Beritabanten.com The Glasses, sebuah band yang dibentuk oleh pensiunan pegawai PT Krakatau Steel, siap memanjakan warga Cilegon dengan alunan musik khas mereka.

Band ini terdiri dari tiga personel yang dikenal dengan julukan TST (Taufik, Sokat, dan Tendi), yang rutin tampil di Café Laras and Resto tiga kali sebulan, yakni setiap Selasa malam pada minggu pertama dan kedua, serta Sabtu malam di minggu keempat setiap bulannya.

The Glasses  tidak hanya sekadar band, namun juga bagian dari gerakan budaya yang membawa seni musik kepada generasi pensiunan.

Nama “The Glasses” dipilih karena memiliki makna yang dalam, yang menggambarkan visi mereka untuk mendekatkan musik kepada lebih banyak orang.

Ketua Komunitas The Glasses, Hartono menjelaskan bahwa proyek ini berawal dari Yayasan C13 (Cilegon 13), yang sebelumnya dikenal dengan kegiatan olahraga seperti sepak bola dan bola ping pong.

Namun, seiring berjalannya waktu, yayasan ini berkembang ke bidang kebudayaan, terutama musik, yang lebih mudah diakses berbagai kalangan.

Salah satu hasil dari inisiatif ini adalah didirikannya rumah budaya bernama Manjing, yang diharapkan bisa menjadi pusat kegiatan seni, khususnya musik.

Komunitas Musik The Glasses juga telah meresmikan ruang musik baru dengan nama yang sama, “The Glasses,” sebagai kontribusi mereka terhadap dunia seni di Cilegon.

Menurut Hartono, nama “The Glasses” diambil dari simbol kacamata yang dipakai oleh tiga tokoh utama dalam grup.

“Harapan kami, The Glasses bisa menghasilkan berbagai genre musik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, tanpa memandang usia atau latar belakang,” ujar Hartono.

Sulistiyadi, penasehat Manjing sekaligus pensiunan PT Krakatau Steel, menambahkan bahwa tujuan utama Komunitas Musik The Glasses adalah menciptakan tempat berkumpul bagi pensiunan dan masyarakat umum untuk berolahraga dan bermusik.

“Musik adalah seni yang tidak mengenal usia, semua orang berhak menikmati dan berpartisipasi,” ujarnya.

Bang Sokat, musisi senior di The Glasses, mengungkapkan bahwa para anggota band ini memiliki kemampuan memainkan berbagai genre musik dan aktif tampil di kafe-kafe sekitar Cilegon dan Serang.

“Musik adalah cara kami tetap terhubung dan menghindari kebosanan. Ini lebih dari sekadar hobi, tapi sudah menjadi cara hidup,” kata Sokat.

Kang Tendi, gitaris senior Cilegon-Serang, menceritakan bahwa awalnya mereka bermain musik hanya sebagai hobi di Café Laras, namun seiring waktu, mereka ingin menciptakan generasi baru yang bisa melanjutkan tradisi musik mereka.

“Kami berharap Café Laras menjadi tempat lahirnya musisi-musisi muda berbakat,” ujarnya.

Taufik, pemain organ tunggal senior yang juga bagian dari The Glasses, berbagi pengalaman setelah bertahun-tahun bermain solo. Kini, ia menikmati bermain bersama komunitas musisi lainnya.

“Bermusik adalah cara kami menjaga diri tetap aktif dan terhindar dari kebosanan. Di Café Laras, kami mendukung para pemula untuk berkembang,” ujar Taufik.

Dengan semangat ini, The Glasses terus memberikan kontribusi dalam dunia musik di Cilegon dan menginspirasi generasi muda untuk menghargai seni musik serta melanjutkan tradisi budaya yang telah ada. (Nbl)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com