Beritabanten.com – CEO Alvara Institute, Hasanuddin Ali, menilai Survei Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah cerminan lapangan.
“Membaca hasil survei seperti melihat cermin. Potret bisa dimodifikasi, tapi cermin menampilkan kenyataan,” katanya, dalam keterangan tertulis, Jumat (20/9/2024).
“Sebagai peneliti, kita selalu dipuji oleh yang merasa menang, dan dicaci oleh yang tidak puas, itu sudah hukum alam,” dia tambahkan.
Seorang peneliti, dikatakan, harus memegang teguh metodologi dan kaidah survei yang benar, agar menghasilkan sesuatu yang bisa mencerminkan kondisi sebenarnya.
Dia menyarankan menempatkan survei tersebut secara lebih luas bukan hanya berdasarkan data tahun 2024.
“Survei ini bersifat longitudinal, artinya alat ukur yang digunakan BPS sudah teruji dan konsisten sejak 2010. Ini membuat kita bisa melihat perubahan secara berkesinambungan dari tahun ke tahun,” paparnya.
Dia memberi tiga catatan, survei tersebut harus dilihat secara longitudinal berupa perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya, itu yang pertama.
“BPS telah menggunakan metodologi yang sama sejak 2010, yang artinya data ini sangat kredibel dan alat ukurnya sudah teruji,” ujarnya.
Kedua, sampel yang memadai 14.000 responden, sudah sangat memadai dan mencerminkan realitas.
“BPS adalah gudangnya para peneliti yang kompetensinya sudah teruji. Survei ini dilakukan dengan sangat baik dan profesional,” jelasnya.
Ketiga, peningkatan kepuasan jemaah haji sebesar 1% saja merupakan tantangan besar dalam industri jasa.
“Penyelenggaraan haji adalah event organizer terbesar di dunia yang melibatkan ribuan orang. Semua indikator layanan naik tahun ini, artinya tidak ada satu alasan pun untuk menyatakan penyelenggaraan haji 2024 gagal,” tegasnya.
Dia menyarankan Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), agar indeks pelayanan di Armuzna, yang merupakan titik krusial dalam pelaksanaan ibadah haji, dijadikan target utama dalam Key Performance Indicators (KPI).
Namun, Hasanuddin menekankan bahwa berbagai inovasi dan kebijakan yang diterapkan Kemenag telah mendapatkan apresiasi dari jemaah.
“Inovasi yang dilakukan oleh Kemenag, termasuk kebijakan-kebijakan baru dalam layanan haji, sangat dihargai oleh jemaah. Ini adalah bukti nyata dari upaya peningkatan kualitas layanan,” tutup dia. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan