Umar Bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang mempunyai ‘Inna Lillah Wa niInna Ilaihi Raji’un’ yang sangat terkenal sekaligus paling maju untuk ukuran zamannya.
Hal tersebut terbaca jelas dalam statement spektakuler pertama yang meluncur dari Umar Bin Abdul Aziz, begitu dilantik sebagai Khalifah Bani Umayyah, sebagai Khalifah ke 8 sejak Khulafaurrasyidin.
Tentu sebuah narasi yang rada nyeleneh dan mengagetkan. Sebab, jamaknya di kolong langit ini, siapa yang mendapatkan posisi yang tinggi dan terhormat seperti itu apalagi lagi memang menjadi dambaan, lazimnya yang terucap adalah Alhamdulillah dan semacamnya.
Diriwayatkan, pada awalnya beliau menolak jabatan yang begitu tinggi itu. Potret manusia langka yang jauh berbeda dengan manusia kebanyakan dengan syahwat kekuasaan, ambisius, ingin berkuasa dan terus menerus berkuasa seumur hidup. Namun manusia harus ingat dan menyadari, sesungguhnya betapa berat kewajiban, tugas, masalah yang diemban dan dihadapinya.
Dalam konteks ini, ada dua dimensi mendasar subtansial yang harus dijadikan landasan fundamental dalam menyikapi Sebuah Kekuasaan
Pertama, Bahwa sesungguhnya segala bentuk, materi, harta benda, kekayaan, pangkat, jabatan, kedudukan, kecerdasan, tak terkecuali kekuasaan yang disandang seseorang, hakikinya semuanya itu adalah Milik Sang Khaliq, Allah SWT semata.
Selainnya, bersifat sementara, nisbi, relatif yang pada saatnya pasti akan berakhir, sirna dan lenyap. Tidak ada yang kekal dan abadi selamanya. (An-Nahl : 96). Hanya Allah Sang Pemilik Tunggal Mutlak semuanya.
Sang Makhluk, termasuk manusia tak lebih hanya sebatas punya Hak Guna Pakai belaka, bukan Hak Milik sama sekali. Klimaks dan endingnya siapa, apa pun dan kapan pun pada saatnya pasti aka diambil kembali oleh Sang Maha Pemilik Mutlak, Allah SWT. (Al-Baqarah : 153).
Kedua, Bahwa kekuasaan, di samping anugerah sekaligus adalah Amanah. Sebuah kepercayaan agung, sakral, luhur, suci, mulia lagi terhormat yang harus ditunaikan dan dipelihara dengan sebenar-benar, sebaik-baik, sejujur, seadil-adilnya dan sepenuh kesadaran.
Sebaliknya, sekali-kali, tidak boleh berkhianat yang berarti sebuah kezaliman. Karena pada akhirnya semuanya akan dimintai pertanggung jawaban baik di hadapan manusia di dunia kini, maupun di hadapan Mahkamah Agung Allah di akhirat kelak.
(An-Nisa’ : 58)
Justru ini pula Umar bin Abdul Aziz, tidak melakukan pesta, hura-hura dan sebagainya, namun menangis di sepertiga malam dengan Tahajjud dan berdzikir. Inilah sebagai wujud syukur hakiki kepada Allah.
Ultimatum Istri Salehah
Seperti lazimnya, dengan berkuasanya Umar bin Abdul Aziz, mereka yang berkepentingan, berdatangan untuk memberikan berbagai upeti dan oleh-oleh yang tentu sangat menarik dan menggiurkan, seperti perhiasan emas, intan berlian dan lain-lain. Sebagai siasat atau trik semuanya diberikan lewat pintu belakang melalui isterinya, Fatimah. Mereka tahu betul, naluri seorang perempuan, kebanyakan menyenangi hadiah dan berbagai macam perhiasan memesona lainnya.
Mengetahui fenomena tersebut, Umar bin Abdul Aziz dengan tegas langsung mengultimatum Sang Istri.
Apakah memilih Khalifah atau segala macam upeti menggiurkan itu.
Namun ternyata jawaban istrinya, sungguh sangat menakjubkan yang jarang dilakukan oleh para istri pada umumnya.
Sebagai seorang istri Salehah dengan mantap dan cerdas dia lebih memilih suami, Amirul Mukminin dan tetap setia mendampingi, berjuang hingga akhir hayat.
