Oleh: Siti Napsiyah

(Dosen Prodi Kesejahteraan Sosial, FDIK, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

Riuh Peringatan, Sunyi Kenyataan

Peringatan May Day selalu datang dengan gema yang sama: tuntutan upah layak, jaminan kerja, dan kesejahteraan buruh. Jalanan dipenuhi suara, spanduk dibentangkan, dan janji kembali diulang. Apalagi May Day 2026 diperingati oleh ribuan massa dari berbagai penjuru terpusat di Jakarta yang dihadiri oleh Presiden dan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Namun, setelah semua itu berlalu, ada satu pertanyaan yang tersisa, “Siapa yang masih tertinggal dari perayaan ini?”

Di Banten—salah satu jantung industri Indonesia—jawabannya tidak sulit ditemukan. Mereka adalah buruh perempuan.

Pagi di kawasan industri Tangerang, Serang, hingga Cilegon dimulai sebelum matahari terbit. Perempuan-perempuan berangkat bekerja dengan langkah cepat, sering kali meninggalkan rumah saat anak-anak mereka masih terlelap. Sepulang kerja, tubuh lelah tak menghentikan peran mereka di rumah: memasak, merapikan, mengasuh, dan memastikan kehidupan tetap berjalan.

Sebut saja Rina (bukan nama sebenarnya), buruh pabrik sepatu di Tangerang. Ia berangkat pukul lima pagi, menitipkan dua anaknya pada ibunya. Malam hari, ketika ia pulang, anak-anaknya menunggu dengan cerita yang tak selalu sempat ia dengarkan. “Kadang saya merasa cuma jadi pencari uang, bukan ibu yang benar-benar hadir,” ucapnya lirih.

 

Perempuan Bekerja Dua Kali

Kisah Rina adalah potret yang berulang. Data menunjukkan sekitar 1,9 juta perempuan di Banten bekerja, sebagian besar sebagai buruh atau karyawan. Sementara itu, lebih dari 2,4 juta perempuan lainnya berada di luar angkatan kerja karena mengurus rumah tangga. Angka ini menegaskan satu kenyataan: perempuan selalu bekerja, hanya saja tidak selalu diakui.

Dalam perspektif ekonomi feminis, kondisi ini dikenal sebagai beban ganda. Nancy Folbre (2001) menegaskan bahwa kerja perawatan dalam keluarga merupakan fondasi ekonomi yang sering kali tidak dihitung dalam indikator kesejahteraan.

Lebih jauh, Lise Vogel (1983) melalui teori reproduksi sosial menjelaskan bahwa sistem ekonomi modern bertumpu pada kerja-kerja pengasuhan dan perawatan yang sebagian besar dilakukan oleh perempuan.

Kelelahan yang Menjadi Masalah Sosial

Perempuan bekerja delapan hingga sepuluh jam di pabrik, tetapi tetap memikul tanggung jawab penuh di rumah. Anak-anak dititipkan, waktu kebersamaan menyempit, dan kelelahan menjadi rutinitas yang dinormalisasi. Maka, persoalan kesejahteraan sosial menjadi nyata. Kesejahteraan tidak hanya soal pendapatan, tetapi juga tentang kualitas relasi dalam keluarga, pengasuhan anak, serta kesehatan fisik dan mental. Ketika ibu mengalami kelelahan kronis, maka yang terancam bukan hanya dirinya, tetapi juga kualitas kehidupan keluarga.

Sebagai perempuan, sulit untuk tidak merasa tersentuh sekaligus terusik. Ada ketangguhan luar biasa dalam diri buruh perempuan. Namun ada pula kelelahan yang terus dipendam—dan terlalu sering dianggap wajar.

 

Setelah May Day: Saatnya Keberpihakan

May Day seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi titik balik. Kepada Pemerintah daerah di Banten perlu menghadirkan kebijakan ramah buruh perempuan, misalnya dengan memberikan fasilitas penitipan anak di kawasan industri, transportasi kerja yang aman, serta pengawasan ketenagakerjaan yang sensitif gender; Kepada perusahaan, harus memastikan jam kerja yang manusiawi, ruang laktasi yang layak, serta perlindungan hak maternitas yang tidak diskriminatif; Kepada Serikat Buruh, sangat penting untuk menempatkan isu buruh perempuan sebagai agenda utama, bukan pelengkap; dan kepada masyarakat,  hendaknya mengubah cara pandang bahwa buruh perempuan bukan sekadar pekerja tambahan, melainkan pilar utama keberlangsungan keluarga dan ekonomi.

Jika tidak, maka May Day hanya akan menjadi gema yang cepat hilang. Sementara itu, perempuan seperti Rina akan terus berangkat di pagi yang gelap—menopang industri, menjaga keluarga, dan menanggung beban yang belum sepenuhnya kita akui.

Jangan sampai, yang paling tersisa dari May Day bukanlah apa yang sudah diperjuangkan, melainkan siapa yang masih kita lupakan.***

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com