Beritabanten.com – Pagi itu, ruang Command Center Kota Tangsel dipenuhi suara langkah, bisik-bisik, dan ketukan keyboard laptop.

Di salah satu sudut, Ahmad Rifai, 35 tahun, anggota komunitas pemuda lingkungan sekaligus Ketua RT 001 RW 008 Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang tampak semangat.

Dia membuka laptopnya, menyiapkan catatan untuk sesi diskusi Pra Musrenbang RKPD 2027 di salah satu ruangan Puspemkot Tangsel, Kamis 2 April 2026.

Ia tahu, apa yang ia tulis hari ini bisa menjadi bagian dari rencana pembangunan kota lima tahun ke depan.

Sebanyak 134 perwakilan organisasi kepemudaan hadir, baik secara langsung maupun daring, membawa ide, kritik, dan aspirasi mereka.

Mereka duduk berhadap-hadapan dengan pejabat daerah, menciptakan ruang di mana generasi muda dan pengambil kebijakan benar-benar bisa bertemu.

“Asisten Daerah I, Chaerudin, menekankan bahwa pemuda bukan sekadar penerus. Mereka adalah motor utama pembangunan, agen perubahan, sekaligus kontrol sosial,” kata dia,

Dengan jumlah pemuda yang mencapai hampir seperempat dari total warga Tangsel, pengaruh mereka dalam arah pembangunan menjadi terlalu besar untuk diabaikan.

Ahmad yang terbiasa bergerak di komunitas akar rumput, merasakan atmosfer berbeda dari pertemuan sebelumnya.

“Biasanya aspirasi kami cuma terdengar di komunitas sendiri. Hari ini, suara kami didengar oleh pemerintah. Rasanya seperti bisa membangun kota dengan tangan sendiri karena ada ruang untuk berkontribusi nyata,” ujarnya.

Diskusi mengalir dari pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, kepemimpinan, hingga isu diskriminasi berbasis gender.

Beberapa pemuda menekankan pentingnya akses digital, sementara yang lain mengangkat isu lingkungan.

Semua dibingkai oleh lima dimensi pembangunan kepemudaan yang menjadi fokus Pemkot Tangsel: pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan kesempatan kerja, partisipasi serta kepemimpinan, dan penghapusan diskriminasi.

Sementara itu, Asisten Daerah atauAsa I Kota Tangsel Chaerudin menegaskan bahwa pembangunan kepemudaan harus partisipatif sejak awal.

“Hari ini bukan sekadar forum diskusi, tapi laboratorium ide. Semua gagasan akan diperhitungkan dalam kebijakan yang terintegrasi,” ujarnya.

Di luar ruangan, matahari mulai menembus jendela besar. Suara tawa dan diskusi ringan masih terdengar, tetapi di dalam hati setiap pemuda yang hadir ada kesadaran: bonus demografi Tangsel bukan sekadar angka. Ini adalah energi yang menunggu untuk dilepaskan.

Saat sesi berakhir, Ahmad menutup laptopnya. Ia tersenyum, membawa pulang ide-ide baru, koneksi, dan keyakinan bahwa pemuda memang bisa menjadi motor pembangunan.

“Ini baru awal. Sekarang kami harus bergerak, bukan hanya bicara,” katanya, sebelum melangkah keluar dari Command Center.

Tangsel, kota yang tengah menatap masa depan, perlahan membuktikan bahwa pembangunan yang melibatkan generasi mudanya bukan sekadar slogan, tapi praktik nyata yang memadukan suara muda dengan kebijakan kota.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com