Lantas Amirul Mukmin memerintahkan menjual segala hadiah tersebut. Kemudian hasilnya diserahkan ke Baitul Mal untuk diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu, para janda dan rakyat yang masih susah dan menderita. Walaupun legal, sah milik pribadi Amirul Mukminin, namun karena terindikasi gratifikasi, maka beliau dengan tegas menolaknya.
Sebuah orientasi kerakyatan yang kental, demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat semesta. Sebaliknya jauh dari sikap aji mumpung, bernafsu ingin memperkaya diri sendiri dengan mengeksploitasi jabatan atau kekuasaan yang dimiliki.
Aksi dan Komitmen Anti Korupsi
Gebrakan pertama yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz begitu diangkat sebagai Khalifah adalah membersihkan para Pejabat Zalim dan aparat bermasalah agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Kemudian menyerahkan seluruh hartanya ke Baitul Mal.
Berbarengan dengan itu Umar bin Abdul Aziz memulai dari dirinya terlebih dahulu, Ibda’ Binafsik sebagai Amirul Mukminin, Penguasa dengan akhlak dan moralitas tinggi, berani dan tegas, dalam menegakkan hukum dengan adil.
Tidak tebang pilih, tajam ke bawah tumpul ke atas. Terkena di mata dipicingkan, kena di perut dikempiskan. Tidak pandang bulu. Hatta kepada diri dan keluarga sendiri. Wabil khusus dalam memberantas Korupsi yang amat merusak dan menghancurkan itu.
Alkisah suatu malam Amirul Mukminin mendapat kunjungan anaknya. Begitu sampai di kediaman, beliau bertanya. Apakah ini urusan pribadi atau negara? Ketika anaknya menjawab bahwa ini urusan pribadi, langsung Amirul Mukminin mematikan lampu.
Beliau menegaskan karena ini urusan pribadi maka kamu tidak berhak atasnya. Karena lampu ini adalah fasilitas negara bukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga (KKN).
Pastinya, apa yang dilakukan Amirul Mukminin tidak bisa dilepaskan dari akhlak, kesalehan dan ketakwaan beliau. Di samping sebagai bukti kecintaan serta kesetiaan kepada Sang Idola, Panutan dan Teladan Agung, Rasulullah SAW (Mutaba’atan Nabi) yang terkenal dengan Akhlaq Al-Qur’an itu.
Dalam konteks ini, Rasulullah SAW dengan keras pernah mengancam, akan memotong tangan Fatimah Az-Zahra, bila putri kesayangannya itu mencuri.
Role Model Kepala Negara Anti Korupsi
Setelah Reformasi 1998, dengan tujuan utama adalah Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan Penegakan Demokrasi, Presiden silih berganti dari Habibi, Gus Dur, Megawati, SBY hingga Jokowi Widodo, nyaris tidak ada perubahan fundamental.
Justru dalam sepuluh tahun di era Jokowi, 2014-2024, dalam waktu relatif singkat, KKN semakin menjadi-jadi dan meraja lela tak terbendung bagai air bah.
Dia sebebasnya berakrobatik dan berselancar di atas penderitaan, kemiskinan, dan kesengsaraan rakyatnya sendiri, tanpa nurani dan rasa malu sama sekali, berkolaborasi dengan kaum Oligarki sadis tak manusiawi. Dia halalkan segala cara demi memenuhi syahwat kekuasaannya yang tak pernah puas. (Macheavely).
Salah satu tsunami politik yang sangat mengguncang negeri adalah keputusan MK yang diketuai Anwar Usman (adik ipar Jokowi), memaksakan Gibran sebagai Calon Wakil Presiden yang akhirnya digelari Anak Haram Konstitusi.
Selain itu, tak terbilang lagi ribuan triliun negara dikorupsi. Kekayaan negara yang kaya raya ini ludes habis terkuras. Bangsa ini menjadi bangkrut dan rakyatnya semakin miskin, susah dan melarat.
KPK sebagai sebuah Lembaga Super Bodi, Anti Rasuwah yang khusus didirikan untuk memberantas Korupsi, karena Lembaga Penegakan Hukum yang ada selama ini, semacam Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman dipandang tidak dapat berfungsi maksimal, menjadi lumpuh, tidak berdaya. Tidak terkecuali Lembaga Legislatif semacam DPR, juga tak berkutik dan tak lebih sekedar alat legitimasi Jokowi belaka.
Balada prilaku KKN Jokowi ini sangat terkenal luas menjadi santapan sehari-hari dengan tak henti-hentinya bergentayangan di dunia maya, medsos dan media maenstrim baik nasional maupun internasional. Siang malam Jokowi dihujat, dibully, diolok-olok, dihina rakyatnya sendiri akibat prilaku aji mumpung, Adigung adiluhung itu.
Menariknya dan yang membuat Jokowi terkejut bagaikan disambar petir di siang bolong, sebuah Lembaga Dunia (OCRRP) kredibel berpusat di Amsterdam yang khusus menginventarisasi Pemimpin Negara terkorup, menempatkan Jokowi final di rangking ke 3 Dunia. Walaupun Jokowi berjuang keras dengan mengerahkan pasukan buzzer dan influencernya untuk mengcounter opini negatif tersebut, tetapi ternyata gagal total.
Bak kata pepatah, “Nasi sudah menjadi bubur_Negeri Amburadul”.Maka berkaca dari realita dan fenomena kelam carut marut karena kejahatan korupsi (Extra Ordenary Crime) tersebut, maka kini saatnya Penguasa Negeri ini, Presiden Prabowo Subianto, segera action, bertindak konkrit, cepat, berani dan pasti untuk membasmi korupsi sampai ke akar-akarnya.
Koruptor harus dihukum seberat-berat dan seadil-adilnya tanpa pandang bulu.Untuk itu terlebih dahulu Presiden harus membersihkan orang-orang bermasalah, pecundang, pembisik, pengkhianat, munafik dan oportunis di sekelilingnya.
Dengan demikian Presiden akan bebas bertindak tanpa beban dan halangan apapun. Presiden harus dikawal dan didampingi oleh insan yang berakhlak mulia, berintegritas, bermoral dan bermental baja.
Yakinlah, rakyat pasti akan mendukung dan berada di belakang Bapak Presiden. Presiden Prabowo sesuai dengan janji dan pidatonya disaat Pelantikan Presiden pasti berani dan keras dalam memberantas korupsi dan menghukum para koruptor tanpa pandang bulu.
Korupsi Musuh Bersama
Sebab apabila korupsi berhasil dibasmi, maka tidak terhitung dan terbayangkan betapa besar asset negara dapat diselamatkan. Dengan kekayaan luar biasa tersebut, betapa makmur sejahteranya rakyat Indonesia seperti yang diidam-idamkan dan diamanatkan oleh Founding Father bangsa ini.
Jabatan Presiden itu adalah Amanah yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab demi menyelamatkan negeri ini dari dominasi Aseng dan Asing yang merajalela, terus berambisi ingin menguasai negeri yang berdaulat ini.
Rakyat percaya dan berhusnuzzan bahwa Presiden Prabowo tetap amanah, konsisten dan konsekwen. Sekali-kali tidak akan pernah menyalahi sesuai Janji dan Sumpah Jabatan
(Al-Anfal : 27).
Untuk itu patutlah kiranya Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz dijadikan sebagai Role Model Kepala Negara Anti Korupsi.
Dengan landasan akhlak mulia, moralitas dan integritas yang tinggi, bersih diri dan keluarga, beliau dengan gagah berani dan tanpa ragu tampil langsung sebagai Komando dalam membasmi korupsi dan segala bentuk penyelewengan lainnya.
Karena itu pula Umar bin Abdul Aziz dalam waktu relatif singkat, selama tiga tahun, (717-720) berhasil menjayakan negeri, memakmurkadan menyejahterakan rakyatnya. Atas prestasi yang gilang gemilang itu, Amirul Mukminin Umar Abdul Aziz diberikan Gelar Ar-Rasyidin sekaligus sebagai salah satu Khalifah Terbaik dalam sejarah pemerintahan Islam sejagad.
Semoga perjuangan bangsa Indonesia di bawah Komando Presiden Prabowo Subianto, berhasil, demi membebaskan negeri dari segala bentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme(KKN) yang sudah super kronis, menggurita, berurat berakar yang dapat menghancurkan dan meluluh lantakkan negeri yang kaya raya ini. Amin Ya Mujibas Sailin.
Penulis: Moersjied Qorie Indra
Tulisan adalah deskripsi Khutbah Jum’at di Masjid Al-Ikhlas, KPK-RI, 10 Rajab 1446 H/10 Januari 2025 M. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan