Beritabanten.com – Prahara banjir yang menerpa wilayah di Kota Tangerang Selatan atau Tangsel menjadi pemantik trobosan dalam penangan saluran terakhir pembuangan air. Beberapa sungai ditengerai turut andil besar dalam melahirkan air tidak bisa lancar mengalir sehingga menggenangi permukiman.
Adalah Perumahan Pondok Maharta jadi bulan-bulanan genangan air, bahkan ketinggiannya mencapai setu meter lebih. Bisa dibayangkan aktivitas warga dengan genangan air sepinggang orang dewasa, tidak mungkin beraktivitas normal. Bahkan memungkinkan lahir banyak penyakit.
Pemerintah Kota atau Pemkot Tangsel akhirnya memutuskan untuk mengetahui jantung persoalan aliran air, perencanaan perbaikan bantaran sungai dengan tetap mengacu pada tata ruang Kementerian ATR/BPN dan pengerukan sungai agar bisa menampung limpahan air ketika hujan lebat.
Terkini, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie bersama Gubernur Banten Andra Soni, dan Wali Kota Tangerang Sachrudin menyusuri beberapa titik rawan banjir di Kali Angke pada Rabu 23 Juli 2025.
Tiga pimimpin daerah tersebut ingin mengetahui detail kondisi sungai, menggunakan perahu karet membelah genangan air Kali Angke dari Area Perumahan Fortune Pakujaya Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan menuju Jembatan Fortune, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.
Mereka berhasil menyusuri Kali Angke untuk melihat langsung persoalan penyebab banjit itu atas prakarsa BPBD dan PUPR Provinsi Banten.
Para petugas terlatih bergabung di perahu karet untuk memastikan kenyamanan sekaligus keselataman tiga pemimpin daerah yang serius menuntas persoalan banjir tersebut.
Penulusuran sungai tersebut memakan waktu 2 jam dengan menempuh jarak tidak kurang dari 10,4 kilometer, duduk berhimpitan di perahu karet berwarna orange, memakai pelampung dengan lambaian antusias warga sekitar.

Pemetaan Lewat Udara
Berpakaian lengkap standard TIM SAR, mereka meniti bagian penting dalam penanganan banjir yang kerap melanda wilayah Tangerang Selatan, termasuk titik rawan Perumahan Pondok Maharta di Kecamatan Pondok Aren.
Setelah berpeluh keringat dalam perahu karet, Benyamin terinsiparasi untuk menarik data menyeluruh dengan pemetaan lewat udara yang pada gilirannya menghasilkan rumusan langkah penanganan yang terukur, tepat dan menyuluruh. Karena Kali Maharta dikatakan berakhir di Kali Angke.
“Kali Maharta yang kita kenal kemudian kali Cantika itu muaranya ke kali Angke,” ucap dia.
Hal itu harus ditempuh dengan mengumpulkan bahan penting untuk berkolaborasi dengan BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai).
Pemetaan lewat udara bisa menghasilkan gambar lebih detail sebagai salah satu cara dari rangkaian proyeksi yang selama ini telah dibicarakan di lingkungan Pemkot Tangsel.
“Saya akan melakukan pemetaan melalui foto udara atau drone. Tentu semua tentang kewenangan kali ini ada di balai besar, jadi akan kita sampaikan data-data yang ada di kita,” kata dia.
Adapun permasalahan banjir di Tangsel dibidani oleh kondisi lokal sekaligus oleh penyempitan aliran sungai yang terjadi di wilayah perbatasan, khususnya di Kota Tangerang.
“Pemkot Tangsel telah melakukan sejumlah langkah pembenahan, seperti perbaikan turap di berbagai titik,” kata Benyamin menyikapi sebab tersebut.

Koordinasi Penanganan Banjir
Dengan kekompakan antar wilayah, kata Benyamin, berbagai upaya penanganan banjir akan dikoordinasikan melalui Tim Pengendali Banjir Kota Tangsel dan Tim Penanganan Banjir Provinsi Banten.
Kali Maharta, beber dia, tidak mempunyai banyak kelokan yang menghambat aliran air, tapi menjadi bermasalah ketika air tidak lancar mengalir ke wilayah Kota Tangerang, karena banyak kelokan.
“Di Tangsel ga ada tanah menjorok ke ini (sungai) nggak ada pohon pisang dan lain sebagainya. Tapi karena di kali Kota Tangerang ini airnya terhambat ya tentu tertahan dan berbalik,” dia tambahkan.
Benyamin memastikan pihaknya akan terus berupaya dengan berbagai cara untuk mengantisipasi terjadinya banjir di wilayahnya. Pemkot Tangsel telah membentuk Tim Pengendali Banjir.
“Kelokan nanti akan kami cek mungkin belasan dan terjadi sedimentasi. Ada kalau terkait dengan peralatan menggunakan amvibi. Tapi nanti akan dibahas melalui tim penanganan banjir provinsi Banten,” demikian Benyamin menutup.

Kolaborasi Lintas Wilayah
Sementara itu Gubernur Banten Andra Soni mengungkapkan penelusuran Kali Angke merupakan realisasi dari komitmen kolaboratif lintas wilayah dalam penanganan masalah banjir
Dalam pandangannya, penuntasan permasalahan banjir yang selama ini mendera Tangsel tidak memungkinkan untuk dikerjakan oleh satu daerah dan atau lembaga. Ini meniscayakan kolaborasi dengan intansi lintas sektoral dengan bekerjasama dari tahap awal, yang kali ini dalam bentuk kekompakan naik perahu karet.
“Kami berempat sepakat untuk menyusuri sungai di Kali Angke ini bersama-sama,” ujar Andra.
Dia bagikan pada media pengalaman naik perahu karet dengan melihat langsung penyebab permasalah banjir yang terjadi selama puluhan tahun di wilayah Tangerang Raya.
“Tadi kita lihat ya, ada beberapa tanggul yang jebol. Jadi ada tanggul yang jebol di beberapa titik. Dan kemudian juga ada rumah yang nyaris longsor,” kata dia bersemangat.
“Nyaris longsor, dan kemudian sampah pastinya. Pak Benyamin tadi kita diskusi, sampah itu udah membuat pulau-pulau. Nah, itu yang dalam waktu jangka pendek ini harus segera kita selesaikan,” Andra Soni tambahkan. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan