Beritabanten.com – Jemput bola. Istilah tepat untuk menggambarkan niat Pemerintah Kota Tangsel atau Pemkot Tangsel dalam memerangi Tuberkulosis (TBC) yang terjadi di warga. Upara kolaboratif dengan melibatkan secara intensif peran warga.
Pemerintah Kota atau Pemkot Tangsel telah membidik langkah kolaboratif dalam penanganna TBC tersebut sebagai paling praktis sekaligus realistis. Ini karena ada keterlibatan aktif masyarakat dengan kemampuan bisa mendeteksi langsung gejala di lapangan untuk dikonsultasikan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel.
Karena itu, tidak berlebihan jika Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie menyatakan langkah kolaboratif jadi pilihan strategis memerangi TBC.
“Dalam memerangi TBC lewat gerakan masif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat,” ungkap dia dalam keterangan resmi pada media, pada Senin 20 Juli 2025.
Kata Bang Ben, biasa disapan, jemput bola tersebut sekaligus menggunakan pendekatan edukasi berbasis komunitas, karena kini di Tangsel tidak lagi menunggu pasien datang ke puskesmas, tapi aktif mendatangi warganya.
“TBC adalah persoalan serius yang harus ditangani bersama. Kita tidak bisa hanya mengandalkan layanan di faskes (fasilitas kesehatan) saja ya, menunggu mereka yang datang, jadi kalau mau cepat ya kita juga harus jemput bola tim kesehatan yang ngider ke warga-warga,” tegas dia.
Dalam aksi di lapangan oleh Dinkes Tangsel berbentuk program andalan Ngider Sehat dan RW Bebas TBC. Keduanya menjadi program strategi dalam menemukan kasus secara aktif dan menekan penularan di lingkungan padat penduduk.

Skrining dan Investigasi
Dihubungi terpisah Kepala Dinkes Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengabarkanb bahwa pihaknya telah membentuk tim kesehatan yang tugasnya secar rutin rutin melakukan skrining dan investigasi kontak di lingkungan pasien TBC, terutama di kalangan kontak serumah dan kontak erat.
“Salah satu strategi kami adalah melalui kegiatan Ngider Sehat dan Cek Kesehatan Gratis (CKG), baik yang digelar di fasilitas kesehatan maupun langsung mengunjungi warga,” ujar Allin penuh semangat.
Dia juga mewartakan warga yang diajak terlibat menyampaikan rasa terima kasih karana mendapatkan pelatihan sekaligus bisa menangani gejala TBC dengan cepat di lapangan.
Ini karena program Ngider Sehat, tim medis akan segera melakukan skrining dan investigasi kontak terhadap pasien TBC yang telah terdata, terutama kepada kontak serumah dan kontak erat.
Bagi mereka yang tidak bergejala, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sementara yang menunjukkan gejala langsung diarahkan menjalani pemeriksaan seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) atau rontgen.
TCM biasanya digunakan untuk mengetahui apakah kontak tersebut sudah mendapatkan penularan dari indeks kasus.
Tidak hanya itu, Dinkes Tangsel juga mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program RW Bebas TBC.
Warga diajak untuk tidak hanya memahami gejala dan penularan TBC, tetapi juga terlibat langsung dalam mendukung pasien agar tidak menyerah di tengah jalan.
“Masyarakat juga bagian dari kunci eliminasi TBC ini. Makanya, kita perluas edukasi dari petugas fasyankes, dan warga juga perlu peduli jika ada pasien TBC yang berpindah tempat tinggal agar dapat dilacak dan dipantau kembali,” jelasnya.
Menurut Allin, kesadaran kolektif inilah yang akan memperkuat langkah-langkah pemerintah dalam memutus mata rantai penularan TBC.
Dengan percepatan skrining yang telah dilakukan, hingga pertengahan Juni 2025, total kasus TBC di Tangsel mencapai 8.720 kasus, terdiri dari 6.205 kasus pada 2024 dan 2.515 kasus terdeteksi sejak Januari hingga 13 Juni 2025.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat
Allin membeberkan, sebelumnya diluncurkan “Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis dengan Komitmen dan Aksi Nyata” (GIATKAN) ketika memeriahkan Hari Tuberkolosis Sedunia 2025.
Kata dia, GIATKAN bertujuang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat komitmen dalam memberantah Tuberkulosis (TBC) di Indonesia dengan rincian aksi di lapangan sebagai berikut;
1. Pekan Investigasi Kontak
Sebagai langkah awal, Dinkes Tangsel melalui Puskesmas Cirendeu menggelar Pekan Investigasi Kontak (IK) dengan menggandeng para kader kesehatan pada tanggal 17-22 Maret 2025. Ini untuk menelusuri individual yang berkontak langsung dengan pasien TBC yang sudah menjalani pengobatan sejak 2024-2025.
Investigasi ini dilakukan melalui kunjungan rumah atau invitasi kontak, untuk memastikan deteksi dini dan memberikan langkah pencegahan yang lebih efektif, karane semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang untuk menyembuhkan!
2. Kampanye Digital: Edukasi melalui Media Sosial
Tak hanya aksi langsung, Dinkes Tangsel juga menggaungkan kesadaran masyarakat melalui kampanye digital pada 17-22 Maret 2025. Terus menyebarkan dokumentasi kegiatan investigasi kontak dalam bentuk foto dan video akan dipublikasikan secara luas di berbagai platform digital.
Kampanye digital ini berlanjut pada 24 Maret 2025 sebagai mengedukasi serentak di media sosial. Masyarakat diajak untuk ikut menyebarkan informasi, berbagi pengalaman, serta mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia.
3. Puncak Acara: Webinar untuk Tenaga Kesehatan dan Kader
Sebagai puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Dinkes Tangsel mengadakan webinar pada 24 Maret 2025 yang ditujukan bagi tenaga kesehatan di seluruh fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) serta para kader kesehatan.
Webinar ini akan membahas lebih dalam tentang petunjuk teknis investigasi kontak yang terintegrasi dengan terapi pencegahan tuberkulosis.
Dengan adanya berbagai inisiatif ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan tuberkulosis hingga tuntas. Bersama, kita bisa mengakhiri TBC di Indonesia! (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan