Beritabanten.com – Usaha pangkas rambut merupakan solusi dari maraknya perubahan sistem kerja kontrak yang beberapa dekade diberlakukan oleh perusahaan di tanah air.
Demikian dirasakan oleh owner Pangkas Rambut David yang bernama Nanang yang berlokasi di Desa Palinggihan, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41162.
Dirinya adalah satpam di Kota Cilgon tapi mengalami pemutusan hubungan kerja seiring dengan kebijakan baru sistem kontrak di PT Krakatau Steel sekira enam tahun lalu.
Waktu itu atas saran istrinya yang pernah bekerja di salon untuk mencoba peruntungan dengan membuka tempat cukur rambut pada tahun 2020-an.
Memanfaatkan banguna seluas 3×7 meter persegi di pinggir jalan dekat masjid Assalam dan MTs Assalam Plered Purwakarta.
Suasana pinggiran masjid dan sekolah tersebut, diyakininya bisa mendatangakan rezeki karena tempat lalu lalang warganya dan orang luar yang mampir.
Jalan tersebut adalah jalur ziarah ke ualma terkenal KH Tubagus Ahmad Bakri, biasa disebut dengan Mama Sempur Plered Purwakarta dengan para peziarah hampir setiap minggu berdatangan ke makamnya dan mampir di Masjid Assalam untuk melepas lelah dan shalat.
“Awalnya saya ragu atas saran istri, tapi coba memulai usaha cukur rambut. Kemudian baru terasa lebih enak dijalani karena hobi juga berdandan rapih,” katanya melalui sambungan Whats Up, Senin (10/2).
“Kondisi lalu lintas juga tidak pernah sepi, selain dekat pertigaan juga ada sekolah dan masjid. Saya jadi yakin memulai usaha,” dia tambahkan.
Dia menjelaskan, keraguan memulai usaha sangat wajar bagi orang yang terbiasa dalam sistem kerja karyawan lengkap dengan fasilitas lainnya.
“Memulai hal baru itu beresiko, dari yang tadinya sudah ada kepastian fasilitas pengupahan dan lainnya. Kan mencukur rambut itu kadang bisa dapat kadang tidak,” kisahnya.
Namun, dirinya mencoba menjalani usaha tersebut dengan kesabaran menjalani usahanya sendiri, berkat dorongan dari istrinya yang merasakan hal sama sebagai status karyawan sebuah salon di Kota Cilegon
“Istri saya selalu mengingatkan pentingnya istiqomah dalam menjalankan apa pun pilihan mencari rezeki. Pasti ada jalannya,” katanya menirukan kalimat istrinya yang terucap lima tahun lalu.
Perlahan tapi pasti, usahanya terus berkembang yang tadinya hanya buka sampai sore kini sudah bisa buka sampai pukul 22.00 setiap hari. Dari interior ruangan hanya cat seadanya kini sudah berlapirksan wall paper yang menawan.
Bahkan untuk hari tertentu dan liburan bisa melayani konsumen sampai pukul dua belas malam, terutama pada malam idul fitri sambil terima kolega yang datang dari perantauan.
“Kalau hari teakhir ramadhan jelang malam takbiran bisa mencapai 50 orang berdua sama istri untuk konsumen pria dan wanita. Kalikan saja itu satu orang seharga delapan belas ribu,” ungkapnya.
Dengan kemajuan yang didapatkannya, Nanang mengaku akan tetap meningkatkan layanan pada pelanggan dengan meremajakan alat cukur seraca rutin dan jika memungkinkan untuk menambah ruangan.
“Rencananya ruangan ini mau ditingkatkan dua lantai. Lantai dua bisa buat nyantai dan tempat perempuan biar lebih nyaman. Usaha kan harus tetap berkembang,” tuturnya.
Dalam waktu dekat dirinya akan mengganti kursi cukur yang lebih bagus seperti yang ada di barber shop kelas atas dan beberapa fasiltas penunjang lainnya.
“Baru beres nambah tempat parkir nih. Ini sedang pesan kursi cukur yang ada roda dan bisa berputar seperti di barber shop mewah lah. Biar pelanggan merasa dimanjakan,” ucapnya.
Nanang menjelaskan minat pelanggan dengan layanan tambahan akan berbanding lurus pada pendapatan rutin setiap bulan berdasarkan pengalaman selama ini.
Biasanya dia menentukan penambahan layanan atas masukan dari pelanggan yang terus minta pendapat pelanggan lainnya, karena lewat dialog tersebut diakuinya banyak mendapat hal baru dalam perbaikan tempat usahanya.
“Setiap saya memberikan nilai tambah pada pelanggan selalu diikuti dengan penambahan pendapatan. Tapi kita harus sabar karena dia datanganya bertahap,” dia tambahkan.
Menurut Nanang, pengembangan usaha harus dilakukan sebagai jawaban atas semua masukan positif yang selama ini datang dari para pelanggannya. Mereka dianggap sebagai pendorong semangat usaha selain yang dia dapatkan dari istrinya
“Kalau tempat usaha sudah membuat pelanggan dan kita sendiri nyaman pasti bisa berkembang. Dengan terus semangat berusaha dan tetap bersyukur apa yang telah tercapai,” demikian Nanang menutup sambungan pembicaraannya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan