Beritabanten.com – Nilai tukar rupiah kembali tergelincir ke titik terendah sepanjang terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.

Tekanan di pasar valuta asing belum mereda, sementara pemerintah mulai menggelontorkan dana harian untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara.

Mengacu pada data perdagangan, rupiah ditutup melemah 0,31 persen ke level Rp17.695 per dolar AS. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.730 per dolar AS dalam perdagangan intraday sebelum akhirnya sedikit menguat menjelang penutupan.

Pelemahan sudah terlihat sejak awal sesi. Rupiah dibuka di level Rp17.650 per dolar AS dan terus bergerak di zona merah seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY)—yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia—bergerak relatif stabil di kisaran 99,1.

Stabilnya indeks dolar menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik dan arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia.

Pemerintah pun mulai turun tangan menjaga pasar obligasi agar tidak mengalami tekanan lebih dalam.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp2 triliun per hari untuk menopang sentimen di pasar surat berharga negara (SBN).

Namun, menurut Purbaya, kondisi pasar belum cukup genting untuk mengaktifkan skema Bond Stabilization Fund (BSF), yang melibatkan badan layanan umum dan lembaga keuangan negara lain di bawah koordinasi Kementerian Keuangan.

“Sekarang masih tahap cash management. Belum separah itu,” kata Purbaya di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.

Dari dana Rp2 triliun yang disiapkan setiap hari, realisasi intervensi sejauh ini baru sekitar Rp600 miliar. Angka itu, kata Purbaya, menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi pemerintah masih terbatas.

Menurut dia, nilai tersebut juga sebanding dengan jumlah SBN yang dilepas investor asing dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah telah melakukan intervensi pasar sejak akhir pekan lalu untuk memastikan harga obligasi tetap stabil dan tidak memicu kepanikan lebih luas di pasar keuangan.

Pelemahan rupiah belakangan terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset negara berkembang. Tekanan eksternal, ditambah kebutuhan dolar domestik yang tinggi, membuat kurs rupiah terus bergerak mendekati level psikologis Rp18 ribu per dolar AS. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com