Beritabanten.com – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut banyak negara iri terhadap Indonesia mendapat sorotan terkait dasar dan indikator yang digunakan untuk menyimpulkan hal tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat peluncuran biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Saat itu, Prabowo menyebut persaingan global membuat keberhasilan Indonesia menimbulkan rasa iri hingga ada pihak yang berharap Indonesia mengalami kekacauan dan kegagalan.

Pernyataan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai data yang menjadi dasar klaim tersebut. Belum dijelaskan secara terbuka negara mana saja yang dimaksud, berapa jumlahnya, serta indikator apa yang digunakan untuk mengukur adanya rasa iri dari negara lain terhadap Indonesia.

Dalam kajian sosial dan politik, perasaan sebuah negara bukan sesuatu yang mudah diukur. Hal yang dapat diamati secara objektif biasanya berupa tindakan pemerintah suatu negara, seperti kebijakan perdagangan, keputusan investasi, tekanan diplomatik, pernyataan resmi, maupun langkah strategis lainnya.

Keberhasilan Indonesia sendiri dapat diukur melalui berbagai indikator, seperti pertumbuhan ekonomi, investasi, ekspor, tingkat kemiskinan, produktivitas, daya beli, serta berbagai capaian pembangunan lainnya.

Namun, menyimpulkan bahwa negara lain merasa iri membutuhkan bukti yang berbeda. Kemajuan suatu negara tidak secara otomatis menunjukkan bahwa negara lain memiliki rasa iri. Negara lain bisa saja merespons dengan kerja sama, persaingan, kritik, atau kebijakan yang didasarkan pada kepentingan nasional masing-masing.

Dalam logika argumentasi, semakin besar sebuah klaim yang disampaikan, semakin besar pula kebutuhan terhadap bukti pendukung. Klaim bahwa suatu negara dikagumi dapat dibuktikan melalui pernyataan atau tindakan tertentu. Sementara klaim bahwa banyak negara merasa iri dan berharap Indonesia gagal membutuhkan penjelasan mengenai pihak yang dimaksud serta dasar penilaiannya.

Narasi mengenai negara lain yang iri juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Kritik atau perbedaan kepentingan antarnegara tidak selalu berarti permusuhan. Dalam hubungan internasional, persaingan, kerja sama, dan perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika antarnegara.

Karena itu, pertanyaan utama bukan mengenai apakah Indonesia memiliki keberhasilan yang patut dibanggakan. Indonesia memang memiliki berbagai capaian yang dapat diapresiasi. Namun, penting bagi setiap klaim mengenai respons negara lain terhadap Indonesia disampaikan berdasarkan data dan indikator yang dapat diuji publik.

Kepercayaan diri sebuah bangsa pada akhirnya lebih kuat ketika dibangun dari prestasi yang terukur, transparansi informasi, serta kemampuan membedakan antara persaingan, kritik, dan ancaman nyata. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com