Beritabanten.com – Langkah cepat dalam penanggulangan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) merupakan pilihan tepat dan bermanfaat menuju kota modern yang menyamankan warganya.

Sampah kerap menjadi momok dalam membangun sebuah kota mengingat keterbatasan lahan sekaligus mekanisme kerja sama antar wilayah yang belum menemukan bentuknya yang sempurna.

Dalam perjalanan pengelolaan sampah Tangsel yang melibatkan pihak luar dalam penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi cermin penataan kembali yang lebih realistis sekaligus bernilai guna.

Karenanya  Pemerintahan Kota (Pemkot) Tangsel secara resmi memulai tahapan pembangunan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan menggelar Kick Off Meeting.

Para pemenang tender terlibat secara aktif mempresentasikan tahapan pengerjaan PSEL bersama Pemkot Tangsel yang dilakukan di Serpong pada hari Kamis kemarin 15 Mei 2025.

Peserta rapat perdana PSEL Tangsel

Terpantau media peserta rapat juga sangat antusias mendengarkan paparan awal yang disampaikan oleh Pemkot Tangsel untuk memantik rapat lebih terukur dan terencana.

Sinergi dan Percepatan 

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa Kick Off Meeting pertama tersebut merupakan permulaan penting dalam melahirkan sinergi target sekaligus mempercepat tahapan pembangunan.

“Hari ini kita rapat bagaimana menyatukan pikiran antara jajaran pemerintah Pemkot Tangsel dengan konsorsium untuk menyukseskan proyek ini,” ucap Pilar dalam paparan awal.

“Karena setelah kemarin penyerahan SPPL (Surat Penunjukan Pemenang Lelang) kan ada tahapan-tahapan berikutnya, mudah-mudahan abis ini kita langsung gerak cepat,” dia tambahkan.

Dia tidak lupa mengingatkan bahwa proyek PSEL ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu 3 tahun 7 bulan.

Selian itu, dikatakan PSEL merupakan proyek KPBU sistem pengelolaan persampahan (waste management) yang terletak di Kelurahan Serpong (TPA Cipeucang), melayani Kota Tangerang Selatan.

Fasilitas tersebut  diproyeksikan mampu mengolah 1.100 ton sampah per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama.

PSEL Tangsel menggunakan teknologi berstandar Eropa, ramah lingkungan, tanpa bau, tanpa limbah dan direncanakan akan menghasilkan listrik sebesar 19.6 Mega Wat (MW) per jam dengan harga jual kepada PLN sesuai Perpres 35/2018 yaitu 13,35 cents/kWh.

Selain mendukung energi terbarukan, proyek ini juga menjawab tantangan pengelolaan sampah di Tangsel yang terus meningkat hingga 3,2% per tahun, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Jadi kami juga mengantisipasi dalam beberapa tahun kemudian ini mungkin ada eskalasi, kita ada penambahan kapasitas kembali, tapi kita sudah hitung semuanya,” kata dia.

Perwakilan konsorsium menyatakan PLN siap beli lsitrik PSEL Tangsel

Adapun mengenai skema pembiayaan PSEL mengacu pada aturan Kementerian Keuangan, dengan maksimum tipping fee Rp500.000 per ton. Namun hasil kajian menyebutkan kebutuhan biaya pengolahan mencapai Rp529.000 per ton.

“Skema pembagian antara pusat dan daerah akan difinalisasi usai studi kelayakan selesai,” katanya.

Lalu bagaimana menyiasati pengelolaan sampah selama pembangunan PSEL itu berjalan?

Pilar meyakinkan peserta rapat, bahwa Pemkot Tangsel telah mempersiapkan langkah antisipasi jangka pendek dengan lokasi pembuangan sampah sementara.

“Pemkot Tangsel juga telah menyiapkan lokasi pembuangan sementara di kawasan Cipeucang dan menjalin kerja sama pembuangan sampah dengan daerah lain seperti Pandeglang, Lebak, Tangerang, hingga wilayah Jawa Barat,” demikian dia menutup. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com