Beritabanten.com – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa gagasan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih bukanlah ide yang baru muncul. Menurutnya, konsep tersebut telah terlintas sejak puluhan tahun lalu ketika dirinya masih bertugas sebagai prajurit TNI dan banyak berinteraksi dengan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7). Ia mengisahkan bahwa selama bertugas di desa-desa dan wilayah pegunungan, dirinya menyaksikan secara langsung masih banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, bahkan mengalami kemiskinan dan kelaparan.
Pengalaman tersebut, menurut Prabowo, membentuk keyakinannya bahwa koperasi dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ekonomi rakyat dari tingkat desa. Melalui koperasi, masyarakat diharapkan memiliki akses yang lebih baik terhadap permodalan, distribusi hasil usaha, hingga peningkatan kesejahteraan secara kolektif.
Meski demikian, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana konsep tersebut masih relevan dengan karakter masyarakat Indonesia saat ini yang telah mengalami perubahan sosial dan teknologi yang begitu pesat.
Dalam perspektif teori Social Capital yang dikembangkan Robert D. Putnam, keberhasilan koperasi tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya modal atau dukungan pemerintah. Faktor yang lebih mendasar adalah adanya kepercayaan (trust), semangat gotong royong, partisipasi anggota, serta kuatnya ikatan sosial di dalam komunitas. Tanpa modal sosial tersebut, koperasi akan sulit berkembang secara berkelanjutan.
Di sisi lain, perkembangan masyarakat modern menghadirkan tantangan baru. Sosiolog Zygmunt Bauman melalui konsep Liquid Modernity menjelaskan bahwa hubungan sosial masyarakat kontemporer cenderung lebih fleksibel, individual, dan tidak lagi seerat komunitas tradisional pada masa lalu. Mobilitas yang tinggi serta perubahan gaya hidup membuat keterikatan terhadap organisasi berbasis komunitas semakin berkurang.
Perkembangan teknologi digital juga mengubah pola interaksi masyarakat. Ilmuwan komunikasi Barry Wellman melalui teori Networked Individualism menjelaskan bahwa masyarakat saat ini tetap aktif membangun relasi sosial, namun lebih banyak melalui jejaring digital yang didasarkan pada kebutuhan dan kepentingan individu, bukan lagi melalui organisasi formal dengan komitmen jangka panjang.
Perubahan pola sosial tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi implementasi Kopdes Merah Putih. Pembentukan koperasi melalui kebijakan pemerintah memang dapat mempercepat terbentuknya kelembagaan di tingkat desa. Namun, keberhasilan koperasi dalam jangka panjang tetap bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, tata kelola yang profesional, transparansi pengelolaan, serta kemampuan koperasi memberikan manfaat nyata bagi para anggotanya.
Selain itu, koperasi juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Digitalisasi layanan, pengelolaan usaha yang lebih modern, hingga pemanfaatan platform digital dinilai menjadi faktor penting agar koperasi tetap kompetitif dan menarik bagi generasi muda yang memiliki karakter serta pola interaksi berbeda dibanding beberapa dekade lalu.
Dengan demikian, gagasan Prabowo yang berangkat dari pengalaman lapangan sebagai prajurit masih memiliki relevansi sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Namun dalam konteks Indonesia saat ini, keberhasilan program Kopdes Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh banyaknya koperasi yang dibentuk, melainkan oleh kemampuan setiap koperasi membangun kepercayaan masyarakat, beradaptasi dengan era digital, serta menjawab kebutuhan ekonomi warga secara berkelanjutan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan