Beritabanten.com – Penggunaan CCTV pada fasiltas publik makin marak karena bermanfaat yang salah satunya merekam perbuatan seseorang secara real time.
Namun, kemanfaatan CTTV dipandang berbeda oleh Ketua Harian LPTQ Kota Tangsel KH Muhammad Sobron Zayyan ketika membahas konsep muhasabah.
Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah tersebut membahasnya ketika mengupas kitab Risalah al-Mustarsyidîn dalam Pengajian Kitab Kuning MUI Kota Tangsel di Islamic Center Baiturrahmi BSD, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel pada hari ini Rabu 17 September 2025.
Nah, kata muhasabah diartikan oleh KH Sobron sebagai cara menghitung amal perbuatan di muka bumi yang harus dilakukan oleh setiap muslim.
Kata dia, kebanyakan orang lebih takut pada CCTV karena takut hukuman di dunia daripada kepada Allah SWT yang akan memberikan hukuman nanti.
“Sekarang mah kebanyakan orang lebih takut CCTV dibandingkan pada Allah SWT, padahal kan ancamannya jelas nanti di hari kemudian,” katanya.
Alumnus doktoral Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta tersebut menegaskan pengawasan Allah SWT lebih detail dibandingkan CCTV yang kerap lebih ditakuti tersebut.
“Jika kalau kita sendirian tanpa ada pengawasan dan takut melakukan dosa, itu namanya muhasabah paling otentik. Ini mah takut mulu sama CCTV,’ katanya.
Dia menyebutkan konsep riya yakni ingin dilihat orang, sum’ah yakni ingin didengar orang dan segala perasaan yang berujung pamerkan diri akan berdampak buruk.
“Kalau melakukan kebaikan dengan target mendapat pujian begitu rupa dari sesama bisa hilang itu pahala. Harus pandai berpura-pura kalau ditanya tentang amal kebaikan kita,” jelas dia.
Meski demikian, KH Sobron punya cara jitu jika terjerambab dalam perbuatan pamer amal baik pada seama. Caranya dengan cepat meminta ampun atau biasa disebut istighfar, tapi harus bertegad tidak akan mengulangi lagi.
“Kita harus sering-sering baca istughfar dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama di lain waktu,” dia sarankan.
Sumber media menyebutkanx kitab Risalah al-Mustarsyidîn karya dari Imam Abu Abdillah al-Harits al-Muhasibi, seorang sufi dan intelektual Muslim besar dari masa lalu.
Kitab ini menguraikan prinsip-prinsip fundamental Islam tentang moral, akhlak, dan penyucian jiwa, serta menjadi bacaan wajib dan rujukan penting bagi studi spiritualitas di dunia Islam dan Barat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan