Beritabanten.com – Pagi belum sepenuhnya ramai di simpang jalan utama Pamulang. Kendaraan mulai merayap, suara klakson bersahutan, dan di tengah pusaran aktivitas itu, berdirilah sebuah bangunan yang kini tak lagi sekadar penanda arah: Tugu Pamulang.

Ia menjulang di jantung Kota Tangerang Selatan—kota yang terbilang muda, namun tumbuh dengan cepat sejak resmi berdiri pada 2008. Di kota yang terus mencari bentuk dan identitasnya, tugu ini menjadi semacam pernyataan: bahwa sebuah daerah tak hanya dibangun dari beton dan aspal, tetapi juga dari makna dan simbol.

Namun siapa sangka, ikon yang kini dibanggakan itu pernah menjadi bahan olok-olok.

Pada awal kemunculannya, Tugu Pamulang justru memantik gelombang kritik. Desainnya dianggap ganjil, bahkan tak sedikit yang menyebutnya menyerupai sarang burung atau rangka tak beraturan. Di ruang-ruang percakapan publik—terutama media sosial—komentar bernada satire hingga kekecewaan mengalir deras. Tahun 2021 menjadi titik ketika kritik itu mencapai puncaknya: viral, tajam, dan sulit diabaikan.

Bagi sebagian kota, kritik mungkin dianggap ancaman. Namun bagi Tangerang Selatan, ini menjadi cermin.

Alih-alih defensif, Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau Pemkot Tangsel memilih mendengar. Sayembara desain dibuka, ruang partisipasi publik diperluas, dan sebuah proses refleksi pun dimulai. Tugu yang semula dipertanyakan, perlahan dirombak yang bukan sekadar fisiknya, tetapi juga ruh yang dikandungnya.

Adalah kepemimpinan Benyamin Davnie-Pilar Saga jadi penentu mencapai puncak ketika revitalisasi tugu diresmikan pada 8 Januari 2022 oleh Wahidin Halim. Sejak saat itu, wajah baru Tugu Pamulang lahir, lebih tegas, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan identitas masyarakatnya.

Kini, jika kita berdiri di hadapannya, kesan pertama yang muncul adalah ketenangan. Warna putih keperakan yang menyelimuti tubuh tugu menghadirkan aura bersih dan sakral. Bukan tanpa alasan, warna ini dipilih sebagai representasi kesucian dan nilai-nilai spiritual yang selaras dengan karakter masyarakat Banten.

Saat malam turun, suasana berubah. Lampu sorot biru dan kuning menyala perlahan, memandikan tugu dalam cahaya yang kontras namun harmonis, dingin sekaligus hangat. Di momen itu, tugu seakan berbicara lebih pelan, lebih dalam.

Bentuknya pun menyimpan cerita.

Enam pilar kokoh berdiri menopang struktur utama—melambangkan rukun iman, fondasi keyakinan dalam kehidupan masyarakat. Di bagian tengah, tersusun ornamen menyerupai gelombang berlapis lima, simbol dari rukun Islam yang menjadi panduan hidup.

Lebih ke atas, bentuknya menyerupai kubah dengan sentuhan mahkota yang otomatis mengingatkan pada kemegahan arsitektur Masjid Agung Demak. Di sana, tersirat makna tauhid: keesaan Tuhan sebagai puncak dari segala nilai.

Tugu ini bukan sekadar dilihat. Ia untuk dibaca.

Detail-detail kecil pada tubuhnya memperkaya narasi yang dibangun. Relief bunga melati terukir halus di pilar, melambangkan keterbukaan—sebuah harapan akan masyarakat yang inklusif dan saling menerima. Motif batik yang menyertainya menghadirkan kesan lembut namun bijaksana, sementara pola tumpal dan mandalika menjadi simbol harmoni sekaligus perlindungan dari hal-hal buruk.

Setiap lekukan, setiap ornamen, seperti menyimpan pesan yang ingin diwariskan.

Bahwa identitas bukan sesuatu yang instan.

Ia dibentuk dari dialog, dari kritik, dari keberanian untuk mengakui kekurangan, dan dari kemauan untuk berubah.

Kini, Tugu Pamulang telah menjelma menjadi lebih dari sekadar landmark. Ia adalah titik temu—antara masa lalu yang penuh kritik dan masa kini yang lebih matang. Ia adalah bukti bahwa suara masyarakat, sekecil apa pun, dapat mengubah wajah kota.

Di tengah lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, tugu itu tetap berdiri. Diam, namun sarat makna.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.

Ia tidak hanya menunjukkan arah jalan, tetapi juga arah perjalanan sebuah kota dalam menemukan jati dirinya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com