Beritabanten.com – Di era media sosial, pidato politik tidak lagi hanya terdengar dari mimbar kampanye atau layar televisi. Potongan video berdurasi beberapa detik bisa muncul berkali-kali di ponsel, memenuhi linimasa, memancing komentar, lalu berubah menjadi perdebatan tanpa ujung. Tak sedikit orang mengaku merasa lelah, kesal, bahkan stres setelah mengikuti dinamika politik yang terus bergulir.

Menariknya, psikologi menjelaskan bahwa sumber kelelahan itu belum tentu berasal dari pidato yang didengar, melainkan dari cara otak memproses dan memaknai informasi tersebut.

Richard Lazarus dan Susan Folkman melalui teori Stress and Coping menjelaskan bahwa stres muncul bukan semata karena suatu peristiwa, tetapi karena penilaian seseorang terhadap peristiwa itu. Ketika setiap pidato politik dianggap sebagai ancaman langsung terhadap masa depan atau kehidupan pribadi, tubuh akan meresponsnya seperti menghadapi bahaya. Jantung berdebar lebih cepat, emosi meningkat, dan pikiran dipenuhi kecemasan.

Sebaliknya, ketika pidato diposisikan sebagai bagian dari komunikasi politik yang masih perlu diuji dengan data, fakta, dan realitas kebijakan, respons emosional cenderung menjadi lebih terkendali. Dengan kata lain, yang menentukan ketenangan bukan hanya apa yang didengar, tetapi bagaimana seseorang memilih menyikapinya.

Pemikiran serupa dikemukakan psikolog Albert Ellis melalui Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). Menurutnya, emosi sering kali dipicu oleh keyakinan yang dibangun dalam pikiran, bukan oleh peristiwa itu sendiri. Sebuah pidato belum tentu merupakan fakta. Di dalamnya bisa terdapat opini, janji, harapan, kritik, bahkan strategi retorika yang memang dirancang untuk membangun dukungan publik.

Karena itu, kemampuan membedakan fakta, interpretasi, dan opini menjadi keterampilan penting agar seseorang tidak mudah terbawa arus emosi setiap kali mendengar pernyataan politik.

Di tengah derasnya arus informasi, media sosial juga berperan besar memperkuat respons emosional. Algoritma cenderung menampilkan konten yang memancing perhatian, termasuk pidato yang kontroversial atau penuh konflik. Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus terpapar informasi yang memicu kemarahan atau kecemasan.

American Psychological Association (APA) mengingatkan bahwa paparan berkepanjangan terhadap konten politik yang memicu emosi negatif dapat meningkatkan tingkat stres. Karena itu, menjaga jarak sejenak dari banjir informasi bukanlah bentuk ketidakpedulian terhadap politik, melainkan bagian dari menjaga kesehatan mental.

Cara lain yang disarankan adalah memperluas sumber informasi. Jangan hanya mengandalkan potongan video atau kutipan singkat yang beredar di media sosial. Membaca berita secara utuh, membandingkan beberapa sumber yang kredibel, dan memahami konteks sebuah pernyataan akan membantu membangun penilaian yang lebih objektif.

Pada akhirnya, menjadi warga negara yang baik bukan berarti harus marah setiap hari karena politik. Demokrasi membutuhkan warga yang kritis, tetapi juga tenang. Sebab keputusan yang lahir dari pikiran yang jernih hampir selalu lebih baik daripada keputusan yang didorong oleh emosi sesaat.

Mungkin sesekali kita memang perlu mematikan notifikasi, menutup media sosial, lalu kembali menikmati secangkir kopi, berbincang dengan keluarga, atau berjalan sore. Politik akan terus bergerak, pidato akan terus berganti, tetapi kesehatan mental tetap menjadi modal utama agar kita mampu menilai para pemimpin berdasarkan rekam jejak, kebijakan, dan hasil kerja nyata, bukan sekadar kata-kata yang paling keras terdengar. (Red)

 

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com