Beriitabanten.com – Suara benturan itu datang tiba-tiba—keras, memecah rutinitas pagi yang mestinya berjalan biasa di lintas Bekasi Timur. Di rangkaian paling belakang KRL, gerbong khusus perempuan menjadi titik paling rentan. Ironis, sebab ruang itu sejak awal dirancang sebagai tempat yang dianggap lebih aman.

Peristiwa tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL bukan sekadar kecelakaan transportasi. Ia membuka kembali pertanyaan lama: bagaimana keselamatan publik benar-benar diposisikan?

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, berdiri di hadapan awak media dengan nada yang terukur. Baginya, persoalan ini tak bisa direduksi menjadi perbedaan gender.

“Laki-laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun,” ujarnya.

Pernyataan itu seperti ingin menggeser fokus—dari siapa yang terdampak, menuju bagaimana sistem bekerja. Sebab di balik posisi gerbong yang diperdebatkan, ada persoalan yang lebih mendasar: keselamatan yang seharusnya tidak bergantung pada letak.

Namun usulan berbeda datang dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi. Ia melihat ada kerentanan spesifik yang perlu diantisipasi. Dalam pandangannya, memindahkan gerbong perempuan ke tengah rangkaian bisa menjadi langkah mitigasi sederhana.

Dua sudut pandang ini memperlihatkan tarik-menarik antara pendekatan universal dan pendekatan berbasis risiko. Yang satu menekankan kesetaraan, yang lain kehati-hatian.

Di lapangan, korban tidak punya kemewahan untuk memilih perspektif. Mereka hanya mengalami dampaknya.

Karena itu, investigasi yang dijanjikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi menjadi krusial. Bukan sekadar mencari sebab teknis, tetapi juga menjawab kecemasan publik: apakah sistem transportasi kita sudah benar-benar dirancang untuk melindungi semua orang?

Pada akhirnya, gerbong paling belakang itu bukan sekadar posisi dalam rangkaian kereta. Ia menjadi simbol—tentang bagaimana kebijakan, niat baik, dan realitas di lapangan bisa saling berjarak.

Dan seperti rel yang seharusnya sejajar, keselamatan semestinya tidak bergeser ke mana-mana. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com