Beritabanten.com – Pembangunan pesat yang mengiringi kehadiran Kota Tangerang Selatan atau Tangsel menyisakan kemungkinan terkubur identitas jati diri budaya.

Beragam aktivitas olahraga modern sudah terbiasa dilakukan warga. Lalu bagaimana nasib seni bela dir khas Nusantara seperti pencak silat?

Pertanyaan besar tersebut telah lama bersemai dalam ingatan para pelaku olahraga pencak silat di Tangsel. Mengingat Tangsel mempunyai sejarah panjang pencak silat yang dibuktikan dengan masih hadirnya bebarapa padepokan pencak silat.

Pemerintah Kota atau Pemkot Tangsel terus berupaya mewadahi beragam padepokan pencak selat tersebut. Ini terlihat jelas dalam Festival Pencak Silat C-MORE Championship yang dihelat pada Jumat 18 Juli 2025.

Hajatannya, mengambil tempat di Plaza Pusat Pemerintah Kota atau Puspemkot Tangsel Jalan Maruga Raya Kelurahan Ciputat, Kecamatan Ciputat, Kota  Tangsel.

Adalah Wakil Wal Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan yang berkesempatan membuka acara tersebut. Dikabarkan, Pilar sangat antusias mengikuti acara yang rata-rata diikuti oleh perwakilan padepokan Pencak Silat se- Tangsel

Pilar larut bersama para tamu undangan menyaksikan penampilan pencak silat – Foto Pemkot Tangsel.

Pelestarian Simbol Budaya

Pilar menilai helatan tersebut mempunyai nilai strategis sebagai rangakain dalam melestarikan budaya lokal yang sangat bermanfaat untuk menguatkan karakter bangsa.

“Ajang kompetisi pencak silat, acara tahunan ini menjadi simbol pelestarian budaya lokal dan penguatan karakter bangsa,” kata dia melalui pesan elektronik, Senin 21 Juli 2025.

Menurut dia, acara tersebut merupakan ruang strategis untuk memperkenalkan komitmen kota dalam menjaga akar budayanya.

“Silat itu adalah merupakan karakter diri kita. Kalau mau tahu siapa diri kita sebenarnya ya melalui seni budaya,” tegas dia menirukan semangat Busido dalam bela diri Jepang.

“Seni budaya yang paling mudah untuk ditunjukkan ke mata dunia itu adalah silat. Dan itu memang karakter bangsa Indonesia, seni budaya yang khas bangsa Indonesia. Nah, ini yang harus dilestarikan,” dia tambahkan.

Kekompakan Wali Kota Pilar bersama para pengelola padepokan Pencak Silat di Tangsel – Pemkot Tangsel.

Kolaborasi Dindik dan IPSI

Pilar menyebut hajatan tersebut tidak akan sukses terselenggara tanpa peran aktif dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Dinas Pendidikan Tangsel, khususnya Bidang Kebudayaan.

Menurutnya, kolaborasi Dindik Tangsel dan IPSI mampu menjadikan penyelenggaraan tahun ini lebih meriah dan inklusif. Bahkan penambahan peserta diwarnai oleh kedatangan dari luar provinsi.

“Pesertanya tak hanya datang dari Tangsel, tapi juga dari luar kota hingga luar provinsi,” kata dia dengan bangga.

Pilar juga mengungkapkan, Pemkot Tangsel sejak dua tahun terakhir telah memasukkan silat dalam kurikulum muatan lokal tingkat SD dan SMP negeri.

Langkah ini dinilai penting untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya sejak dini yang pada gilirannya menjadi tahapan penting dalam menguatan karakter anak di Tangsel.

“Nah itulah kita melahirkan generasi-generasi yang terus mempertahankan pencak silat ke depannya. Kalau mengenalkan, mencintai ya pasti mereka akan mempertahankan budaya silat ini sebagai ciri khas bangsa atau identitas bangsa kita,” kata dia.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta Festival Pencak Silat C-MORE Championship yang semakin meningkat, bahkan berasal dari luar kota dan luar provinsi.

“Hal ini menjadi bukti bahwa pencak silat masih memiliki magnet kuat sebagai olahraga tradisional yang sarat nilai budaya,” demikian Pilar.

Pilar memukul gong tanda pembukaan Festival Pencak Silat C-MORE Championship di Puspemkot Tangsel – Foto Pemkot Tangsel.

Orang Tua Puas dan Festival Sukses

Salah seorang orang tua dari peserta Festival Pencak Silat C-MORE Championship Dedeh Banawi mengaku puas dengan palaksnaannya rapih dan tanpa kecelakaan.

Dia mengantar anaknya bernama Faiz yang merupakan siswa SDN Parakan dan tinggal di  RW 003 RW 009 Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang Kota Tangarang Selatan.

Menurt dia, pelaksanaan di dalam ruangan memungkinkan pertandingan tidak terganggu dari guyuran hujan yang kini melanda di Tangsel.

“Kemarin sih bagus. Coba kalau di luar ruangan dan terjadi hujan bisa repot itu anak saya bertanding. Alhamdulillah dapat juara dua,” katanya penuh bangga.

Dedeh juga menjelaskan, anaknya merupakan siswa dari padepokan pencak silat di bawah pimpinan Septa yang terletak di Kelurahan Pamulang Barat Kecamatan Pamulang. Anaknya, dikatakan, berlatih secara rutin tiap malam selasa setiap bulan.

“Anak saya menjadi lebih disiplin sejak mengikuti latihan pencak silat. Mungkin emosinya matang karena kan habis ketika olahraga.” dia memberi alasan.

Kedepannya dia berharap, Pemkot Tangsel lebih menyelenggarakan acara sejenis dengan mengikutkan para pengamat tingkat nasional. Ini akan mempelabar harapan anaknya yang sangat mencintai pencak silat.

“Ya minimal ada pengamat sekelas nasional. Syukur-syukur anak saya bisa direkomendasikan untuk ikut pelatihan lanjutan. Kan bagus tuh buat karakter anak,” demikian Dedeh menutup. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com