Beritabanten.com – Dari sebuah desa kecil di Mesir, Mohamed Salah menempuh perjalanan panjang untuk menjadi salah satu pesepak bola paling berpengaruh di dunia. Ia bukan pemain yang langsung menikmati kejayaan. Sebelum dikenal sebagai The Egyptian King atau Raja Mesir, Salah harus mengorbankan waktu, tenaga, dan masa mudanya untuk mengejar mimpi menjadi pemain profesional.
Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari fasilitas mewah. Terkadang, ia tumbuh dari ketekunan seorang anak desa yang berani bermimpi besar dan tidak menyerah ketika pintu kesempatan hampir tertutup.
Pada 2026, Salah telah menuntaskan sembilan musim bersejarah bersama Liverpool dan membuka babak baru kariernya di Trabzonspor, Turki. Perjalanan dari Mesir ke panggung sepak bola dunia itu menjadi kisah tentang bakat, disiplin, kegagalan, dan kebangkitan.
Masa Kecil: Mimpi Besar dari Desa Nagrig
Mohamed Salah Hamed Mahrous Ghaly lahir pada 15 Juni 1992 di Nagrig, sebuah desa di Provinsi Gharbia, Mesir. Ia tumbuh jauh dari gemerlap stadion sepak bola Eropa. Sejak kecil, Salah sudah mencintai sepak bola dan mengidolakan pemain-pemain besar, termasuk Ronaldo asal Brasil, Zinedine Zidane, dan Francesco Totti.
Namun, perjalanan menuju sepak bola profesional tidak berlangsung mudah. Pada usia 14 tahun, Salah bergabung dengan akademi El Mokawloon, klub yang juga dikenal sebagai Arab Contractors. Untuk mengikuti latihan di Kairo, ia harus menempuh perjalanan panjang dari kampung halamannya.
Dalam sebuah wawancara yang dimuat Liverpool FC, Salah mengenang bahwa perjalanan menuju tempat latihan bisa memakan waktu empat hingga empat setengah jam. Ia bahkan harus meninggalkan sekolah lebih awal agar bisa berlatih. Perjalanan itu dilakoninya lima hari seminggu selama bertahun-tahun.
Ia berganti kendaraan beberapa kali, berangkat pada pagi hari dan baru tiba di rumah sekitar pukul 22.00 atau 22.30. Rutinitas melelahkan tersebut menjadi harga yang harus dibayar seorang anak desa demi meraih cita-cita.
Salah tidak lahir sebagai bintang. Ia membangun masa depannya melalui latihan, pengorbanan, dan keberanian mempertahankan mimpi ketika banyak hal belum memberikan kepastian.
Karier Perdana di Mesir: Pintu Menuju Eropa
Kerja keras Salah mulai membuahkan hasil ketika ia mendapatkan kesempatan memperkuat tim senior El Mokawloon pada musim 2009–2010. Saat itu, usianya baru sekitar 17 tahun.
Pada musim berikutnya, ia mulai mendapatkan tempat lebih kuat dalam tim utama dan mencetak gol pertamanya di kompetisi kasta tertinggi Mesir saat menghadapi Al-Ahly pada Desember 2010.
Kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta ketajamannya di depan gawang membuat Salah mulai menarik perhatian. Pada 2011, ia memperoleh kesempatan memperkuat tim nasional senior Mesir.
Kariernya kemudian mendapatkan momentum penting pada 2012. Ketika kompetisi domestik Mesir terganggu setelah tragedi Stadion Port Said, tim nasional U-23 Mesir menjalani pertandingan persahabatan melawan FC Basel dari Swiss.
Salah mencetak dua gol setelah masuk sebagai pemain pengganti. Penampilan tersebut membuat Basel semakin yakin terhadap potensinya dan merekrutnya pada tahun yang sama.
Di Swiss, Salah berkembang pesat. Ia membantu Basel menjuarai Liga Super Swiss dan tampil mengesankan di kompetisi Eropa. Penampilannya melawan klub-klub Inggris, termasuk Tottenham Hotspur dan Chelsea, memperkuat reputasinya sebagai pemain muda yang layak diperhitungkan.
Basel menjadi batu loncatan yang mengubah perjalanan karier Salah dari pemain muda Mesir menjadi talenta yang dipantau klub-klub besar Eropa.
Chelsea: Ujian Pertama di Liga Inggris
Pada Januari 2014, Chelsea merekrut Salah. Kepindahan itu seharusnya menjadi pintu masuk menuju kejayaan di Liga Inggris. Namun, kenyataan yang dihadapinya justru tidak mudah.
Salah kesulitan mendapatkan kesempatan bermain reguler. Persaingan ketat di skuad Chelsea membuatnya lebih sering berada di luar susunan utama. Ia tidak memperoleh ruang yang cukup untuk menunjukkan seluruh kemampuannya.
Situasi tersebut menjadi salah satu periode penting dalam pembentukan mentalnya. Seorang pemain muda yang telah berjuang keras di Mesir harus menerima kenyataan bahwa bergabung dengan klub besar tidak otomatis menjamin keberhasilan.
Chelsea kemudian meminjamkannya ke Fiorentina pada 2015. Di Italia, Salah mulai menemukan kembali kepercayaan diri. Kecepatan dan kemampuan menyerangnya membuat ia kembali diperhitungkan.
Setelah itu, ia bergabung dengan AS Roma. Bersama klub ibu kota Italia tersebut, Salah menunjukkan perkembangan signifikan dan mencetak gol secara konsisten. Roma akhirnya mempermanenkan statusnya pada 2016.
Pengalaman di Italia mengubah Salah menjadi penyerang yang lebih matang. Ia tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga memperbaiki pergerakan tanpa bola, penyelesaian akhir, dan kemampuannya membaca permainan.
Kegagalan mendapatkan tempat di Chelsea tidak mengakhiri kariernya. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi bagian dari proses yang membawanya kembali ke Inggris dengan kualitas yang jauh lebih baik.
Liverpool: Lahirnya Sang Raja Mesir
Pada Juni 2017, Liverpool merekrut Salah dari AS Roma. Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu transfer paling berpengaruh dalam sejarah modern klub berjuluk The Reds itu.
Salah langsung menunjukkan ketajamannya. Pada musim debut 2017–2018, ia mencetak 32 gol dalam satu musim Liga Inggris yang berisi 38 pertandingan. Catatan tersebut memecahkan rekor gol dalam satu musim Premier League dengan format 38 pertandingan pada masa itu.
Namanya semakin dikenal setelah mencetak gol demi gol melalui kombinasi kecepatan, pergerakan dari sisi kanan, dan tembakan kaki kiri yang akurat.
Julukan The Egyptian King atau Raja Mesir kemudian melekat pada dirinya. Bagi suporter Liverpool, Salah bukan sekadar pemain yang produktif, melainkan simbol kebangkitan klub untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Pada musim 2018–2019, Salah membantu Liverpool menjuarai Liga Champions setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Ia mencetak gol melalui tendangan penalti pada awal pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2-0 bagi Liverpool.
Semusim kemudian, Liverpool menjuarai Liga Inggris 2019–2020. Gelar tersebut mengakhiri penantian panjang selama 30 tahun untuk kembali menjadi juara liga tertinggi Inggris.
Salah juga membantu Liverpool meraih Piala Dunia Antarklub FIFA, Piala Super Eropa, Piala FA, serta Piala Liga Inggris. Pada musim 2024–2025, ia kembali berperan besar dalam keberhasilan Liverpool menjuarai Premier League.
Liverpool kemudian mengonfirmasi bahwa Salah akan mengakhiri masa baktinya pada akhir musim 2025–2026. Selama sembilan musim, ia mencatatkan 442 penampilan dan 257 gol di semua kompetisi bersama klub tersebut.
Catatan itu menempatkannya di antara pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liverpool. Ia juga meraih empat penghargaan Sepatu Emas Premier League dan berbagai penghargaan individu lainnya.
Warisan Salah di Anfield tidak hanya berupa trofi. Ia ikut membangun era ketika Liverpool kembali menjadi kekuatan utama sepak bola Inggris dan Eropa.
Tim Nasional Mesir: Kebanggaan Sebuah Bangsa
Di luar kiprahnya bersama klub, Salah memiliki posisi istimewa dalam sepak bola Mesir. Ia menjadi wajah utama tim nasional dan salah satu figur olahraga paling populer di Afrika.
Salah berperan penting membawa Mesir lolos ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Keberhasilan tersebut mengakhiri penantian panjang sejak penampilan terakhir Mesir di Piala Dunia 1990.
Salah mencetak dua gol dalam perjalanan kualifikasi yang menentukan, termasuk penalti pada menit-menit akhir melawan Kongo yang memastikan tiket Mesir ke putaran final.
Di Piala Dunia 2018, ia mencetak gol untuk Mesir, meskipun timnya tidak berhasil melaju jauh dalam turnamen tersebut.
Ia juga membantu Mesir mencapai final Piala Afrika pada 2017 dan 2021. Meski belum berhasil mempersembahkan gelar juara turnamen tersebut, perannya dalam menjaga daya saing tim nasional tetap penting.
Bagi banyak warga Mesir, Salah merupakan simbol bahwa pemain dari negara Afrika dan dunia Arab dapat mencapai puncak sepak bola internasional melalui kerja keras dan kemampuan bersaing.
Kehidupan Keluarga: Magi, Dua Putri, dan Seorang Putra
Di tengah sorotan dunia, Salah berusaha menjaga kehidupan pribadinya tetap sederhana. Ia menikahi Magi Sadeq pada 2013. Keduanya berasal dari Nagrig dan telah saling mengenal sejak masa sekolah.
Magi dikenal tidak banyak tampil di ruang publik. Ia lebih memilih menjaga privasi keluarga dan mendukung perjalanan karier suaminya dari belakang layar.
Salah dan Magi dikaruniai dua putri, Makka yang lahir pada 2014 dan Kayan pada 2020. Pada September 2026, keluarga mereka bertambah dengan kelahiran putra pertama bernama Leil.
Kehidupan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan Salah. Di balik jadwal pertandingan, perjalanan internasional, dan tuntutan sebagai atlet profesional, ia tetap berusaha menyediakan ruang bagi istri dan anak-anaknya.
Salah juga dikenal memiliki ikatan kuat dengan kampung halamannya. Ia kerap dikaitkan dengan berbagai kegiatan amal untuk membantu masyarakat Nagrig, termasuk dukungan bagi warga yang membutuhkan dan fasilitas pelayanan sosial.
Kepedulian tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh seorang atlet tidak selalu berhenti ketika pertandingan berakhir. Ketika popularitas digunakan untuk membantu sesama, prestasi olahraga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Babak Baru: Dari Liverpool ke Trabzonspor
Pada 2026, Salah memasuki babak baru dalam kariernya setelah meninggalkan Liverpool. Ia bergabung dengan Trabzonspor, klub sepak bola Turki yang berkompetisi di Süper Lig.
Kepindahan tersebut menandai berakhirnya satu era di Liverpool sekaligus dimulainya tantangan baru bagi pemain yang telah berusia 34 tahun.
Menurut laporan Anadolu Agency pada Agustus 2026, kepindahan Salah ke Trabzonspor menjadi perkembangan besar dalam kariernya setelah sembilan musim di Inggris. Ia membawa pengalaman panjang dari kompetisi elite Eropa, termasuk Liga Champions dan persaingan Premier League.
Pada awal musim di Turki, Salah langsung menunjukkan kontribusi melalui gol dan assist. Laporan beIN SPORTS pada September 2026 menyebut ia mencetak empat gol dalam empat penampilan awalnya di Süper Lig.
Kehadirannya juga menarik perhatian suporter dan meningkatkan antusiasme terhadap Trabzonspor. Pengalaman Salah diharapkan membantu klub bersaing di papan atas sekaligus memberikan pengaruh kepada pemain-pemain lain.
Di tingkat internasional, Salah tetap menjadi figur penting bagi Mesir. Pengalamannya sebagai kapten dan pemain senior memberikan nilai tambah bagi tim nasional yang terus berupaya meningkatkan prestasi di kompetisi dunia.
Dengan demikian, Salah kini bukan lagi sekadar mantan bintang Liverpool. Ia merupakan pemain senior yang tengah menjalani fase baru karier profesionalnya bersama Trabzonspor, sembari mempertahankan perannya sebagai ikon sepak bola Mesir.
Warisan Sang Raja Mesir
Kisah Mohamed Salah menunjukkan bahwa jalan menuju kejayaan tidak selalu lurus. Ia pernah menghadapi perjalanan panjang dari desa ke tempat latihan, kesulitan mendapatkan tempat di Chelsea, serta tuntutan besar ketika harus membuktikan diri di klub elite.
Namun, ia tidak berhenti pada kegagalan. Pengalaman di Basel dan Roma membentuknya menjadi pemain yang lebih matang, sementara Liverpool menjadi panggung tempat ia mengukuhkan namanya dalam sejarah sepak bola dunia.
Salah juga memberikan pesan penting bagi generasi muda: bakat perlu disertai disiplin, ketekunan, dan kesediaan untuk terus belajar. Kesempatan besar tidak selalu datang pada waktu yang tepat, tetapi persiapan dapat membuat seseorang siap ketika kesempatan itu tiba.
Dari Nagrig hingga Anfield, lalu ke Trabzonspor, Salah membuktikan bahwa seorang anak desa dapat menembus batas geografis dan sosial untuk mencapai panggung dunia.
Ia mungkin kelak tidak lagi berlari secepat masa mudanya. Namun, prestasi, rekor, dan perjalanan hidupnya akan tetap menjadi bagian dari sejarah sepak bola modern.
Bagi Mesir, ia adalah kebanggaan nasional. Bagi Liverpool, ia adalah legenda. Bagi para pencinta sepak bola, Mohamed Salah adalah pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan bisa menjadi awal dari kebangkitan yang jauh lebih besar. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan