tidak tahu harus mencari air ke mana. Air dari gunung ini sangat membantu warga,” ujarnya.
Warga lainnya, Masitoh (45), menyebut bantuan air bersih dari pemerintah belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberadaan mata air alami tersebut menjadi penyelamat bagi warga selama kekeringan berlangsung.
Kondisi geografis wilayah Gunung Batur yang didominasi batuan keras juga menjadi tantangan tersendiri. Pembuatan sumur bor sulit dilakukan sehingga masyarakat sangat bergantung pada sumber air alami yang berada di kawasan perbukitan tersebut.
Di tengah ancaman kekeringan, warga terus menjaga keberadaan mata air dengan memanfaatkan air secara bijak dan menerapkan pembagian yang adil. Mereka berharap hujan segera turun agar cadangan air kembali meningkat dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan