Beritabanten.com Penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Betawi telah memasuki fase penting, yakni pembahasan hasil penerjemahan hingga Juz 30.

Berdasarkan laporan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, penerjemahan Al-Qur’an hingga kini telah mencakup 28 bahasa daerah.

Prestasi ini diharapkan terus berkembang seiring komitmen BMBPSDM dalam menyediakan literasi keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Pada tahun 2024, lembaga tersebut juga sedang mengerjakan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam empat bahasa daerah lainnya, yakni Ternate, Betawi, Dayak Ngaju, dan Kupang.

Kepala BMBPSDM, Suyitno, menjelaskan bahwa kosakata bahasa Betawi banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab dan Cina.

para pengkaji penterjemahan Al-Aquran ke Bahasa Betawi – Istimewa.

“Misalnya, kata ane dan ente berasal dari bahasa Arab, sementara elu dan gua dipengaruhi oleh bahasa Cina,” ujarnya. Suyitno juga menyoroti pengaruh bahasa gaul terhadap perubahan dalam kosakata sehari-hari.

“Selain itu, bahasa gaul juga memengaruhi perubahan atau pergeseran kosakata sehari-hari,” ungkapnya dalam acara Pembahasan Hasil Penerjemahan yang diadakan di Jakarta pada Jumat (22/11/2024).

Di sisi lain, Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO), Moh. Isom, menekankan pentingnya pemilihan kata yang tepat dalam proses penerjemahan, seperti pada istilah “Tuhan.” jelas Isom

“Di berbagai bahasa daerah, misalnya, kata ‘Tuhan’ harus dipilih dengan hati-hati agar sesuai dengan makna aslinya,” tambahnya.

Ketua Pusat Studi Betawi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Yani, menyebutkan bahwa bahasa Betawi yang digunakan dalam penerjemahan adalah bahasa Betawi tengah.

Para peesrta acara sedang berpose bersama – Istimewa.

“Bahasa Betawi pinggir banyak bercampur dengan bahasa daerah sekitar, sehingga bahasa Betawi tengah dianggap lebih sopan,” kata Yani.

Lebih lanjut, Yani menyoroti keunikan dialek bahasa Betawi. “Dialek khas bahasa Betawi, seperti halnya bahasa Jawa Ngapak, sering membuat pendengarnya tersenyum atau tertawa, bahkan saat mendengarkan ceramah dari ulama Betawi,” tambahnya.

Acara yang digelar pada 22-24 November 2024 di Jakarta ini merupakan inisiatif Puslitbang LKKMO dan dihadiri oleh sejumlah tokoh, termasuk Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Bidang Akademik, Ahmad Tholabi, serta Ketua Tim Penerjemahan Qur’an ke dalam bahasa daerah, Nurrahmah.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara BMBPSDM, Pusat Studi Betawi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi, MUI Jakarta, dan Pemda DKI Jakarta. (Azk)

 

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com