Beritabanten.com – Ketegangan yang sempat memuncak antara Donald Trump dan pemerintah Iran akhirnya mereda, setidaknya untuk sementara. Setelah retorika keras yang mengguncang dunia, kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, termasuk pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Kesepakatan ini lahir di tengah situasi yang nyaris tak terkendali. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan menerima gencatan tersebut, sembari menegaskan bahwa ini bukanlah akhir dari perang. “Tangan kami tetap berada di pelatuk,” demikian pernyataan mereka, seperti dikutip Associated Press.
Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Jumat, membuka ruang diplomasi di tengah ketegangan yang masih membayangi kawasan.
Sebelumnya, dunia dikejutkan oleh pernyataan Trump yang menyebut kemungkinan kehancuran peradaban. Ancaman itu segera menuai kritik luas. Senator Bernie Sanders memperingatkan dampak kemanusiaan yang bisa timbul—dari korban jiwa hingga runtuhnya akses terhadap kebutuhan dasar.
Menurut Sanders, penggunaan kekuatan militer dalam skala besar berpotensi melanggar hukum internasional dan menyeret Amerika Serikat ke dalam kejahatan perang. Ia bahkan menyebut ada sejumlah anggota Partai Republik yang memahami risiko tersebut, namun belum bersuara lantang.
Senada, Kamala Harris menilai ancaman itu sebagai tindakan tanpa strategi yang jelas. Ia menegaskan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan perang berkepanjangan.
Dari Teheran, respons juga mengeras. Sejumlah fasilitas energi strategis di kawasan disebut masuk dalam daftar target balasan. Di saat yang sama, ribuan warga Iran dilaporkan berkumpul di sekitar objek vital, membentuk “perisai manusia” sebagai simbol perlawanan menjelang tenggat ancaman.
Di tengah situasi genting tersebut, diplomasi mengambil peran penting. Perdana Menteri Shehbaz Sharif disebut mengajukan permohonan intensif kepada kedua pihak agar memberi ruang bagi perundingan. Dalam unggahannya di X, ia menegaskan bahwa upaya damai terus berkembang dan berpotensi menghasilkan terobosan dalam waktu dekat.
Tak lama berselang, Trump menarik kembali ancamannya. Gencatan senjata dua pekan pun disepakati, termasuk pengaturan jalur aman di Selat Hormuz melalui koordinasi militer terbatas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa penghentian operasi militer akan berlangsung selama tidak ada serangan lanjutan. Pernyataan itu disampaikan atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Di balik kesepakatan tersebut, Iran juga mengajukan sejumlah syarat sebagai dasar negosiasi, mulai dari jaminan non-agresi hingga pencabutan sanksi dan pengakuan hak pengayaan uranium.
Media Iran, Tasnim News Agency, menyebut langkah ini sebagai tanda mundurnya Trump dari ancaman yang sebelumnya dilontarkan.
Gencatan dua pekan ini menjadi jeda yang rapuh di tengah konflik besar. Dunia kini menanti, apakah diplomasi mampu memperpanjang napas damai—atau justru sekadar menunda babak baru dari ketegangan yang belum usai.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan