Beritabanten.com – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang disampaikan pemerintah membawa sejumlah target ekonomi yang cukup optimistis. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 6 persen, inflasi dijaga pada level 2,5 persen, sementara defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam postur tersebut, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Pemerintah menempatkan APBN 2027 sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun, di balik berbagai indikator makroekonomi tersebut, terdapat tantangan yang tidak kalah penting, yakni memastikan kekuatan fiskal benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif keberlanjutan fiskal atau fiscal sustainability, tingkat defisit merupakan salah satu indikator penting untuk melihat kesehatan keuangan negara. Defisit yang terkendali memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus mempertahankan kemampuan pembiayaan program pembangunan.

Meski demikian, keberlanjutan fiskal tidak hanya ditentukan oleh besarnya defisit. Pertumbuhan ekonomi juga perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, serta peningkatan kualitas layanan publik.

Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi sekitar 6,0 hingga 6,5 persen. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan berada pada kisaran 4,30 hingga 4,87 persen, sementara rasio Gini diproyeksikan berada di level 0,362 hingga 0,367.

Target tersebut menunjukkan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan yang tidak hanya tinggi, tetapi juga lebih inklusif. Dalam konsep pro-poor growth, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih besar kepada kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada pencapaian angka makro. Pertumbuhan yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, serta akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

RAPBN 2027 juga menempatkan sejumlah sektor strategis sebagai prioritas, mulai dari kedaulatan pangan, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga hilirisasi. Pendekatan tersebut menunjukkan peran negara yang cukup besar dalam mengarahkan pembangunan ekonomi.

Namun, besarnya alokasi anggaran tidak otomatis menjamin keberhasilan program. Persoalan tata kelola, koordinasi antarinstansi, kualitas pelaksanaan, hingga pengawasan anggaran tetap menjadi faktor penting yang menentukan hasil akhir kebijakan.

Di sektor sosial, pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp820,9 triliun, perlindungan sosial Rp549,9 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan Rp195,3 triliun.

Anggaran tersebut menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan sumber daya manusia dan perlindungan kelompok rentan. Namun, efektivitasnya tetap perlu diukur dari kualitas layanan dan ketepatan sasaran, bukan semata-mata dari besarnya anggaran yang disediakan.

Risiko juga datang dari faktor eksternal. Asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar Amerika Serikat dan harga minyak mentah sebesar 75 dolar AS per barel menunjukkan bahwa postur APBN tetap dipengaruhi perkembangan ekonomi global.

Perubahan suku bunga dunia, gejolak geopolitik, volatilitas harga komoditas, serta perubahan nilai tukar dapat memengaruhi penerimaan maupun belanja negara. Karena itu, kemampuan pemerintah menjaga ruang fiskal menjadi penting apabila terjadi tekanan ekonomi dari luar.

APBN pada akhirnya bukan hanya dokumen keuangan negara. APBN juga menjadi instrumen kebijakan ekonomi dan sosial yang menentukan bagaimana sumber daya negara dialokasikan kepada masyarakat.

Karena itu, keberhasilan APBN 2027 tidak cukup diukur dari rendahnya defisit atau tercapainya target pertumbuhan ekonomi. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kebijakan fiskal tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Optimisme fiskal perlu berjalan beriringan dengan evaluasi terhadap kondisi sosial. Angka pertumbuhan, inflasi, defisit, dan penerimaan negara memang penting, tetapi dampaknya terhadap kehidupan masyarakat menjadi ukuran akhir dari keberhasilan kebijakan anggaran.

Dengan demikian, APBN 2027 menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni menjaga stabilitas fiskal dan memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.

APBN yang sehat bukan hanya APBN yang terlihat kuat di atas kertas, tetapi juga APBN yang mampu mengubah ruang fiskal menjadi pelayanan publik yang berkualitas, lapangan kerja, perlindungan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com