Beritabanten.com – Indonesia saat ini memasuki fase perubahan demografi dengan meningkatnya peran generasi muda dalam struktur penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui SUPAS 2025, Generasi Z menjadi kelompok penduduk terbesar dengan 24,93 persen, disusul Generasi Milenial sebesar 24,34 persen.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh penduduk Indonesia berasal dari dua generasi yang tumbuh dalam lingkungan teknologi digital, internet, dan perubahan sosial yang cepat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam merancang kebijakan yang sesuai dengan karakter masyarakat yang semakin terhubung dan dinamis.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto berasal dari generasi Baby Boomer, yaitu kelompok yang lahir pada periode 1946–1964. Perbedaan generasi antara pemimpin dan mayoritas penduduk kemudian memunculkan diskusi mengenai bagaimana gaya kepemimpinan dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat yang lebih muda.

Dalam kajian Generational Theory yang dikembangkan William Strauss dan Neil Howe, setiap generasi memiliki karakter yang dipengaruhi oleh pengalaman sejarah, perkembangan teknologi, serta kondisi sosial saat mereka tumbuh.

Generasi Baby Boomer umumnya dibentuk oleh lingkungan yang menekankan nilai disiplin, struktur organisasi, loyalitas terhadap institusi, dan proses pengambilan keputusan yang lebih hierarkis. Sementara itu, Generasi Z dan Milenial lebih terbiasa dengan teknologi digital, akses informasi cepat, komunikasi terbuka, kolaborasi, serta tuntutan terhadap transparansi.

Perbedaan karakter tersebut dapat memengaruhi hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Kebijakan yang berhasil pada masa sebelumnya belum tentu selalu sesuai dengan harapan generasi yang kini menjadi kelompok dominan. Generasi muda saat ini lebih dekat dengan ekonomi digital, pekerjaan berbasis teknologi, layanan publik daring, serta pola partisipasi yang banyak berlangsung melalui ruang digital.

Dalam teori Adaptive Leadership yang dikembangkan Ronald Heifetz, kemampuan seorang pemimpin menghadapi perubahan tidak ditentukan oleh usia maupun latar belakang generasinya. Faktor utama adalah kemampuan membaca perubahan lingkungan, memahami tantangan baru, dan menyesuaikan pendekatan kepemimpinan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, tantangan kepemimpinan Indonesia bukan hanya persoalan perbedaan usia antara pemimpin dan generasi mayoritas penduduk. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana pengalaman dan pengetahuan generasi sebelumnya dapat dikombinasikan dengan kreativitas, kecepatan adaptasi, serta cara berpikir generasi baru.

Di tengah dominasi Gen Z dan Milenial, efektivitas pemerintahan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun komunikasi lintas generasi. Kebijakan publik tidak hanya perlu mempertimbangkan pengalaman masa lalu, tetapi juga harus mampu menjawab perubahan perilaku masyarakat dalam era digital.

Kepemimpinan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan menjadi faktor penting dalam memastikan bonus demografi Indonesia benar-benar menjadi kekuatan pembangunan, bukan sekadar perubahan komposisi penduduk. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com