Beritabanten.com – Rasa prihatin iringi kontraktor SDN 1 Curug, Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang yang menyisakan ruang kelas beralaskan tanah.

Para siswa akhirnya tetap belajar di ruang kelas memprihatinkan itu, karena tidak ada pilihan lain.

Iwan Mulyawan sebagai pengajar yang setia menemani siswa SDN 1 Curug menyatakan proyek pembangunan dibiarkan sejak tahun 2017.

Kata dia, siswa terpaksa belajar dengan kondisi kelas beralaskan tanah, dinding tanpa plesteran, serta rasa minder yang berdampak pada semangat belajar mereka.

“Banyak siswa yang merasa minder dan enggan masuk kelas karena malu. Bahkan mereka sempat tidak mau masuk saat awal-awal,” ujarnya, dikutip redaksi dari Antara, Jumat 8 Agustus 2025.

Dia katakan, keadaan memburuk jika hujan turun. Lantai kelas becek dengan genangan air di mana-mana. Sementara jika kemarau banyak debu yang mengganggu pernafasan siswa.

Karena itu, pihak sekolah memperbolehkan siswa memakai sandal saat musim hujan untuk mengatasi lantai yang becek.

“Kami mengambil kebijakan khusus yakni memperbolehkan siswa memakai sandal. Selain itu mereka juga memang ada yang tidak mampu membeli sepatu, karena sebagian besar warga disini hanya bekerja sebagai petani,” katanya.

Persoalan mangkrak pembangunan hingga 60 persen itu, dikatakan, karena akses akses jalan yang ekstrem.

“Jarak tempuh dari toko material terdekat mencapai 8-10 kilometer dengan kondisi jalan yang sulit, membuat pengiriman material terhambat,” beber dia.

Ini juga menyebabkan para siswa serta para guru saat menuju ke sekolah yang harus melalui akses jalan yang cukup ekstrem dengan kondisi bebatuan dan licin pada saat musim hujan.

Katanya, siswa yang tinggal di seberang Sungai Walungan Curug sering kali tidak bisa masuk sekolah saat hujan deras karena khawatir banjir.

“Kami sangat memaklumi hal tersebut. Saat ini sebanyak 42 siswa kelas 3 dan 5 menempati dua ruang kelas tersebut,” katanya.

Ia mengatakan keluhan ini tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari orang tua murid, sehingga pihak sekolah berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi permanen, seperti program rehabilitasi, agar para siswa bisa belajar dengan nyaman dan memiliki rasa percaya diri seperti siswa di sekolah lainnya.

“Orang tua protes kenapa anak mereka ditempatkan di ruangan seperti itu. Kami sangat berharap pemerintah dapat segera melanjutkan pembangunan sekolah ini, agar para siswa dapat belajar dengan nyaman,” ujarnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com