Beritabanten.com – Sangat menarik menilik Golkar dalam figur ketua umumnya yang bertiga orang ini, dari sisi aktifis sampai trobosan politik. Bahlil Lahadalia, Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung, yang ketigaa sama-sama kader HMI. Dan ketiganya beradala dalam turbulensi politik tanah air.
Sejarh golkar selalu mewarnai politik tanah air karena nilai visi pemimpinya, menterjemahakan makna kekaryaan sekaligus mampu tantanga zamna.
Banyak kalangan menempatkan kepemimpinan Bahlil sebagai simbol tranformasi Golkar dengan pewajahan baru yang dikenal ceplas ceplos tapi mengen. “Masuk itu barang”, ucap Bahlil kalau mengakhiri statemen politik
Ini kontras dengan dua pendahulunya Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung, tapi punya persimpangan sama.

Aktifis HMI
Bahlil menyusul keduanyaa, menempuh jalan aktivisme sejak muda melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Idealisme dan militansi organisasi inilah yang menempanya sebagai kader tangguh.
Akbar Tanjung tercatat berhasil membawa Golkar bangkit dari keterpurukan pasca-Reformasi hingga meraih kemenangan dalam Pemilu 2004. Kini, harapan serupa muncul pada Bahlil: menjadi katalis kebangkitan Golkar di era politik yang kian kompetitif.
Di sisi lain, rekam jejak Bahlil sebagai pengusaha sukses sekaligus mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menambah dimensi kepemimpinan yang jarang dimiliki politisi pada umumnya.
Dalam banyak hal, kiprahnya mengingatkan publik pada Jusuf Kalla—seniornya di HMI—yang juga pernah memimpin Golkar sambil membawa nuansa profesional dan pendekatan pragmatis dalam politik nasional.
Tak berlebihan jika banyak yang menyebut Bahlil sebagai sintesis dari dua figur legendaris partai beringin: idealisme aktivis ala Akbar Tanjung berpadu dengan naluri pengusaha Jusuf Kalla.

Kemampuan Adaptasi Bahlil
Di pundaknya kini bertumpu ekspektasi besar: memastikan Golkar tetap relevan di mata generasi muda, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menjawab aspirasi masyarakat luas.
Dalam dinamika politik kontemporer, sosok Bahlil Lahadalia seolah menjadi cerminan harapan baru. Bukan hanya sekadar meneruskan tradisi, tetapi juga menghidupkan semangat pembaruan yang bisa menjadi penentu masa depan Partai Golkar. (Red)
Tulisan disadur dari ajnn.net.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan