Beritabanten.com – Pemutusan aliran listrik di Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon pada Senin (27/1) oleh pihak PLN mendapat banyak kritik dari berbagai pihak.

Salah satunya datang dari Koordinator Majelis Daerah (MD) Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Cilegon, Dedy Arisandi. Dedy menilai tindakan PLN tersebut tidak mempertimbangkan dampak yang akan dirasakan, terutama bagi umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah di masjid tersebut.

Dalam wawancaranya dengan wartawan, Dedy Arisandi mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan PLN, terlebih setelah kabar beredar bahwa tunggakan listrik di masjid itu hanya sekitar Rp3 juta.

“Masjid Agung adalah lambang kebanggaan dan tempat ibadah penting bagi masyarakat Cilegon. PLN seharusnya mengedepankan pendekatan yang lebih bijak dan tidak langsung melakukan pemutusan aliran listrik. Kepala Cabang PLN seharusnya lebih arif dalam membuat keputusan yang melibatkan kepentingan umat,” tuturnya.

Dedy Arisandi juga menekankan bahwa kejadian ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Nurul Ikhlas.

Ia mengingatkan pentingnya pengelolaan administrasi keuangan yang lebih baik dan disiplin oleh pengurus masjid agar hal seperti ini tidak terulang di masa depan.

“Saya juga mengkritisi kelalaian pengurus DKM dalam mengelola keuangan. Seharusnya mereka lebih disiplin dalam memenuhi kewajiban, seperti pembayaran listrik, agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Evaluasi menyeluruh terhadap pengurus DKM sangat diperlukan agar lebih profesional ke depannya,” tambahnya.

Di tengah permasalahan ini, Dedy juga memberikan apresiasi kepada Walikota Cilegon terpilih, Robinsar, yang langsung turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan membayar tunggakan listrik Masjid Agung Nurul Ikhlas, sehingga permasalahan itu dapat segera diatasi. (Nbl)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com