Beritabanten.com – Universitas PTIQ Jakarta kembali menggelar Haflah Al-Wada’ Ma’had Al-Qur’an pada Rabu (18/6) dengan mengusung tema menyiapkan generasi qurani sebagai pelopor peradaban masa depan.
Acara yang dihadiri oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang juga Rektor Universitas PTIQ, para Wakil Rektor, para Dekan, 550 mahasantri, dosen dan guru besar, alumni, dan tokoh-tokoh Al-Qur’an nasional ini berlangsung khidmat dan penuh makna di kampus PTIQ Jakarta.
Dalam arahannya, Rektor menyatakan komitmen Universitas PTIQ Jakarta untuk terus meningkatkan mutu dan mengembangkan diri, baik melalui penambahan program studi, peningkatan mutu mahasiswa dan alumni, maupun perbaikan sarana prasarana pembelajaran.
Lebih lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan bahwa Pimpinan PTIQ juga terus memperluas kerja sama internasional dan mendorong penguatan bahasa asing bagi seluruh mahasiswa. “Karena untuk menjadi dai tingkat dunia, penguasaan bahasa internasional adalah keniscayaan” tegasnya.
Kemajuan yang dialami PTIQ sejatinya tidak lepas dari kerja keras dan ikhlas para pengelola PTIQ. Prof Nasar meyakini bahwa keihklasan akan melahirkan banyak keajaiban.
“Oleh karena itu, saya berharap seluruh mahasiswa bangga menjadi bagian dari PTIQ, kampus pelopor peradaban Al-Qur’an yang terus menjawab tantangan zaman dengan solusi yang visioner,” pungkasnya.
Sementara itu, dalam pidato ilmiahnya, Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menyampaikan keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan baca Al-Qur’an masyarakat Muslim Indonesia.
Berdasarkan data BPS (2018), lebih dari 53% umat Islam di Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an. “Ini bukan semata data statistik, ini adalah potret nyata krisis literasi spiritual kita,” ujar Tholabi.
Lebih lanjut, Tholabi menyoroti hasil survei nasional Kementerian Agama (2023) yang menunjukkan hanya 44,57% Muslim Indonesia mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai tajwid. Bahkan, survei terhadap mahasiswa PTKIN menemukan bahwa masih terdapat 0,4% yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an.
“Kita sedang menghadapi paradoks. Aplikasi Al-Qur’an sangat mudah diunduh, tetapi kemampuan membacanya masih rendah. Ini menunjukkan bahwa teknologi bukan jawaban tunggal, bahkan bisa menjadi ‘ilusi solusi’ jika tidak dibarengi fondasi pendidikan yang kuat,” tegas Guru Besar Hukum Islam ini.
Melalui orasi yang bertajuk “Menjawab Tantangan Literasi Al-Qur’an di Era Peradaban Digital”, Tholabi menyerukan revitalisasi peran hamalatul Qur’an sebagai pendidik, dai, dan penggerak sosial.
“Para Hamalatul Qur’an tidak cukup hanya menjaga teks dan suara merdu, tetapi harus hadir di tengah masyarakat, membina dan menumbuhkan budaya qurani,” serunya.
Universitas PTIQ sendiri telah mengambil langkah konkret melalui kolaborasi dengan Kementerian Agama dalam Program Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) bagi lebih dari 250.000 guru PAI di Indonesia. Menurut Tholabi, program ini menunjukkan bahwa PTIQ bukan hanya mencetak qari dan hafizh, tetapi juga membangun sistem penjaminan mutu baca Al-Qur’an nasional secara sistemik, bukan simbolik.
Haflah ini juga menjadi momen reflektif akan pentingnya budaya baca Al-Qur’an dalam keseharian. “Membaca lima menit setiap pagi, mengaji bersama di rumah, atau mengakhiri hari dengan tadabbur, itu semua adalah ikhtiar kecil yang akan melahirkan dampak besar jika dilakukan secara berjamaah,” pungkasnya.
Haflah al-Wada’ Ma’had Al-Qur’an PTIQ 2025 juga diisi dengan acara pemberian penghargaan kepada Mahasantri berprestasi. Kegiatan ini sekaligus menegaskan kembali komitmen PTIQ sebagai pusat keunggulan Al-Qur’an yang tidak hanya menyinari Indonesia, tetapi juga dunia. []
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan