Beritabanten.com.– Ada banyak pertandingan besar dalam sejarah Piala Dunia, tetapi duel Argentina melawan Inggris selalu memiliki cerita lebih panjang dari sekadar skor akhir. Pada semifinal Piala Dunia 2026, dua kekuatan sepak bola dunia itu kembali dipertemukan dalam laga yang membawa memori masa lalu, rivalitas klasik, dan satu pertanyaan besar: bagaimana akhir perjalanan Lionel Messi di panggung tertinggi sepak bola dunia?
Argentina memastikan tiket semifinal setelah melewati laga dramatis melawan Swiss. Bermain di Kansas, Amerika Serikat, Sabtu (11/7/2026), skuad asuhan Lionel Scaloni harus bekerja keras sebelum mengamankan kemenangan 3-1 melalui babak tambahan waktu.
Argentina lebih dulu membuka keunggulan lewat Alexis Mac Allister pada menit ke-10. Namun Swiss tidak menyerah dan mampu menyamakan kedudukan melalui Dan Ndoye pada menit ke-67. Situasi berubah setelah Swiss harus bermain dengan sepuluh pemain akibat kartu kuning kedua yang diterima Breel Embolo.
Meski unggul jumlah pemain, Argentina tidak langsung mudah menembus pertahanan Swiss. Pertandingan bahkan harus berlanjut ke babak perpanjangan waktu sebelum Julian Alvarez dan Lautaro Martinez memastikan kemenangan Argentina.
Di tengah kemenangan tersebut, sorotan tetap tertuju kepada Lionel Messi. Pemain berusia 39 tahun itu memang tidak mencetak gol dalam pertandingan tersebut, tetapi perannya sebagai pemimpin tim tetap menjadi pusat perhatian. Messi masih menjadi simbol utama perjalanan Argentina sejak membawa negaranya meraih gelar Piala Dunia 2022.
Kini, Messi akan menghadapi sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang karier internasionalnya: bermain melawan Inggris di pertandingan resmi bersama tim senior Argentina.
Pertemuan Argentina dan Inggris selalu memiliki beban sejarah tersendiri. Kedua negara bukan hanya bertarung memperebutkan kemenangan, tetapi juga membawa kenangan panjang dari pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Salah satu momen paling terkenal terjadi pada Piala Dunia 1986 ketika Diego Maradona menciptakan gol “Tangan Tuhan” yang kontroversial sekaligus gol solo spektakuler yang dianggap sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah turnamen.
Rivalitas kembali memanas pada Piala Dunia 1998 ketika David Beckham menerima kartu merah dalam pertandingan melawan Argentina. Sejak saat itu, setiap pertemuan kedua negara selalu menyimpan tensi tinggi dan perhatian besar dari dunia sepak bola.
Bagi Messi, laga semifinal ini memiliki makna khusus. Meski telah tampil lebih dari 200 kali untuk Argentina dan mencetak lebih dari seratus gol, ia belum pernah merasakan atmosfer menghadapi Inggris dalam pertandingan internasional.
Pertandingan ini juga menjadi ujian bagi dua generasi berbeda. Argentina datang dengan pengalaman Messi dan mental juara setelah sukses di Qatar 2022, sementara Inggris membawa generasi pemain baru yang memiliki ambisi besar untuk mengakhiri penantian panjang meraih trofi dunia.
Di usia yang mendekati akhir karier internasionalnya, Messi kembali berada di panggung yang mungkin menjadi salah satu kesempatan terakhirnya menambah cerita dalam sejarah sepak bola. Namun Inggris tentu tidak datang hanya sebagai lawan nostalgia.
Semifinal Argentina kontra Inggris bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol lebih banyak. Ini adalah pertemuan antara sejarah, gengsi, dan dua negara yang memiliki hubungan panjang dalam dunia sepak bola.
Pada Rabu (15/7/2026), dunia akan menyaksikan apakah Messi mampu membawa Argentina melewati rival lama mereka, atau justru Inggris yang berhasil menulis bab baru dalam salah satu rivalitas paling ikonik Piala Dunia. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan