Beritabanten.com – Ketika duduk di ruang kerjanya di sebuah kota di Jerman, Aisyah tiba-tiba menerima notifikasi dari sistem di Akademia bahwa ada tulisan baru terdereksi atas namanya.
Ia mengklik informasi itu. Bukannya gembira, ia malah mengerutkan dahi. Ia baca berulang kali ejaan namanya, juga afiliasi kampusnya. Benar itu nama dan afiliasinya. Masalahnya, ia tidak pernah menulis, diajak kolabirasi atau bahkan diberitahu sebelumnya tentang tulisan itu.
Tulisan itu terbit di Indonesia. Oleh jurnal bernama Jurnal Pendidikan Agama Islam Indonesia (JPAII). Ia hanya penulis ketiga. Satu penulis lain dari Universitas Ibadan di Nigeria. Ia tidak kenal sama sekali penulis kedua. Tulisan yang diterbitkan juga bukan bidangnya. Penulis pertamanya siapa? Namanya Muhammad Ilham Syahputra dari North Sumatra State Islamic University (UIN Sumatra Utara).

Pencarian singkat nama penulis pertama yang ia curigai mencatut namanya tak membuahkan hasil. Tak ada karya akademik apapun selain undergraduate thesis (skripsi). Judul tulisan yang terbit dengan namanya sebagai penulis ketiga mirip dengan judul skripsi saudara Muhammad Ilham Syahputra.
Ia pernah mendengar cerita betapa jahat dan culasnya sebagian jurnal-jurnal di Indonesia karena sering nyatut nama orang biar jurnal itu seolah-olah keren karena kontributornya berasal dari banyak negara. Tapi ia tidak membayangkan dirinya akan jadi korban. Ia hanya bisa mengurut dada. Lantas berkeluh kesah. Jelas ini kejahatan, tidak etis, merugikan namanya.
Kenapa ini menjadi budaya? Ia bertanya dalam hatinya.
***
Saya mencoba menyelidiki isi jurnal itu. Jurnal itu terbit tahun 2020. Yang bikin saya jengkel dan kaget, jurnal itu diterbitkan oleh Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia (ARIPAFI) https://aripafi.or.id/jurnalinfo?p=Uks5SzFJYVp6TGZsOVBPbjE5L1dBZz09. Itu artinya jurnal ini secara resmi menjadi corong bagi Asosiasi para dosen PAI (Pendidikan Agama Islam) di seluruh Indonesia.

Jurnal yang terbit sejak 2020 itu baru mulai berubah menggunakan bahasa Inggris pada awal 2023. Sebelumnya terbit dalam bahasa Indonesia. Dan sejak terbit dalam bahasa Inggris, mulai banyak penulis luar negeri. Perkembangan yang menggembirakan, bukan?
Eit tunggu dulu. Karena laporan Aisyah itu saya jadi curiga. Kecurigaan saya, banyak–jika tidak sebagain besar–penulis asing itu dicatut namanya dengan tidak patut.
Misalnya: pada Vol 5/4/2024, tiga penulis dari MAN 2 Cilacap berjejer dengan Prof. Raed Fakhri Abdulatief dari King Faisal University. Isinya tentang studi kasus mata kuliah budaya dan sejarah di MAN Cilacap! Ga tolol gimana tuh kita membacanya.
Misalnya lagi: pada Vol 4/4/2023, Prof. Adnan Silajdzic menulis bersama dengan Mansyuarna, dosen di IAIN Parepare. Temanya juga sangat mico-teaching pedagogik: tentang penerapan mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas delapan SMA di Parepare! Ga tolol gimana kita melihat profesor dari Sarajevo nyangkut di Parepare untuk bidang yang dia tidak kuasai?
Vol 4/3 2023 juga sepertinya mencatut nama Arnold Yasin Mol dari Leiden. Gobloknya, dia dua kali sekaligus menjadi penulis dalam edisi yang sama (lihat gambar).
Saya juga curiga Mohammad Abu Shareea dari Universitas Jordan dicatut namanya. Ia jelas tak faham isu pendidikan di dusun Tingkir Tengah, Salatiga. Ia mejadi penulis ketiga untuk edisi Vol 5/2/2024 bersama Khotim Ahsan dari IAIN Salatiga.
Allahu akbar! Betapa rusaknya dunia pendidikan kita.
***

Dari polanya, ada dua kemungkinan: para penulis asing itu dicatut oleh penulis atas permintaan pengelola jurnal; atau secara langsung dimasukan oleh pengelola jurnal. Jika kecurigaan saya pada yang lain keliru, minimal untuk kasus Aisyah benar adanya karena saya mendapatkan kesaksiannya.
Kebejatan dan kejahatan sistem ini tujuannya jelas pulas yang culas: agar Jurnal naik rangking dari Sinta 3, misalnya, ke Sinta 2. Terus nanti naik ke Scopus. Sistem ini membuat para pengelola jurnal–tidak semuanya–mencari jalan pintas dengan mencatut nama para penulis asing. Mereka kira para penulis itu tidak bakal tahu dan sadar nama mereka disalahgunakan.
Ini juga buka khas kasus jurnal JPAII. Saya sebelumnya menemukan juga beberapa kasus. Kawan sarjana di Australia pernah mengeluh di FB ketika namanya dicatut oleh Jurnal yang bahkan diterbitkan oleh Kemenag. Seorang sarjana top yang datang ke UIII juga pernah mengeluh tentang modus-modus jurnal di Indonesia ini.
Kita harus akhiri semua kejahatan dan keculasan ini. Malu-maluin bangsa dan negara, juga agama. Para pemangku kebijakan seperti Ahmad Najib Burhani semoga membaca post ini dan mengambil sikap serius untuk bebenah sistem perjunalan di NKRI. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan