Beritabanten.com – Kasus HIV menghantuai warga Kabupaten Pandeglang yang kemungkinan akan menyasar ke beberapa segemen masyarakat, terutama pada ibu hamil yang kemungkinan akan berlanjut pada janin yang lahir.

Hal tersebut seiring dengan penambahan jumlah kasus HIV yang pada tahun terakhir meningkat meski hanya 12 kasus.

Kabar penambahan tersebut mengemuka dalam data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mencatat penambahan 12 kasus HIV dari Januari hingga Mei 2025. Jumlah ini menambah akumulasi kasus dari tahun sebelumnya yang berjumlah 333 kasus menjadi total 345 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pandeglang, Dian Handayani menjelaskan, penemuan kasus baru ini umumnya berasal dari hasil program deteksi dini melalui triple eliminasi yang menyasar ibu hamil, serta kelompok risiko seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, penderita Infeksi Menular Seksual (IMS), dan pasien TBC.

“Kenaikannya relatif kecil, hanya 12 orang dari awal tahun sampai Mei. Tapi tetap harus jadi perhatian karena HIV tidak bisa disembuhkan dan pengobatannya seumur hidup” ucapnya, dikutip redaksi dari RII, Selasa (17/06/2025).

Dia menyebut, mayoritas penderita HIV di Pandeglang berasal dari kelompok usia produktif, yakni 18 hingga 45 tahun, dengan proporsi lebih banyak perempuan.

Saat ini, jumlah pasien HIV yang sedang mengakses layanan pengobatan antiretroviral (ARV) tercatat sebanyak 247 orang.

Mereka menjalani terapi di enam fasilitas layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) yang tersebar di empat Puskesmas yaitu di Cadasari, Saketi, Labuan, dan Panimbang, serta dua rumah sakit yakni di RSUD Berkah dan RS Aulia.

Dia melanjutkan, selain itu, Dinkes bersama Puskesmas juga rutin melakukan penjangkauan kepada kelompok populasi seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Namun proses ini tidak mudah karena keberadaan mereka kerap tersembunyi.

Di Dinkes sendiri penanggulangan HIV dilakukan secara berjenjang mulai dari pelatihan petugas Puskesmas untuk melakukan screening, konseling, hingga penguatan layanan pengobatan.

Namun menurut Dian, tantangan terbesar bukan hanya soal akses pengobatan, melainkan masih adanya stigma buruk dari masyarakat soal penyakit HIV. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com